JAKARTA — Banyak keluarga masa kini menghadapi persoalan mendasar karena terlalu sibuk mengejar pengakuan, prestasi, dan keberhasilan di luar keluarga, sehingga mengabaikan relasi di dalam rumah.
Hal tersebut disampaikan Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Theresia Indira Shanti dalam acara Grand Launching Buku “Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian; Antologi Pengalaman Berkeluarga Awam Yesuit” yang digelar di Hotel Best Western Mangga Dua, Jakarta, Sabtu (13/12/2025).
“Banyak keluarga hari ini seperti dikejar-kejar dan sekaligus mengejar sesuatu yang ada di luar keluarga dan di luar diri. Inilah yang kemudian memicu berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga,” ujar Shanti.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak pada melemahnya komunikasi antara orang tua dan anak, minimnya waktu kebersamaan, serta kegagalan menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.
Menurut Shanti, salah satu masalah serius dalam keluarga saat ini adalah munculnya harga diri semu. Orang tua kerap menempatkan prestasi anak, materi, pekerjaan, dan karier sebagai sumber utama nilai diri.
“Seolah-olah prestasi anak di luar rumah menjadi harga diri orang tua. Padahal, tanpa disadari, hal itu justru melahirkan tekanan dan konflik dalam keluarga,” katanya.
Tekanan tersebut, lanjutnya, sering muncul dalam bentuk tuntutan berlebihan terhadap anak maupun pasangan, yang jika tidak disertai kerendahan hati dan komunikasi, berujung pada relasi yang tidak bertumbuh.
Spiritualitas Ignasian Menawarkan Refleksi Keluarga
Shanti mengapresiasi buku yang diluncurkan dalam acara tersebut karena dinilainya hadir tepat di tengah situasi keluarga yang sedang mengalami krisis prioritas.
“Buku ini mengajak kita kembali ke keluarga, untuk berefleksi bahwa di dalam keluargalah sebenarnya kita bisa menemukan harga diri yang sejati,” ujarnya.
Ia menilai, semangat Ignasian yang diangkat dalam buku tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai refleksi, kesadaran diri, kerendahan hati, dan pengorbanan dapat diimplementasikan secara konkret dalam kehidupan keluarga, bukan hanya dalam kehidupan religius.
Shanti juga menegaskan bahwa konflik dalam keluarga tidak dapat dihindari. Konflik dapat bersumber dari perbedaan latar belakang, prioritas hidup, hingga persoalan ekonomi dan finansial.
Namun, ia menekankan bahwa konflik bukan alasan untuk menghindari relasi atau mencari jalan pintas dengan mengakhiri perkawinan.
“Dalam hidup berkeluarga, kita justru saling belajar untuk bertumbuh. Belajar rendah hati, belajar mengatur prioritas, belajar berkorban, dan belajar berkomunikasi,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki keterbatasan, dan kesadaran akan keterbatasan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun relasi yang sehat.
Keluarga sebagai Ruang Aman Emosional
Lebih jauh, Shanti menekankan pentingnya menjadikan keluarga sebagai ruang aman emosional bagi setiap anggotanya. Menurutnya, keterhubungan emosional yang kuat akan melahirkan rasa aman dan cinta yang menjadi dasar pertumbuhan iman dan kepribadian anak.
“Kalau anak tidak merasa dicintai di rumah, ia akan mencari pengakuan di luar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pola kasih bersyarat—berbasis hadiah dan hukuman—dapat memengaruhi cara anak memandang Tuhan dan relasi spiritualnya.
“Kalau kasih orang tua dirasakan sebagai ‘kalau begini baru dikasihi’, anak bisa membawa pola itu dalam relasinya dengan Tuhan,” katanya.
Shanti menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa semangat Ignasian dalam keluarga mengajak setiap anggota untuk memulai perubahan dari diri sendiri.
“Yang perlu diubah bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri. Ketika kita berubah dan bertumbuh, di situlah muncul ketenangan dan kedamaian dalam keluarga,” ujarnya.
