JUMAT, 21 MARET 2025
Yusuf adalah anak yang dikasihi Yakub, tetapi kasih itu menimbulkan iri hati di antara saudara-saudaranya. Dalam Kejadian 37, kisah Yusuf memperlihatkan bagaimana kecemburuan dapat membawa seseorang pada tindakan kejam. Saudara-saudaranya, yang seharusnya menjadi pelindungnya, justru menjualnya kepada orang Ismael yang kemudian membawanya ke Mesir. Pengkhianatan ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali dibutakan oleh iri hati, sehingga tidak mampu melihat anugerah Allah yang bekerja dalam kehidupan orang lain.
Perumpamaan Yesus dalam Matius 21 juga berbicara tentang pengkhianatan dan ketidaksetiaan. Yesus menggambarkan kebun anggur yang dipercayakan kepada para penggarap, tetapi mereka menolak memberikan hasilnya kepada pemiliknya. Bahkan, mereka membunuh utusan-utusan pemilik kebun, hingga akhirnya mereka pun membunuh anak pemilik kebun anggur tersebut. Para imam kepala dan orang Farisi menyadari bahwa Yesus sedang berbicara tentang mereka—bahwa mereka adalah para penggarap yang tidak setia, yang menolak para nabi dan bahkan akan menolak Putra Allah sendiri.
Kedua kisah ini memiliki benang merah yang kuat. Yusuf adalah gambaran dari mereka yang ditolak, tetapi justru melalui penderitaannya, rencana Allah tetap berjalan. Ia yang dijual ke Mesir akhirnya menjadi alat keselamatan bagi keluarganya sendiri. Dalam perumpamaan Yesus, Sang Anak yang dibunuh adalah gambaran diri-Nya sendiri—Dia yang akan ditolak dan disalibkan, tetapi justru melalui kematian-Nya, keselamatan diberikan kepada banyak orang.
Dalam “Genesis: A Commentary” (2006), Claus Westermann menyoroti bagaimana kisah Yusuf menunjukkan pemeliharaan ilahi meskipun manusia bertindak jahat. Tuhan membalikkan kejahatan menjadi kebaikan, dan itulah yang juga terjadi dalam peristiwa salib. Raymond E. Brown dalam “The Death of the Messiah” (1994) menekankan bahwa perumpamaan kebun anggur dalam Injil Matius adalah cerminan sejarah keselamatan: Israel yang menolak para nabi dan akhirnya menolak Yesus, tetapi penolakan itu justru membuka jalan bagi keselamatan universal.
Kedua bacaan ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita menyikapi orang-orang di sekitar kita. Apakah kita seperti saudara-saudara Yusuf, yang iri dan menyingkirkan mereka yang dipilih Allah? Ataukah kita seperti penggarap kebun anggur yang menolak memberikan apa yang menjadi milik Tuhan? Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita tergoda untuk menolak kasih karunia Allah karena kesombongan atau kepentingan diri sendiri. Namun, rencana Allah selalu lebih besar dari kelemahan manusia.
Keselamatan tidak dibangun atas dasar kekuatan manusia, tetapi atas dasar kasih Allah yang bekerja bahkan melalui penderitaan. Yusuf menjadi alat keselamatan bagi saudara-saudaranya meskipun ia dikhianati. Yesus menjadi Sang Batu Penjuru meskipun ditolak dan disalibkan. Kita pun dipanggil untuk tidak menolak kasih Allah, tetapi membiarkan diri kita dibentuk oleh-Nya sehingga hidup kita menjadi bagian dari rencana keselamatan-Nya.
Daftar Pustaka:
- Westermann, Claus. Genesis: A Commentary. Augsburg Fortress, 2006.
- Brown, Raymond E. The Death of the Messiah. Yale University Press, 1994.
- France, R.T. The Gospel of Matthew. Eerdmans, 2007.
- Wenham, Gordon J. Genesis 16-50. Word Biblical Commentary, 1994.