MINGGU, 6 APRIL 2025
Di tengah padang gurun kehidupan, di antara reruntuhan masa lalu dan kecemasan akan masa depan, manusia kerap mencari arah. Kita rindu akan sesuatu yang baru, sesuatu yang memulihkan dan memberi makna. Bacaan hari ini menyuarakan harapan itu: sebuah janji bahwa Allah tidak hanya bekerja dalam keajaiban masa lalu, tetapi sedang menciptakan sesuatu yang baru—di sini dan sekarang.
Yesaya berbicara kepada bangsa yang tertawan, umat yang kehilangan tanah air dan harga diri. Dalam Yesaya 43:16–21, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Dia yang “membuka jalan di laut dan jalan raya di air yang hebat.” Ini bukan sekadar nostalgia akan peristiwa Laut Teberau; ini adalah janji bahwa yang lebih besar dari itu akan terjadi. Walter Brueggemann dalam Isaiah 40–66 (1998) menekankan bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya terpaku pada keajaiban masa lalu, tetapi mendorong mereka untuk melihat masa depan dengan harapan aktif—karena Allah sedang “membuat sesuatu yang baru tumbuh.”
Melanjutkan suara kenabian itu, Paulus dalam surat kepada jemaat di Filipi mengajak kita melepaskan semua yang selama ini dianggap “keuntungan.” Dalam Filipi 3:8–14, ia menyebut segalanya sebagai “sampah” dibandingkan pengenalan akan Kristus. Paulus menggambarkan dinamika iman bukan sebagai titik diam, melainkan sebuah gerak: “aku berlari-lari kepada tujuan.” Ini adalah spiritualitas ziarah: meninggalkan apa yang di belakang, dan menatap ke depan, sebagaimana dijelaskan oleh Gordon Fee dalam Paul’s Letter to the Philippians (1995), yang menekankan bahwa kekristenan bukanlah museum moral, tetapi perjalanan transformasi menuju keserupaan dengan Kristus.
Lalu, Injil Yohanes membawa kita pada perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan yang tertangkap basah berzinah. Di hadapan-Nya terbentang dua dunia: satu dunia yang menghakimi, penuh batu di tangan dan ayat di bibir; dunia lain yang mengampuni, penuh belas kasih dan pengertian yang dalam. Dalam Yohanes 8:1–11, Yesus tidak membantah hukum, tetapi Ia membalikkan lensa moralitas: siapa pun yang tidak berdosa, silakan melempar batu pertama.
Raymond Brown dalam The Gospel According to John (1970) menegaskan bahwa perikop ini menyatakan karakter Allah yang tidak hanya adil, tetapi juga murah hati. Yesus menolak menjadikan dosa sebagai alat kekuasaan dan pengendalian sosial. Sebaliknya, Ia mengembalikan martabat perempuan itu dengan kata-kata yang revolusioner: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Ketiga bacaan ini beresonansi dalam satu irama: Allah tidak terjebak dalam sejarah atau hukum yang kaku. Ia adalah Allah yang berjalan bersama umat-Nya, yang menyentuh mereka yang terjatuh, dan yang menawarkan masa depan meskipun masa lalu telah runtuh. Ia bukan hanya pembebas dari Mesir, tapi pencipta jalan baru di padang gurun batin kita. Ia bukan hanya penulis hukum, tetapi juga pembaharu hidup yang menyentuh dengan belas kasih, bukan batu.
Hari ini, kita semua mungkin adalah perempuan itu—diperdaya oleh kesalahan, dikungkung oleh penghakiman, dan berdiri dalam rasa malu. Tapi juga, kita bisa menjadi Paulus—berlari menuju cahaya yang lebih dalam. Atau menjadi umat dalam pengasingan, seperti dalam Yesaya—menanti air di padang gurun. Dalam semua itu, Allah berkata kepada kita: “Lihat, Aku membuat sesuatu yang baru! Sekarang hal itu tumbuh, tidakkah kamu mengetahuinya?”
Daftar Pustaka:
- Brueggemann, Walter. Isaiah 40–66. Westminster John Knox Press, 1998.
- Fee, Gordon D. Paul’s Letter to the Philippians. NICNT, Eerdmans, 1995.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Yale University Press, 1970.
- Wright, N.T. Paul: A Biography. HarperOne, 2018.
- Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary. Baker Academic, 2003.