Dalam perjalanan rohani, ada momen-momen ketika manusia harus bercermin pada kasih dan keadilan Allah, merenungkan kesetiaan-Nya yang tak tergoyahkan sekaligus menghadapi kelemahan diri sendiri. Bacaan dari Daniel 9:4b-10 dan Lukas 6:36-38 mengundang kita untuk merenungkan dua aspek mendasar dalam kehidupan iman: pengakuan dosa dan panggilan untuk bermurah hati seperti Bapa di surga.
Nabi Daniel, dalam doanya, menyingkapkan realitas keberdosaan umat Israel. Ia tidak berbicara sebagai orang luar yang menuding, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang bersalah. Ia mengakui bahwa umat telah berpaling dari perintah Tuhan, mengabaikan suara para nabi, dan gagal hidup dalam kesetiaan. Dalam The Message of Daniel (1993), Dale Ralph Davis menyoroti bahwa doa Daniel adalah teladan bagi semua orang percaya dalam merespons kegagalan spiritual. Doa ini bukan sekadar pengakuan kesalahan pribadi, tetapi sebuah refleksi mendalam atas kondisi kolektif yang membutuhkan belas kasih dan pengampunan Tuhan.
Kesadaran akan dosa tidak boleh berhenti pada penyesalan semata. Tuhan adalah Allah yang setia kepada perjanjian-Nya, dan Ia selalu membuka pintu bagi mereka yang bertobat. John Goldingay dalam Daniel (1989) menekankan bahwa pengampunan Allah tidak diberikan karena kelayakan manusia, melainkan karena kasih setia-Nya. Umat yang jatuh dalam dosa dipanggil untuk kembali, bukan dengan membawa pembenaran diri, tetapi dengan hati yang remuk redam di hadapan-Nya.
Yesus, dalam Injil Lukas, membawa pengajaran yang radikal: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Belas kasih tidak hanya dimanifestasikan dalam tindakan baik kepada sesama, tetapi juga dalam pengampunan tanpa syarat. Dalam The Gospel of Luke (2006), Joel B. Green menegaskan bahwa kemurahan hati yang diajarkan Yesus bukanlah sekadar etika sosial, melainkan refleksi dari karakter Allah sendiri. Orang percaya dipanggil untuk memberikan, mengampuni, dan mencintai, bukan karena lawan mereka pantas menerimanya, melainkan karena mereka telah terlebih dahulu menerima anugerah kasih dari Tuhan.
Seruan Yesus untuk tidak menghakimi dan tidak menghukum bukanlah ajakan untuk mengabaikan keadilan, tetapi undangan untuk menilai orang lain dengan belas kasih yang sama seperti yang kita harapkan dari Tuhan. N.T. Wright dalam Luke for Everyone (2004) mengingatkan bahwa kemurahan hati sejati berasal dari kesadaran bahwa kita semua adalah penerima kasih karunia. Dalam pengampunan dan pemberian, kita tidak kehilangan apa pun; sebaliknya, kita membuka diri untuk menerima kelimpahan dari Tuhan.
Prapaskah adalah masa yang tepat untuk menelusuri kembali panggilan ini. Kita diajak untuk mengenali kelemahan diri tanpa jatuh ke dalam keputusasaan, dan di saat yang sama, meluaskan hati untuk bermurah hati seperti Bapa. Sebagaimana Daniel berseru dalam doanya, kita pun bisa datang kepada Tuhan dengan keberanian, bukan karena kita benar, tetapi karena kita percaya pada kasih-Nya. Dan sebagaimana Yesus mengajarkan, kita dipanggil untuk meneruskan kasih itu kepada sesama, memberikan pengampunan dan belas kasih tanpa batas, karena hanya dengan demikian kita mencerminkan wajah Allah yang sejati.
Daftar Pustaka:
- Davis, Dale Ralph. The Message of Daniel. InterVarsity Press, 1993.
- Goldingay, John. Daniel. Word Biblical Commentary, 1989.
- Green, Joel B. The Gospel of Luke. Eerdmans, 2006.
- Wright, N.T. Luke for Everyone. Westminster John Knox Press, 2004.