Ada kejadian yang sangat kita kenal dalam kisah Injil hari ini—sesuatu yang benar-benar kita alami di zaman sekarang.
Dalam Injil Matius 28:8-15, setelah peristiwa kebangkitan Yesus Kristus, terjadi sebuah hal yang jarang kita renungkan secara serius: lahirnya hoaks pertama dalam sejarah Kekristenan – setidaknya menurut saya.
Para penjaga kubur bukan tidak tahu apa yang terjadi. Mereka melihat. Mereka mengalami. Mereka bahkan gemetar karena peristiwa itu. Namun, apa yang mereka lakukan setelah itu?
Mereka pergi kepada para pemimpin agama—dan di sanalah kebenaran mulai diperdagangkan.
Disepakati sebuah cerita:
bahwa murid-murid Yesus datang pada malam hari dan mencuri tubuh-Nya saat para penjaga tidur.
Masalahnya sederhana:
jika mereka tidur, bagaimana mereka tahu siapa yang mencuri?
Tetapi di sinilah logika tidak lagi penting. Yang penting adalah mengendalikan narasi.
Renungan hari ini mengajak kita melihat satu kenyataan :
kebohongan sering kali bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari ketakutan dan kepentingan.
Kebangkitan Yesus adalah kebenaran yang terlalu mengguncang. Jika itu benar, maka:
- kekuasaan lama runtuh
- cara hidup lama harus berubah
- hati manusia harus bertobat
Dan itu menakutkan.
Karena itu, daripada berubah, lebih mudah menciptakan cerita lain.
Jika kita jujur, kisah ini bukan hanya tentang para penjaga atau para imam zaman dulu. Ini adalah cermin bagi kita hari ini.
Berapa kali kita juga:
- tahu kebenaran, tetapi memilih diam?
- melihat yang benar, tetapi menyebarkan yang “lebih nyaman”?
- membiarkan kebohongan hidup karena menguntungkan kita?
Hoaks tidak selalu berupa berita besar. Kadang ia hadir dalam bentuk kecil:
- pembenaran diri
- manipulasi cerita
- setengah kebenaran
Dan tanpa sadar, kita ikut ambil bagian di dalamnya.
Di sisi lain, ada kelompok kecil: para perempuan yang berlari dari kubur. Mereka tidak punya kekuasaan, tidak punya strategi komunikasi, bahkan masih penuh takut. Tetapi mereka memiliki satu hal: kejujuran hati terhadap pengalaman mereka.
Mereka tidak mengendalikan cerita. Mereka membawa kebenaran, meskipun belum sepenuhnya mereka pahami.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dengan berbagai informasi hari ini—di mana hoaks (kebohongan) bisa menyebar lebih cepat daripada kebenaran—cerita Injil ini menjadi sangat relevan.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah hoaks itu ada?”
Tetapi:
“Di pihak mana aku berdiri?”
Apakah aku bagian dari mereka yang:
- memutarbalikkan fakta demi kenyamanan?
- atau menyuarakan kebenaran, meski tidak populer?
Kebangkitan Kristus bukan hanya kabar iman. Ia adalah ujian kejujuran.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya soal benar atau salah, tetapi apakah kita berani hidup dalam terang, atau memilih bersembunyi dalam cerita yang kita buat sendiri.
