MINGGU, 02 FEBRUARI 2025
Seperti emas yang diuji dalam perapian, demikian juga hati manusia teruji melalui kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kitab Sirakh 27:4-7 menggambarkan bagaimana karakter seseorang terlihat dari perkataannya, sama seperti buah mencerminkan kualitas pohonnya. Gambaran ini begitu kuat karena mengingatkan kita bahwa apa yang ada di dalam hati akan terpancar melalui ucapan kita. Kebijaksanaan, kejujuran, atau bahkan kedengkian dan kemunafikan akan tampak dari cara seseorang berbicara dan bertindak. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita tergoda untuk menghakimi orang lain tanpa menyadari bahwa setiap kata yang kita lontarkan sejatinya mencerminkan diri kita sendiri.
Paulus, dalam 1 Korintus 15:54-58, mengajak kita untuk melihat melampaui kefanaan dan penderitaan dunia ini. Ia menegaskan bahwa dalam Kristus, kematian telah ditelan dalam kemenangan. Ayat ini memberikan pengharapan eskatologis bahwa kefanaan kita akan digantikan dengan kehidupan kekal dalam kemuliaan. Paulus menantang kita untuk tidak hanya hidup dalam perspektif duniawi yang terbatas, tetapi untuk memahami bahwa karya dan usaha kita dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Kemenangan atas maut yang dijanjikan melalui kebangkitan Kristus adalah pengingat bahwa pengharapan kita tidak berhenti pada kenyataan hidup yang keras dan penuh tantangan, melainkan pada janji kekekalan.
Lukas 6:39-45 semakin meneguhkan pesan ini dengan sebuah perumpamaan yang menyoroti pentingnya kebijaksanaan dalam menuntun orang lain. Yesus bertanya, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta?” Sebuah pertanyaan retoris yang tajam, mengingatkan bahwa sebelum kita memperbaiki orang lain, kita sendiri harus terlebih dahulu melihat dengan jelas. Sama seperti dalam Sirakh, Yesus mengajarkan bahwa seseorang dinilai bukan dari penampilan luarnya, melainkan dari buah yang dihasilkannya. Hati yang baik akan memancarkan kebaikan, sedangkan hati yang penuh kejahatan hanya akan menghasilkan hal yang serupa. Ini adalah panggilan untuk selalu melakukan refleksi diri, agar kita tidak menjadi pemimpin atau pembimbing yang justru membawa orang lain kepada kesesatan.
Dalam membaca ketiga teks ini secara bersamaan, kita menemukan benang merah yang menghubungkan kebijaksanaan, kebangkitan, dan kebajikan. Hidup bukan sekadar tentang bagaimana kita berbicara, tetapi bagaimana kita menjalankan hidup dalam terang kebenaran. Kata-kata kita mencerminkan siapa kita, namun tindakan kita yang menunjukkan apakah kita benar-benar berakar dalam Kristus. Hidup yang dijiwai oleh kebijaksanaan akan mengarahkan kita pada kemuliaan, sebagaimana Paulus menekankan bahwa perjuangan kita tidaklah sia-sia di dalam Tuhan.
Raymond E. Brown dalam An Introduction to the New Testament (1997) menyoroti bahwa Paulus selalu mengaitkan iman dengan pengharapan eskatologis. Baginya, kebangkitan bukan hanya sebuah doktrin, melainkan fondasi dari seluruh iman Kristen. Sementara itu, N.T. Wright dalam Surprised by Hope (2008) menjelaskan bahwa iman Kristen menekankan transformasi hidup sebagai persiapan menuju kehidupan kekal. William Barclay dalam The Gospel of Luke (1975) juga menegaskan bahwa perumpamaan Yesus tentang pohon dan buahnya bukan sekadar ajaran etika, tetapi merupakan panggilan untuk pertobatan yang sungguh-sungguh, karena hanya hati yang diperbarui yang dapat menghasilkan buah yang baik.
Dalam dunia yang penuh kebingungan dan suara-suara yang saling bersaing, kita diajak untuk kembali pada inti iman kita. Apakah kata-kata kita mencerminkan kebijaksanaan Tuhan? Apakah hidup kita berakar dalam pengharapan akan kebangkitan? Apakah kita sudah menjadi pohon yang menghasilkan buah yang baik? Ketiga bacaan ini menantang kita untuk merenungkan kembali apakah kita telah benar-benar hidup dalam terang Kristus atau masih tersesat dalam kebutaan kita sendiri. Semoga kita semakin mampu menjalani hidup dengan kebijaksanaan, keyakinan, dan kasih yang sejati, sehingga setiap kata dan tindakan kita menjadi saksi akan kebaikan Tuhan di dunia ini.
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
- Wright, N.T. Surprised by Hope. New York: HarperOne, 2008.
- Barclay, William. The Gospel of Luke. Philadelphia: Westminster Press, 1975.