MINGGU, 9 FEBRUARI 2025
Di awal masa Prapaskah, kita diajak untuk masuk ke dalam perjalanan rohani yang mendalam, menelusuri makna pertobatan, iman, dan keteguhan dalam menghadapi pencobaan. Bacaan hari ini membawa kita pada tiga aspek penting dalam hidup iman: mengenang perbuatan Allah yang menyelamatkan (Ulangan 26:4-10), mengakui iman akan Yesus sebagai Tuhan (Roma 10:8-13), dan meneladani keteguhan Yesus dalam menghadapi pencobaan di padang gurun (Lukas 4:1-13).
Dalam Ulangan 26:4-10, Musa mengajarkan kepada umat Israel sebuah ritual persembahan yang bukan sekadar bentuk kewajiban keagamaan, tetapi sebuah tindakan penuh syukur atas karya keselamatan Allah. Mereka diingatkan akan bagaimana Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, membawa mereka ke tanah yang dijanjikan, dan mencurahkan berkat. Walter Brueggemann dalam The Land: Place as Gift, Promise, and Challenge in Biblical Faith (1977) menekankan bahwa tanah bukan sekadar wilayah geografis, tetapi tanda janji Allah yang menuntut tanggapan dalam bentuk hidup yang berlandaskan syukur dan keadilan. Ritual persembahan ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang menerima berkat, tetapi juga tentang memberi kembali dalam semangat syukur.
Paulus dalam Roma 10:8-13 menekankan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diberikan kepada siapa saja yang percaya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan. Keselamatan tidak tergantung pada status sosial, latar belakang, atau usaha manusia, melainkan hanya pada iman yang sejati. Karl Barth dalam The Epistle to the Romans (1922) menyoroti bahwa iman dalam Kristus bukan sekadar keyakinan intelektual, tetapi sebuah relasi yang mendalam dengan Allah yang mengubah hidup. Dalam konteks ini, Paulus meneguhkan bahwa baik orang Yahudi maupun non-Yahudi memiliki akses yang sama kepada keselamatan, menandakan universalitas kasih Allah yang melampaui batas-batas manusia.
Lukas 4:1-13 membawa kita ke padang gurun, tempat Yesus mengalami pencobaan selama empat puluh hari. Setan menggoda-Nya dengan tiga hal: kebutuhan jasmani (mengubah batu menjadi roti), kuasa duniawi (menawarkan kerajaan dunia), dan keajaiban spektakuler (memerintahkan malaikat untuk menyelamatkan-Nya). Henri Nouwen dalam In the Name of Jesus (1989) menjelaskan bahwa pencobaan ini mencerminkan tiga godaan yang juga dihadapi manusia: mencari kepuasan diri, mengejar kekuasaan, dan mencari pengakuan. Namun, Yesus menunjukkan jalan yang berbeda—jalan penyerahan diri total kepada kehendak Bapa, bukan kepada kesenangan atau ambisi duniawi.
Perjalanan Prapaskah mengundang kita untuk merenungkan bagaimana kita menghadapi pencobaan dalam hidup. Apakah kita, seperti Yesus, berpegang pada firman Allah sebagai kekuatan? Apakah kita, seperti umat Israel, hidup dalam rasa syukur atas karya keselamatan Allah? Dan apakah kita, seperti yang diajarkan Paulus, berani mengakui iman kita dalam tindakan nyata?
Thomas Merton dalam No Man Is an Island (1955) menegaskan bahwa iman sejati selalu berakar pada pengalaman perjumpaan dengan Allah yang nyata dalam keseharian. Prapaskah bukan sekadar waktu untuk menahan diri dari makanan atau kebiasaan tertentu, tetapi lebih dalam dari itu, masa untuk semakin mendekat kepada Allah, mengenali kehendak-Nya, dan melawan godaan dunia dengan hati yang teguh.
Sebagaimana Yesus menolak tawaran setan dengan mengandalkan firman Allah, kita pun diajak untuk menjadikan sabda-Nya sebagai pegangan dalam setiap langkah hidup. Keselamatan bukan hanya janji masa depan, tetapi sesuatu yang kita hidupi hari ini, dalam tindakan kasih, keadilan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Inilah panggilan kita di awal perjalanan Prapaskah: kembali kepada Allah dengan hati yang bersyukur, iman yang teguh, dan keberanian untuk menolak segala yang menjauhkan kita dari kasih-Nya.
Daftar Pustaka:
- Barth, Karl. The Epistle to the Romans. Oxford University Press, 1922.
- Brueggemann, Walter. The Land: Place as Gift, Promise, and Challenge in Biblical Faith. Fortress Press, 1977.
- Merton, Thomas. No Man Is an Island. Harcourt, Brace, 1955.
- Nouwen, Henri J. M. In the Name of Jesus: Reflections on Christian Leadership. Crossroad, 1989.