KAMIS, 20 MARET 2025
Yeremia 17:5-10 dan Lukas 16:19-31 menghadirkan dua pesan fundamental dalam iman Kristen: kepercayaan kepada Allah sebagai sumber kehidupan dan konsekuensi dari pilihan manusia dalam menghadapi kekayaan dan kemiskinan. Kedua bacaan ini bergaung dalam seruan kenabian dan pengajaran Yesus yang menyingkapkan bagaimana hati manusia diuji oleh keberlimpahan duniawi dan ketergantungan sejati kepada Allah.
Nabi Yeremia menegaskan bahwa mereka yang mengandalkan manusia dan kekuatan sendiri tanpa melibatkan Allah dalam hidupnya adalah seperti semak di padang pasir, yang tidak akan mengalami kesejukan dan kesuburan. Sebaliknya, mereka yang percaya dan berharap kepada Tuhan digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang akarnya menjulur ke sungai dan tidak takut akan datangnya panas, karena tetap hijau dan menghasilkan buah. Ini adalah gambaran kontras antara hidup yang hanya bertumpu pada kepemilikan duniawi dan hidup yang bersandar pada Allah.
Perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas memberikan gambaran konkret tentang bagaimana nasib manusia berbalik setelah kematian. Orang kaya yang selama hidupnya berpesta pora dan tidak peduli pada Lazarus, seorang miskin yang kelaparan dan terbaring di depan pintunya, akhirnya mengalami penderitaan kekal. Sementara itu, Lazarus yang selama hidupnya menderita justru diterima dalam pangkuan Abraham. Pesan perumpamaan ini bukan sekadar tentang kemiskinan dan kekayaan, melainkan bagaimana manusia bersikap terhadap sesama dan apakah hidupnya mencerminkan keadilan dan belas kasih yang dikehendaki Allah.
Teolog N.T. Wright dalam bukunya “Jesus and the Victory of God” (1996) menyoroti bagaimana perumpamaan ini menegaskan bahwa kehidupan kekal tidak hanya ditentukan oleh status sosial atau ekonomi, tetapi oleh bagaimana seseorang menjalankan kehendak Allah dalam hidupnya. Sementara itu, Joseph Ratzinger dalam “Jesus of Nazareth” (2007) menekankan bahwa hati manusia diukur dari kepedulian dan kasih yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang menderita.
Baik dalam nubuat Yeremia maupun dalam pengajaran Yesus, kita diingatkan bahwa Allah melihat hati manusia. Segala rencana dan usaha yang hanya mengandalkan kekuatan sendiri tanpa melibatkan Allah pada akhirnya akan hancur. Hidup yang bermakna adalah hidup yang berakar dalam iman kepada Allah dan menghasilkan buah berupa kasih kepada sesama. Karena itu, refleksi dari bacaan ini menantang kita untuk bertanya: Di manakah kita menaruh kepercayaan kita? Apakah kita cukup peka terhadap penderitaan orang lain, ataukah kita hanya sibuk dengan kenyamanan sendiri?
Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk meneladani sikap belas kasih yang diajarkan Yesus, melihat kehadiran Allah dalam setiap pribadi yang menderita, dan menjadikan hidup ini sebagai sarana untuk berbagi kasih dan kebaikan. Sebab, pada akhirnya, bukan kekayaan atau status duniawi yang menentukan keselamatan, melainkan hati yang terbuka untuk mengasihi dan melayani.
Daftar Pustaka:
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press, 1996.
- Ratzinger, Joseph. Jesus of Nazareth. Doubleday, 2007.
- Brown, Raymond E. The Death of the Messiah. Yale University Press, 1994.
- Fitzmyer, Joseph A. The Gospel According to Luke. Doubleday, 1985.