SENIN, 24 Februari 2025
Dalam perjalanan hidup manusia, kebijaksanaan dan iman menjadi dua pilar utama yang menopang keberadaannya. Bacaan hari ini dari Kitab Putra Sirakh (Sir. 1:1-10) dan Injil Markus (Mrk. 9:14-29) mempertemukan kita dengan dua realitas ini: kebijaksanaan ilahi yang mendasari segala sesuatu dan iman yang menjadi kunci untuk mengatasi segala ketidakmungkinan.
Kitab Putra Sirakh menegaskan bahwa kebijaksanaan adalah anugerah dari Allah, ada sejak awal segala sesuatu diciptakan, dan hadir dalam segala aspek kehidupan. Tidak ada manusia yang dapat mengklaim kepemilikan penuh atas kebijaksanaan karena ia berasal dari Allah sendiri. Dalam pemahaman ini, kebijaksanaan bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan keterbukaan hati untuk menerima kebenaran ilahi dan menghidupinya dalam keseharian. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae (1265-1274), kebijaksanaan sejati mengarahkan manusia pada tujuan akhir hidupnya, yaitu persatuan dengan Allah.
Di sisi lain, perikop dari Injil Markus menggambarkan sebuah peristiwa yang memperlihatkan tantangan iman. Seorang ayah datang kepada Yesus, membawa anaknya yang kerasukan roh jahat. Para murid yang sebelumnya telah diberikan kuasa untuk mengusir setan ternyata tidak mampu menolong anak tersebut. Yesus kemudian menegaskan bahwa hanya dengan iman, segala sesuatu menjadi mungkin. Ketika sang ayah berseru, “Aku percaya. Tolonglah ketidakpercayaanku!”, kita melihat bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis, tetapi sebuah dinamika yang melibatkan perjuangan dan ketulusan hati.
Raymond E. Brown dalam An Introduction to the New Testament (1997) menyoroti bahwa peristiwa ini menunjukkan ketegangan antara ketidakberdayaan manusia dan kuasa ilahi. Murid-murid yang gagal mengusir roh jahat mencerminkan keterbatasan iman manusia ketika tidak bersandar sepenuhnya kepada Allah. Yesus menegaskan bahwa doa dan puasa adalah kunci untuk memperoleh kekuatan rohani, menunjukkan bahwa iman sejati memerlukan keterbukaan hati yang disertai disiplin spiritual.
Dalam kehidupan modern, kita sering dihadapkan pada situasi di mana logika dan rasionalitas tidak cukup untuk menjawab tantangan hidup. Kita memerlukan kebijaksanaan untuk memahami jalan Allah dan iman untuk menjalani perjalanan itu. Seperti yang dikatakan oleh C.S. Lewis dalam Mere Christianity (1952), iman bukan hanya percaya kepada Allah, tetapi juga terus mempercayai-Nya di saat kita merasa tidak melihat kehadiran-Nya.
Kebijaksanaan dan iman saling melengkapi. Kebijaksanaan memberikan kita pengertian tentang siapa Allah dan bagaimana kita seharusnya hidup, sementara iman memberi kita keberanian untuk melangkah, bahkan ketika jalan di depan tampak gelap. Melalui kebijaksanaan, kita memahami bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, dan melalui iman, kita mengalami kuasa-Nya yang nyata dalam hidup kita. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, panggilan bagi kita adalah untuk menghidupi keduanya—menjadi bijaksana dalam memahami kehendak-Nya dan beriman dalam menjalani kehendak itu dengan sepenuh hati.
Daftar Pustaka:
- Aquinas, Thomas. Summa Theologiae. 1265-1274.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
- Lewis, C.S. Mere Christianity. New York: HarperOne, 1952.