Ucapan “Happy New Year” sudah mulai mereda. Kini kita kembali hidup ke ritme rutinitas: bangun pagi, berangkat, bekerja, pulang, lalu mengulang lagi keesokan harinya. Pagi ini saya menonton YouTube tentang kegiatan harian seorang chef sekaligus pemilik restoran kecil di Tokyo. Polanya nyaris sama setiap hari: subuh belanja ikan dan sayur, bersih-bersih dan menyiapkan bahan, memasak, buka jam 10, melayani tamu sampai jam 8 malam, lalu pulang. Yang membuat saya tertegun: meski ini sudah ia jalani lebih dari 25 tahun, ia tidak menurunkan standar—tetap teliti dan tidak kompromi dalam memilih bahan: tuna terbaik untuk sashimi dan sushi. Baginya setiap hari adalah hari baru, a new beginning.
Di situ saya tersadar: repetisi dan rutinitas tidak otomatis membuat pekerjaan menjadi “lebih mudah” atau “sepele”. Justru repetisi adalah ujian paling nyata. Rutinitas menggoda kita untuk berhenti hadir sepenuhnya. Saat semuanya terasa “sudah biasa”, kita mulai mengerjakan dengan setengah sadar: detail kecil diabaikan, standar turun pelan-pelan, dan makna menguap tanpa disadari. Padahal, kualitas hidup sering ditentukan bukan oleh momen besar, tetapi oleh cara kita memperlakukan hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.
Di Jepang ada konsep shokunin (職人)—sering diterjemahkan artisan/craftsman, tetapi maknanya lebih dalam yaitu etos hidup untuk menguasai profesi dengan dedikasi, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial. Shokunin dilakukan melalui:
• Mastery lewat latihan harian (kaizen: perbaikan terus-menerus)
• Pride in work (perhatian pada detail kecil)
• Service orientation (kontribusi bagi orang lain)
Etos shokunin membuat rutinitas tidak jatuh menjadi mekanistis. Ia mengubah “hal yang sama” menjadi latihan sadar—ruang kecil untuk memperhalus, merapikan, menjaga mutu, dan menjadikan apa yang kita lakukan secara rutin berguna bagi orang lain dan tentunya bagi perusahaan.
Wahyu P. Wibowo
Ikigai Coach
