Kamis, 30 Januari 2025 – Terang yang Tak Tersembunyi: Sebuah Renungan atas Ibrani 10:19-25 dan Markus 4:21-25
Dalam lorong sunyi kehidupan, manusia kerap berada di antara terang dan bayang-bayang, di persimpangan iman dan keraguan. Namun, dalam surat Ibrani dan Injil Markus, terdapat panggilan yang lembut sekaligus mendesak: untuk tidak menyembunyikan terang dan untuk terus melangkah dalam iman yang teguh.
Surat Ibrani 10:19-25 membuka jendela batin kita kepada misteri keselamatan dalam Kristus. “Kita sekarang mempunyai keberanian untuk masuk ke dalam tempat kudus oleh darah Yesus” (Ibr. 10:19). Keberanian ini bukan sekadar kebebasan manusiawi, tetapi anugerah dari pengorbanan Kristus yang telah membuka jalan baru dan hidup bagi kita. F. F. Bruce dalam The Epistle to the Hebrews (1990) menafsirkan bahwa penekanan pada “jalan yang baru dan yang hidup” menunjukkan bahwa iman Kristen bukan sekadar dogma statis, tetapi sebuah perjalanan menuju persekutuan sejati dengan Allah. Dalam pemahaman ini, kehidupan iman bukanlah rutinitas, tetapi perjumpaan yang berulang kali diperbarui dalam kasih dan pengharapan.
Di sisi lain, Markus 4:21-25 mengajak kita untuk merenungkan peran terang dalam kehidupan. “Apakah pelita dibawa untuk diletakkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur? Bukankah untuk ditempatkan di atas kaki dian?” (Mrk. 4:21). Yesus berbicara dengan metafora sederhana, tetapi dalamnya bagaikan lautan tak bertepi. René Girard dalam Things Hidden Since the Foundation of the World (1978) menafsirkan bahwa terang dalam perumpamaan ini bukan hanya wahyu ilahi tetapi juga kebenaran yang menyingkap mekanisme dosa dan kepalsuan dalam masyarakat. Terang, dalam konteks ini, bukan sekadar pencerahan intelektual, tetapi juga kehadiran kasih yang mengubah.
Dalam menyatukan kedua bacaan ini, kita menemukan jembatan yang menghubungkan iman dan perbuatan. Surat Ibrani berbicara tentang akses kepada Allah melalui iman, sementara Injil Markus menekankan tanggung jawab untuk membawa terang itu ke dalam dunia. Teolog Karl Barth dalam Church Dogmatics (1936) mengingatkan bahwa iman yang sejati bukan hanya perenungan individual tetapi juga sebuah panggilan untuk bertindak. “Terang yang sejati tidak bisa disembunyikan, sebab dalam dirinya sendiri ada dorongan untuk menerangi.”
Ketika kita diundang untuk “saling memperhatikan, supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibr. 10:24), kita diajak untuk tidak hidup dalam keterasingan rohani. Di dunia yang sering kali meminggirkan nilai-nilai Kristiani, kita tetap dipanggil untuk menjadi saksi, bukan dengan pekikan keras, tetapi dengan kesetiaan dalam hal-hal kecil. Dietrich Bonhoeffer dalam Life Together (1939) menegaskan bahwa komunitas iman sejati adalah yang tetap berkumpul, saling menguatkan, dan tidak menjauhkan diri dari persekutuan, sebagaimana diingatkan dalam Ibrani 10:25.
Maka, apa artinya bagi kita hari ini? Kita hidup dalam dunia yang terus bergulat dengan kegelapan, baik dalam bentuk ketidakadilan, keputusasaan, maupun sikap apatis. Namun, panggilan Yesus tetap sama: terang harus bersinar. Iman bukanlah sesuatu yang disembunyikan dalam ruang privat, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan kasih yang nyata. Seperti pelita yang tidak dapat disembunyikan, demikian pula kita dipanggil untuk menyatakan iman dengan penuh keberanian, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam setiap perbuatan kecil yang mencerminkan kasih Kristus.
Kita tidak dipanggil untuk menyembunyikan terang itu di bawah gantang, tetapi untuk menempatkannya di atas kaki dian. Dengan demikian, dunia yang masih berada dalam bayang-bayang bisa melihat secercah harapan, yang bersumber dari Dia yang adalah terang sejati.
Daftar Pustaka:
- Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1936.
- Bonhoeffer, Dietrich. Life Together. New York: Harper & Row, 1939.
- Bruce, F. F. The Epistle to the Hebrews. Grand Rapids: Eerdmans, 1990.
- Girard, René. Things Hidden Since the Foundation of the World. London: Bloomsbury, 1978.