Sabtu, 25 Januari 2025 – Perjalanan Pertobatan yang Mengubah Dunia
Pertobatan adalah sebuah misteri agung di mana kasih Allah merengkuh manusia, mengubah hati yang keras menjadi wadah rahmat. Dalam perikop Kisah Para Rasul 22:3-16 dan Markus 16:15-18, kita diundang untuk merenungkan perjalanan transformasi hidup Santo Paulus dan misi penginjilan yang dipercayakan kepada para murid Yesus. Kedua bacaan ini seolah berdansa bersama dalam harmoni teologis, mengajarkan kepada kita tentang kuasa kasih dan panggilan untuk menyebarkan kabar baik kepada seluruh ciptaan.
Paulus, sebelumnya Saulus, dikenal sebagai penganiaya jemaat. Ia adalah seorang Farisi, murid Gamaliel, yang sangat bersemangat dalam menjaga tradisi Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul 22:3-16, kita menyaksikan kisah pertobatannya yang luar biasa. Saat ia sedang menuju Damaskus dengan niat menghancurkan gereja Tuhan, tiba-tiba terang menyilaukan jatuh dari langit, merubuhkan dirinya, baik secara fisik maupun spiritual. Suara yang penuh otoritas bertanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Pertanyaan ini memecah kebekuan hatinya. Saulus bertanya dengan penuh kebingungan, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Jawaban itu mengejutkan: “Akulah Yesus dari Nazaret, yang kau aniaya.” Momen ini adalah awal dari revolusi batinnya, sebuah panggilan yang tidak hanya mengubah namanya menjadi Paulus, tetapi juga tujuan hidupnya.
Paus Benediktus XVI, dalam bukunya Saint Paul (2009), menyoroti momen ini sebagai “pertemuan yang tidak hanya mengubah Paulus, tetapi juga sejarah kekristenan.” Pertobatan Paulus menjadi bukti nyata bahwa kasih Allah melampaui dosa sebesar apa pun. Bagi Paulus, pertobatan bukan sekadar perubahan pola pikir, tetapi sebuah metanoia—perubahan total dalam cara pandang, keyakinan, dan tindakan.
Dalam Injil Markus 16:15-18, Yesus memberi amanat agung kepada para murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Amanat ini menjadi semacam peta jalan bagi Paulus dan semua murid Kristus lainnya. Pesan Injil adalah kabar baik tentang kasih Allah yang menyelamatkan, melampaui batasan budaya, bahasa, dan bangsa. Ayat-ayat ini juga menjanjikan tanda-tanda yang menyertai mereka yang percaya: mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, dan menyembuhkan yang sakit.
Teolog Karl Rahner dalam Theological Investigations (1974) menggambarkan misi ini sebagai “perwujudan konkret dari cinta Allah yang universal.” Dengan membagikan Injil, kita menjadi saksi nyata dari rahmat Allah yang bekerja di tengah dunia. Paulus, setelah pertobatannya, menjadi cerminan dari amanat ini. Ia pergi ke banyak tempat, mendirikan jemaat-jemaat, menulis surat-surat yang menjadi dasar teologi Kristen hingga kini.
Kisah Paulus mengingatkan kita bahwa setiap orang dapat diubah oleh kasih Allah. Rahmat-Nya tidak memandang masa lalu kita, tetapi membuka jalan bagi masa depan yang penuh harapan. Injil Markus mengajarkan bahwa kita, sebagai murid Kristus, dipanggil untuk menjadi bagian dari misi ini, melanjutkan karya Paulus, membawa terang kepada mereka yang hidup dalam kegelapan.
Pertobatan Santo Paulus adalah pesta kasih yang dirayakan di surga dan di bumi. Melalui kisahnya, kita diajak untuk percaya bahwa Allah selalu bekerja, bahkan dalam hidup kita yang tampaknya penuh kekacauan. Seperti Paulus, kita mungkin jatuh, tetapi rahmat Allah selalu mengangkat kita. Dan seperti para murid, kita juga dipanggil untuk membawa kabar baik kepada dunia, berbagi kasih yang telah mengubah hidup kita.
Daftar Pustaka
- Benediktus XVI. Saint Paul. Ignatius Press, 2009.
- Rahner, Karl. Theological Investigations. Volume 10. Seabury Press, 1974.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. Doubleday, 1997.