MAGELANG — Jauh sebelum Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik Laudato Si’ pada 2015, SD Kanisius Kenalan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sudah mengajak murid-muridnya belajar dari alam dan kehidupan sehari-hari.
Sekolah yang berada di kawasan pedesaan itu mengembangkan pendidikan lingkungan bukan karena ensiklik tersebut. Kepedulian itu tumbuh dari kebutuhan sekolah dan kehidupan masyarakat di sekitarnya yang lekat dengan pertanian, peternakan, sumber air, tanah, dan tradisi Jawa.
Yosef Onesimus Maryono, Kepala SD Kanisius Kenalan pada Juli 2016-Juli 2026, mengatakan sekolah mulai memperkuat identitas sebagai sekolah yang peduli lingkungan sekitar 2011. Ketika itu jumlah murid menurun hingga kurang dari 75 anak. Ancaman penutupan pun membayangi.
“Bukan karena kami mempelajari Laudato Si’ lalu membuat program-program ini,” kata Onesimus.
Laudato Si’ baru terbit pada 2015. Beberapa kegiatan lingkungan di sekolah itu bahkan telah berjalan bertahun-tahun sebelumnya.
Sekolah kemudian mencari ciri yang membuatnya berbeda dan tetap dibutuhkan masyarakat. Salah satunya dengan menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai identitas sekolah.
“Sekolah harus punya sesuatu yang khas, sesuatu yang istimewa—tidak sekadar sama seperti sekolah lain, tetapi memiliki perhatian tertentu,” ujar Onesimus.
Pilihan itu terasa alami. Kehidupan warga Kenalan memang tidak jauh dari sawah dan ternak. Sekolah pun memasukkan pertanian, berkebun, pembuatan kompos, dan kegiatan lain yang bersentuhan dengan alam ke dalam proses belajar.
Belajar dari Lingkungan
Bagi sekolah, belajar tidak berhenti di dalam kelas. Anak-anak justru diajak membaca kehidupan yang ada di sekitar mereka.
Dari pendekatan itu lahir Republik Anak Kenalan, sebuah komunitas yang memberi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kegiatan berdasarkan lingkungan dan kehidupan mereka.
Pemanfaatan barang bekas, misalnya, sudah dilakukan sejak sekitar 2008. Barang-barang yang tidak terpakai diubah menjadi kerajinan, bahkan alat musik. Kegiatan itu kemudian ikut memperkenalkan sekolah kepada masyarakat.
Pertanian juga telah dikembangkan sebelum 2011 dan kemudian menjadi kegiatan ekstrakurikuler. Anak-anak yang tertarik pada pertanian dapat belajar menanam dan merawat tanaman.
Mereka juga belajar memelihara kambing. Anak-anak diberi tanggung jawab memberi makan dan merawat hewan tersebut.
Kotoran kambing tidak dibuang begitu saja. Sekolah mengolahnya menjadi pupuk untuk kebun.
Dari situ anak-anak belajar tentang sebuah siklus sederhana: kambing menghasilkan kotoran, kotoran menjadi pupuk, pupuk menyuburkan tanaman.
Alam, dengan demikian, bukan sekadar bahan pelajaran. Ia menjadi ruang belajar itu sendiri.
Ketika Laudato Si’ Terbit
Ketika Laudato Si’ terbit pada 2015, SD Kanisius Kenalan sudah menjalankan sejumlah praktik yang sejalan dengan kepedulian ensiklik itu terhadap lingkungan.
“Ketika Paus menyampaikan Laudato Si’, kami sudah melakukan beberapa hal ini,” kata Onesimus.
Ensiklik tersebut kemudian memberi kerangka yang lebih luas bagi sekolah untuk memahami dan mengembangkan pengalaman yang telah mereka jalankan. Kepedulian terhadap lingkungan semakin masuk ke dalam kegiatan belajar dan dikaitkan dengan gagasan merawat rumah bersama.
Salah satu programnya adalah Tilik Belik.
Istilah itu berasal dari bahasa Jawa. Tilik berarti mengunjungi atau melihat, sedangkan belik berarti mata air atau sumber air. Sederhananya, Tilik Belik berarti mengunjungi sumber air.
Program yang dikembangkan sekitar 2012 itu berkaitan dengan Hari Air Sedunia pada 22 Maret. Anak-anak diajak mendatangi mata air di sekitar sekolah. Di sana, guru mengembangkan berbagai kegiatan belajar.
Mata air berubah menjadi kelas terbuka. Anak-anak mengamati tumbuhan dan hewan, vegetasi yang melindungi sumber air, kondisi mata air, serta berbagai jenis batuan. Mereka juga belajar matematika melalui pengukuran debit dan volume air.
Setelah itu, hasil pengamatan dibawa kembali ke kelas untuk dipelajari.
Menurut Onesimus, pola semacam itu sudah diterapkan jauh sebelum istilah deep learning atau pembelajaran berbasis proyek ramai digunakan. Anak-anak belajar dengan mengalami langsung apa yang mereka pelajari.
Menjelajah Hutan dan Lahan
Program lain adalah Sabawana, yang memanfaatkan alam, hutan, dan lahan pertanian sebagai ruang belajar.
Nama Sabawana juga berasal dari bahasa Jawa. Saba berarti pergi atau bepergian, sedangkan wana berarti hutan.
Kegiatan ini dikembangkan sekitar Hari Bumi pada 23 April. Anak-anak diajak mengamati lahan pertanian, kebun rumah, tanaman produktif, petani, hingga kondisi tanah.
Mereka tidak sekadar diajak berjalan-jalan di luar sekolah. Alam dijadikan tempat untuk mengalami langsung hubungan antara tanah, tanaman, hewan, petani, dan kehidupan masyarakat.
Materinya disesuaikan dengan usia siswa. Anak-anak kelas rendah mendapat pengalaman yang berbeda dari siswa yang lebih besar.
Hal serupa dilakukan di sekitar sungai. Anak-anak mengamati air, batu, hewan air, dan ekosistem di sekitarnya.
Prinsipnya sederhana: anak belajar dari apa yang tersedia di lingkungan tempat mereka hidup.
Dari Kebun ke Meja Makan
Pendidikan lingkungan kemudian berkembang ke kebun sekolah.
Sekolah memanfaatkan lahan yang ada, termasuk polibag, untuk menanam berbagai tanaman. Program ini mulai berkembang sekitar 2017 dan terus berjalan, antara lain melalui rumah kaca mini.
Namun, tujuan utamanya bukan mencari keuntungan.
Yang penting bagi Onesimus adalah pengalaman anak mengikuti seluruh proses: menanam, merawat, memanen, hingga mengonsumsi hasilnya.
Anak-anak belajar bahwa makanan yang tersedia di meja tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang, tenaga manusia, dan kepedulian terhadap lingkungan di baliknya.
Kotoran kambing yang digunakan sebagai pupuk menjadi contoh nyata. Anak-anak melihat sendiri bagaimana sesuatu yang semula dianggap limbah dapat kembali ke tanah dan membantu tanaman tumbuh.
Program itu juga melibatkan keluarga. Orang tua diajak belajar menanam, membuat pupuk, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah.
Sekolah mengaitkan kebun rumah dengan gagasan kemandirian pangan. Keluarga didorong memanfaatkan lahan dan sumber daya yang ada agar tidak sepenuhnya bergantung pada pangan dari luar komunitas.
Guru berperan sebagai pendamping, bukan sekadar pemberi informasi. Mereka ikut menemani kelompok orang tua belajar dan mengembangkan kegiatan.
Mengurangi Jajan, Mengurangi Plastik
Pendidikan lingkungan di SD Kanisius Kenalan juga hadir melalui kebiasaan sederhana.
Anak-anak didorong tidak membeli jajanan di sekolah. Selain mengajarkan hidup hemat, kebiasaan itu bertujuan mengurangi sampah, terutama kemasan plastik makanan dan minuman.
Anak-anak diminta membawa kebutuhan mereka dari rumah. Dengan begitu, kegiatan di sekolah tidak menambah sampah plastik dari kemasan sekali pakai.
Sesekali mereka membawa makanan yang dibungkus daun pisang. Dalam acara sekolah, makanan juga dapat disajikan menggunakan daun, bukan kemasan sekali pakai.
Dari kebiasaan sederhana itu anak-anak belajar bahwa pilihan sehari-hari memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Belajar dari Musim
Sekolah juga memasukkan pranata mangsa, kearifan tradisional Jawa dalam membaca musim, ke dalam pendidikan.
Pranata mangsa digunakan masyarakat Jawa untuk memahami pola musim dan menentukan waktu yang tepat untuk kegiatan pertanian.
Bagi SD Kanisius Kenalan, pengetahuan tersebut menjadi jembatan antara pendidikan dan kehidupan masyarakat sekitar.
Kegiatan belajar, jika memungkinkan, disesuaikan dengan musim yang sedang berlangsung. Anak-anak mempelajari bagaimana perubahan musim memengaruhi tanaman dan kegiatan pertanian, sekaligus mengenal cara masyarakat sejak dahulu membaca alam untuk mengatur kehidupan mereka.
Di sini pendidikan lingkungan bertemu dengan pendidikan budaya.
Anak-anak tidak hanya belajar tentang alam melalui ilmu pengetahuan, tetapi juga mengenal pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lingkungan sebagai Kebiasaan Hidup
Di SD Kanisius Kenalan, kepedulian terhadap lingkungan akhirnya tidak berhenti sebagai proyek atau mata pelajaran.
Ia hadir dalam kebiasaan sehari-hari: berkebun, merawat kambing, mengolah kotoran ternak menjadi pupuk, mengunjungi mata air, menjelajah alam, mengamati sungai dan tanah, mengembangkan kebun rumah, mengurangi plastik, menghindari pembelian yang tidak perlu, hingga memahami pranata mangsa.
Semua itu mempertemukan kebiasaan sehari-hari, perkembangan pribadi anak, dan pembelajaran akademik.
Pengalaman sekolah ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus dimulai dari sebuah program yang memiliki nama resmi. Ia bisa tumbuh dari kemampuan sekolah membaca kehidupan anak, masyarakat, dan lingkungan tempat mereka berada.
Di Kenalan, lingkungan bukan sekadar topik di dalam buku pelajaran. Lingkungan menjadi tempat anak belajar, mengalami, berefleksi, dan memahami hubungan antara kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah.
Ketika Laudato Si’ kemudian mengajak dunia merawat “rumah kita bersama”, SD Kanisius Kenalan sudah lebih dulu menjalankan kepedulian itu melalui kehidupan sehari-hari: pertanian, peternakan, air, tanah, pangan, kebun, pengurangan plastik, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat.
Yang dibangun sekolah itu pada akhirnya bukan sekadar program lingkungan.
Ia menjadi kebiasaan hidup—sebuah cara mengajarkan kepada anak bahwa manusia tidak hidup terpisah dari alam, melainkan berdampingan dengannya.


























