KAMIS, 3 APRIL 2025
Ketika manusia berpaling dari Allah, kasih-Nya tetap setia. Inilah pesan yang menggema dalam bacaan hari ini, yang mengundang kita untuk merenungkan keadilan dan belas kasih Tuhan, serta tanggung jawab kita untuk menerima kesaksian kebenaran.
Dalam Keluaran 32:7-14, kita menyaksikan momen krisis dalam perjalanan umat Israel di padang gurun. Saat Musa berada di gunung Sinai untuk menerima hukum Tuhan, bangsa Israel jatuh dalam penyembahan berhala dengan membuat patung anak lembu emas. Tuhan murka dan berencana membinasakan mereka. Namun, Musa berdiri sebagai perantara, memohon kepada Tuhan untuk mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Doa Musa memperlihatkan kedalaman kasih seorang pemimpin bagi umatnya, sekaligus menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang murah hati, yang rela mengubah keputusan-Nya demi umat-Nya.
Ahli tafsir Walter Brueggemann dalam Theology of the Old Testament (1997) menyoroti bahwa adegan ini bukan hanya tentang murka Allah, tetapi juga tentang hubungan-Nya yang dinamis dengan umat-Nya. Tuhan bukanlah sosok yang tidak peduli, tetapi Allah yang merespons dan mendengarkan permohonan umat-Nya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa doa yang tulus dapat membawa perubahan, bukan hanya dalam hidup kita, tetapi juga dalam cara Tuhan berinteraksi dengan dunia.
Dalam Yohanes 5:31-47, Yesus berbicara tentang kesaksian mengenai diri-Nya. Ia menegaskan bahwa kesaksian-Nya tidak hanya berasal dari diri-Nya sendiri, tetapi juga dari Yohanes Pembaptis, perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya, Bapa sendiri, dan Kitab Suci. Namun, orang-orang Yahudi menolak untuk percaya. Mereka lebih berpegang pada hukum Musa, tetapi ironisnya, justru Musa yang akan menjadi saksi terhadap mereka karena mereka gagal mengenali Yesus sebagai yang diutus Bapa.
Raymond E. Brown dalam The Gospel According to John (1966) menjelaskan bahwa perikop ini menggambarkan peradilan teologis: Yesus menghadirkan bukti-bukti yang mendukung klaim-Nya sebagai Anak Allah, tetapi orang-orang menutup hati mereka. Ini mencerminkan kecenderungan manusia untuk lebih percaya pada sistem dan tradisi daripada pada panggilan iman yang sejati. Yesus tidak hanya meminta mereka untuk menerima-Nya, tetapi juga mengajak mereka untuk membuka hati dan mengenali pekerjaan Allah yang nyata dalam hidup mereka.
Bacaan hari ini membawa kita pada perenungan tentang bagaimana kita merespons kasih dan kesaksian Tuhan dalam kehidupan kita. Seperti bangsa Israel yang tergoda untuk mencari pengganti Allah, kita pun sering terjebak dalam penyembahan modern—entah itu kesuksesan, materi, atau kekuasaan. Kita juga bisa seperti orang-orang yang menolak Yesus, terlalu terpaku pada pemahaman sendiri sehingga tidak mampu melihat kebenaran yang ada di depan mata.
Namun, Tuhan tetap setia. Ia tidak segera membinasakan Israel, seperti yang dimohonkan Musa. Ia juga tetap memberikan kesaksian tentang Yesus, meskipun banyak yang menolak-Nya. Ini adalah panggilan bagi kita untuk tidak mengeraskan hati, tetapi membuka diri terhadap kasih dan kebenaran Allah yang terus bekerja dalam hidup kita. Mari kita berani menerima kesaksian-Nya dan hidup dalam terang kasih yang sejati.
Daftar Pustaka:
- Brueggemann, Walter. Theology of the Old Testament. Fortress Press, 1997.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John. Yale University Press, 1966.
- Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary. Baker Academic, 2003.
- Wright, N.T. Surprised by Hope. HarperOne, 2008.