Minggu, 9 Februari 2025 – Misteri Panggilan Ilahi: Antara Kekudusan, Rahmat, dan Pengutusan
Di dalam keheningan yang sakral, di sudut bait suci yang megah, Yesaya berdiri dengan hati yang bergetar. Ia melihat sesuatu yang tak terbayangkan: Tuhan sendiri duduk di atas takhta yang menjulang tinggi, dikelilingi para serafim yang suaranya menggema hingga mengguncangkan ambang pintu. “Celakalah aku!” serunya, menyadari ketidakwajarannya di hadapan kemuliaan yang tak tersentuh. Tetapi dari altar, bara menyala diambil dan menyentuh bibirnya—bukan untuk melukai, melainkan untuk memurnikan. Ia yang semula merasa tidak layak kini dipanggil, dan dengan bibir yang terbakar oleh rahmat, ia menjawab, “Ini aku, utuslah aku.”
Delapan abad kemudian, di jalanan dunia yang penuh kegetiran, seorang pria yang dahulu dikenal sebagai penganiaya jemaat, Paulus, menuliskan kisah hidupnya. “Aku yang paling hina dari semua rasul,” katanya dalam surat kepada jemaat Korintus. Ia mengingat bagaimana ia dulu dengan gagah mengejar dan memburu pengikut Kristus. Tetapi di tengah perjalanan, cahaya menyilaukan menghentikannya. “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Itu bukan sekadar suara—itu adalah perjumpaan yang mengguncangkan fondasi keberadaannya. Dalam remuk redam yang tak berdaya, ia mendapati dirinya ditransformasikan oleh rahmat, dan kini, ia bersaksi bahwa hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan bagi Dia yang bangkit. Seperti ditulis N.T. Wright dalam Paul: A Biography (2018), pengalaman Paulus bukan sekadar pertobatan pribadi, melainkan revolusi yang melahirkan kerasulan.
Lalu kita bertemu dengan seorang nelayan di tepi Danau Genesaret. Petrus telah bekerja sepanjang malam, melemparkan jala tanpa hasil. Kelelahannya tergambar jelas dalam sorot matanya, tetapi ketika seorang pria dari Nazaret naik ke perahunya dan berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam,” sesuatu dalam dirinya tergerak untuk percaya. Dengan ragu namun taat, ia melemparkan jala sekali lagi. Dan seketika itu juga, lautan seperti menyerahkan harta tersembunyinya—ikan-ikan berlimpah hingga jala nyaris koyak. Kengerian menguasai Petrus, tetapi bukan karena ikan yang banyak, melainkan karena ia menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. “Tuhan, pergilah dariku, karena aku ini orang berdosa.” Namun, Yesus tidak berpaling. Ia justru tersenyum dan berkata, “Jangan takut. Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Daniel J. Harrington dalam The Gospel of Luke (2008) menekankan bahwa momen ini bukan sekadar keajaiban, melainkan panggilan—panggilan yang mengubah arah hidup Petrus selamanya.
Ketiga kisah ini berjalin dalam alur yang tak terputus: dari perjumpaan dengan yang Ilahi, kesadaran akan keterbatasan dan ketidaklayakan, hingga transformasi oleh rahmat yang berujung pada pengutusan. Tuhan tidak mencari mereka yang paling siap atau paling layak, tetapi mereka yang bersedia. Seperti Yesaya yang akhirnya menjawab panggilan, seperti Paulus yang menyerahkan hidupnya bagi Injil, dan seperti Petrus yang meninggalkan jala-jalanya untuk mengikut Yesus, kita pun diundang untuk melangkah ke dalam misteri panggilan yang sama.
Dunia modern kita penuh dengan suara yang meragukan, ketidakpastian yang menghambat, dan ketakutan yang melumpuhkan. Namun, suara Ilahi tetap berbicara, menyentuh hati kita di tempat yang paling sunyi. Mungkin kita pernah merasa “najis” seperti Yesaya, atau memiliki masa lalu yang gelap seperti Paulus, atau merasa tidak cukup layak seperti Petrus. Tetapi Tuhan bukan mencari kesempurnaan kita, melainkan kesiapan kita untuk berkata, “Ini aku, utuslah aku.” Maka, seperti Petrus, mari kita bertolak ke tempat yang dalam, melampaui ketakutan kita, dan membiarkan Tuhan mengubah hidup kita untuk suatu misi yang lebih besar dari diri kita sendiri. Tuhan memanggil kita dalam kedosaan kita. Pendosa tapi dipanggil.
Daftar Pustaka:
- Harrington, Daniel J. The Gospel of Luke. Liturgical Press, 2008.
- Wright, N.T. Paul: A Biography. HarperOne, 2018.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. Yale University Press, 1997.
- Fitzmyer, Joseph A. The Gospel According to Luke I-IX. Yale University Press, 1981.