Sepuluh tahun pertama De Britto dalam dua tulisan lawas
Mas Bro, gue mau cerita sedikit.
Gue nggak sengaja nemu dua terbitan lawas boso Londo. Trus pasti gue baca dong. Wong boso ne eyang gue.
Di dalemnya ada tulisan tentang Kolese De Britto, satu dari 1957, satu lagi dari 1958. Dua-duanya ditulis Pater R. van Thiel SJ.
Tadinya gue pikir gue sudah tahu cerita tentang JB. Ternyata….Gue nulis ke Mas Bro, karena tulisan P. van Thiel berkesan banget. Ni, Gue ceritain pake bahasa gue ya.

Jadi, De Britto itu mulai beraktivitas tanggal 19 Agustus 1948. Timingnya pas Jogja ngerayain 200 tahun tuh. JB waktu itu jadi SMA Katolik pertama di Jogja. Dimulainya dengan 62 siswa, dibagi kelas A dan B.
P. Thiel SJ nulis, mendirikan De Britto waktu itu adalah “a leap into the unknown”. Indonesia baru aja merdeka. Situasi sosial, politik, ekonomi masih kacau, tapi para Jesuit tetep ngotot bikin sekolah di tengah kondisi seperti itu. Mungkin di antaranya juga Mgr. Soegijapranata SJ.
Gagasan mereka simpel, kaum muda Indonesia dari banyak daerah harus terdidik jadi intelektual. Sekolah harus dibuka padahal banyak yang belum tersedia. Hubungan dengan Belanda waktu itu sudah putus. Pemerintah Indonesia sudah berdiri sendiri. Yang bantu siapin tempat adalah Mgr Soegijapranata SJ. Rumah Paroki Bintaran disiapin jadi delapan ruang kelas. Terus Bruder B. Djendrasoesanto SJ dapet ruang tambahan termasuk di hotel tua.
Baru Desember 1949 berkat upaya P. Schouten SJ turun keputusan kalau ada subsidi dari Bapak Mangunsarkara, Menteri Pendidikan waktu itu. Tapi ya subsidi ini tetep ga cukup buat bayar biaya operasional gaji guru, gedung, perlengkapan.
Tapi, sekolahnya laku Bro. Tahun 1956 jumlah siswanya sudah mencapai 18 kelas dan asrama. Jadi JB waktu itu beroperasi pakai total 7 gedung besar kecil. Asrama dibutuhin buat nampung 68 orang dari luar daerah seperti Sumut, Bali, Nias, Timor, Sumsel.

P. Thiel cerita, di JB ada anak yang berasal dari keluarga prasejahtera di Bali. Ada anak asal Nias yang cita-citanya jadi pemimpin politik dan bekerja bagi gereja dan negara. Ada yang dari Timor yang mau ambil jurusan ekonomi karena mau bikin bisnis industri. Ada juga seorang Muslim dari Sumsel yang pingin jadi dokter. Ada case, seorang anak berdarah Jawa yang dibaptis pas di JB, terus diusir keluarganya, dan ditampung. Akhirnya tinggal sama gurunya. Abis lulus, ngajar di seminari di Borneo (Kalimantan. Kali aja MasBro gatau). Diceritain juga, tahun 1957 itu ada yang lagi ujian jadi insinyur dan dokter.

Sejak 1951-1957 jebolan De Britto ada 543 orang. Infonya ada 15 orang masuk seminari, tapi ga ditulis seminari mana, trus jadi romo apa nggak. Banyak juga yang jadi guru di sekolah sekolah Katolik. Nah yang keren, ternyata banyak alumni yang sudah kerja, tapi terus atur waktu bantu almamater ngajar di JB. Tingkat kelulusannya paling tinggi dibanding rata-rata SMA di Jogja. Dan tiap tahun skor salah satu jurusan De Britto pasti tertinggi di antara SMA lain. Lulusannya ada yang masuk seminari, sekolah kedokteran & insinyur.
Tahun 1957, siswa JB jumlahnya hampir 700 orang, 400 diantaranya itu Katolik. Ini masih nempatin bangunan yang katanya udah ga pantes. So, JB sekarang harus bisa bersaing dengan sekolah negeri yang dibiayai pemerintah. Fasilitas fisik harus dibikin baru. Kalau nggak, para ortu pasti akan milih nyekolahin anaknya di sekolah biasa yang fasilitasnya jauh lebih bagus.
Para Jesuit berpendapat udah waktunya JB punya gedung dengan lab. fisika kimia, gymnasium (ruang olah raga kalo Mas Bro gatau), aula, kapel sekaligus rumah buat para Jesuit. Eksis di Jogja ini penting karena Jogja adalah kota Istimewa dari banyak aspek.
Mulai deh tuh, istilahnya sekarang panitia pembangunannya Gaspol. Hahaha. Yang keren, planning dimulai bulan Mei1957 dibantuin Pater J. van Wayenburg SJ, Rektor Canisius. Bulan September udah mulai macul, trus tanggal 1 Agustus 1958 gedung baru mulai dipakai sekolah. Tanggal 28 Agustus 1958 diresmikan.
Nah, duitnya dari mana? Jumlah dana yang dicari 100.000 gulden. Yaaa kira-kira sekitar 20 Miliar duit sekarang. Salah satu dan pertama yang disasar itu umat Katolik di Belanda. Salah duanya dari mana? Ya pasti bantingan para sahabat Jesuit di Indonesia. Dapet duitnya berapa ga diceritain. Rahasia dapur.
Pelaksananya siapa aja? Arsiteknya, Tan Hwat Sing; Kontraktornya P.Wayenburg SJ; mandor hariannya P. de Laat SJ.
Yang didevelop itu gedung 17 ruang kelas, lab. gambar, fisika dan kimia, kantor, ruang administrasi, pos keamanan, lapangan olahraga, dan Jesuit residence (pake istilah jaman now), di atas lahan yang gedenya 2,5 hektar lebih. Dan yang mberkatin Mgr Soegijapranata SJ.

Pas peresmian, jumlah murid JB ada 700 orang yang 60 persennya Katolik, dan 30 guru yang banyak alumni De Britto sendiri.
Upacara Peresmiannya keren Bro ! Imagine this scene. Pas Mgr. Soegijapranata mberkatin salib salib di lapangan, paduan suara para lanang Schola Cantorum, nyanyi Veni Creator bareng hadirin. Terus, 18 orang ketua kelas maju, berlutut, masing-masing nerima salib langsung dari Mgr. Soegija. Tiap ketua kelas barengan temen-temen sekelasnya jalan masuk ke kelas, pasang salib di kelas mereka masing-masing. Mereka semua berlutut pas Mgr.Soegija masuk dan memberkati mereka. Sayang ga di video ya.

Sumber: De kroon op het werk — Missienieuws, 1958, hlm. 277.
Ada lagi yang keren. Di sesi pidato, Ketua PPSK (Osis Bro) Namanya Imam Santosa disuru maju pidato. Plis jangan nanya. Gue gatau dia ngomong apa. Pasti tengkiu-tengkiu gitulah. Gamungkin ngomongin WUJA dong.
Inti pesan Mgr Soegija :“de noodzakelijkheid van de inplanting van het Godsgeloof in de ziel van de jeugdige Indonesiër” – “Pentingnya menanam iman kepercayaan pada Tuhan pada kaum muda Indonesia”.
Kelar upacara, its party time. 200 kepala keluarga dari sekitar diundang ikut slametan. Lanjut Wayang’an (kalau sekarang DJ turun) yang ditonton ratusan orang sampai jam 5 pagi.
Mas Bro, maksud gue nulis skali lagi bukan untuk cerita tentang sekolah yang sepuluh tahun pertama dimulai di Paroki dengan bangunan tua, atap bocor, lantai goyang, dinding bambu, menempati kampus yang baru & luas.
Di semua peristiwa tadi, kalo gue renungin en imajinasikan, sebenernya ada banyak kisah, tentang begitu banyak orang dan values mereka.
Cerita tentang mereka yang punya visi, dan percaya pada sebuah misi.
Cerita tentang keluarga dan anak-anak yang berpengharapan.
Cerita tentang orang-orang yang terpanggil.
Pada bangunan yang berdiri, pada nama besar Serikat dan sekolah, tersimpan cerita dan values seperti responsibility, persistence, courage, hope, faith, agility, struggle, sacrifice, resourcefullness, dedication, comunnity, excellence, dan service. Kalo gue ditanya JB itu apa? Jawaban gue ya semua values yang disebut diatas.
P. van Thiel nulis sebuah kalimat di akhir artikelnya “Het Kroon Op Het Werk”: De Britto siap menjalankan tugasnya untuk masa depan. Gue sih percaya. Udah ada track recordnya.
Udahan dulu ya Bro, mau nyuci baju. Jangan lupa mbales ya. Masih punya perangko khan?
