KAMIS, 13 MARET 2025
Di tengah riuhnya kehidupan, kita sering kali dihadapkan pada pilihan antara ketakutan dan keberanian, antara keheningan dan suara yang harus disuarakan. Bacaan hari ini membawa kita kepada sosok Ester, seorang ratu yang berdiri di persimpangan antara kenyamanan istana dan panggilan untuk menyelamatkan bangsanya. Di sisi lain, kita mendengar sabda Yesus dalam Injil Matius yang mengajak kita untuk meminta, mencari, dan mengetuk dengan penuh iman. Kedua kisah ini terjalin dalam tema yang sama: keberanian untuk mempercayakan diri kepada Tuhan.
Ester, dalam Est. 4:10a,10c-12,17-19, dihadapkan pada keputusan besar. Mordekhai, pamannya, mengingatkannya bahwa mungkin ia ditempatkan sebagai ratu bukan untuk menikmati kemewahan semata, melainkan untuk tujuan yang lebih besar—menyelamatkan bangsanya dari ancaman pemusnahan. Ketakutan melingkupinya; ia tahu bahwa memasuki ruang raja tanpa dipanggil dapat berujung pada kematian. Namun, dalam keheningan doa dan puasa, ia menemukan kekuatan untuk melangkah. Ellen F. Davis dalam Biblical Prophecy: Perspectives for Christian Theology, Discipleship, and Ministry (2014) menegaskan bahwa doa dan tindakan berjalan berdampingan dalam kehidupan iman. Ester tidak hanya berdoa, tetapi juga mengambil risiko untuk bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Sejalan dengan itu, Yesus dalam Matius 7:7-12 mengajarkan tentang hubungan kita dengan Allah yang penuh kasih. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Ayat ini bukan hanya sebuah jaminan akan doa yang dijawab, tetapi juga undangan untuk memiliki keberanian dalam mengandalkan Tuhan. N. T. Wright dalam Simply Jesus (2011) menekankan bahwa doa yang sejati bukanlah sekadar daftar permohonan, tetapi sebuah proses yang mengubah hati dan membentuk karakter kita agar semakin menyerupai Kristus.
Kisah Ester dan ajaran Yesus bertemu dalam satu titik: iman yang diwujudkan dalam tindakan. Ester meminta pertolongan Tuhan, tetapi ia juga berani melangkah. Yesus mengajarkan kita untuk mengetuk, yang berarti mengambil inisiatif dan bergerak. Karl Barth dalam Church Dogmatics (1956) menulis bahwa iman sejati bukan hanya tentang percaya dalam hati, tetapi juga tentang keberanian untuk bertindak di dalam dunia yang nyata. Dalam doa, kita tidak hanya menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, tetapi juga dipanggil untuk menjadi bagian dari jawaban atas doa kita sendiri.
Perenungan ini membawa kita pada pertanyaan: dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita berani menjadi seperti Ester yang mempercayakan diri kepada Tuhan dan bertindak dengan iman? Apakah kita sungguh-sungguh meminta, mencari, dan mengetuk dengan keyakinan bahwa Tuhan mendengar dan menjawab? Seperti Ester yang akhirnya berkata, “Jika aku harus binasa, biarlah aku binasa,” kita diajak untuk melampaui ketakutan dan mempercayakan hidup kita kepada rencana-Nya yang lebih besar. Pintu-pintu akan terbuka bagi mereka yang berani mengetuk, dan Tuhan selalu berjalan bersama mereka yang mencari-Nya dengan segenap hati.
Daftar Pustaka:
- Barth, Karl. Church Dogmatics. T&T Clark, 1956.
- Davis, Ellen F. Biblical Prophecy: Perspectives for Christian Theology, Discipleship, and Ministry. WJK Press, 2014.
- Wright, N. T. Simply Jesus: A New Vision of Who He Was, What He Did, and Why He Matters. HarperOne, 2011.