Minggu, 2 Februari 2025 – Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Di tengah sunyi dan khidmat suasana Bait Allah, seberkas cahaya kecil hadir dalam sosok bayi mungil yang dibawa Maria dan Yusuf. Mereka menaati hukum Taurat dengan mempersembahkan Yesus kepada Allah, suatu ritus yang biasa bagi setiap anak sulung laki-laki Yahudi, namun justru pada momen inilah, pertemuan antara yang ilahi dan yang fana terjadi secara nyata. Tiga bacaan hari ini mengundang kita untuk merenungkan kedalaman misteri ini: kehadiran Sang Mesias yang mengubah makna persembahan menjadi perjumpaan dengan terang keselamatan.
Maleakhi 3:1-4 membuka refleksi ini dengan gambaran profetik tentang seorang utusan yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. “Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya dengan mendadak.” Gambaran ini bukan sekadar nubuat masa depan, melainkan cermin harapan umat yang merindukan pemurnian. Tuhan digambarkan sebagai “api pemurni” dan “sabun tukang penatu,” dua simbol kuat yang mengisyaratkan proses penyucian yang tidak selalu nyaman namun esensial untuk menghasilkan kemurnian sejati. Dalam konteks Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, Yesus sendiri hadir bukan hanya sebagai persembahan, melainkan sebagai Api Pemurni itu sendiri, yang menyucikan bukan hanya bait fisik tetapi juga hati manusia.
Surat kepada orang Ibrani 2:14-18 memperdalam makna inkarnasi ini. Penulis Ibrani menegaskan bahwa Yesus mengambil bagian dalam daging dan darah agar melalui kematian-Nya, Ia dapat menghancurkan kuasa maut dan membebaskan mereka yang seumur hidup diperbudak oleh ketakutan akan kematian. Yesus bukan hanya Allah yang jauh di takhta surgawi, melainkan Imanuel, Allah yang beserta kita, merasakan penderitaan, dicobai, dan karena itu mampu menjadi Imam Besar yang penuh belas kasih. Persembahan-Nya di Bait Allah hanyalah awal dari perjalanan pengorbanan yang akan mencapai puncaknya di kayu salib.
Lukas 2:22-40 menghadirkan dua sosok yang luar biasa: Simeon dan Hana. Mereka bukan sekadar saksi bisu, melainkan figur yang melambangkan harapan yang tidak pernah pudar. Simeon, yang digerakkan oleh Roh Kudus, mengenali dalam bayi Yesus “terang bagi pencerahan bangsa-bangsa” dan “kemuliaan bagi umat-Mu Israel.” Doanya, Nunc Dimittis, adalah nyanyian pelepasan, bukan karena ia putus asa, melainkan karena ia telah melihat puncak dari segala pengharapan: keselamatan dalam wujud manusia. Hana, nabi perempuan yang setia, menegaskan bahwa pengharapan yang teguh dan doa yang tak putus akan selalu menemukan jawabannya di hadapan Allah.
Para teolog seperti N.T. Wright (2004) menekankan bahwa peristiwa ini menunjukkan bagaimana Yesus menggenapi janji-janji Perjanjian Lama dalam wujud yang tak terduga. Leon Morris (1988) menyoroti bahwa Simeon dan Hana bukan hanya mewakili individu, melainkan simbol dari Israel yang setia menantikan Mesias. Sementara itu, Raymond E. Brown (1993) menggarisbawahi bagaimana kehadiran Yesus di Bait Allah menandai bahwa Bait itu sendiri menemukan maknanya yang sejati dalam Dia.
Dalam permenungan ini, kita diajak bukan hanya untuk mengenang peristiwa masa lampau, melainkan untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus. Seperti Simeon dan Hana, adakah kita cukup peka untuk mengenali kehadiran Allah dalam keseharian kita? Seperti Maleakhi mengingatkan, adakah hati kita siap untuk dimurnikan oleh-Nya? Dan seperti penulis Ibrani mengajarkan, adakah kita berani mempercayakan diri sepenuhnya kepada Imam Besar yang mengerti setiap kelemahan kita?
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. The Birth of the Messiah. New York: Doubleday, 1993.
- Morris, Leon. The Gospel According to Luke. Grand Rapids: Eerdmans, 1988.
- Wright, N.T. Luke for Everyone. London: SPCK, 2004.