Minggu, 16 Februari 2025
Dalam perjalanan hidup ini, manusia selalu mencari kebahagiaan. Ada yang menemukannya dalam kekayaan, ada yang mengejarnya dalam kehormatan, dan ada pula yang merasa tenang dalam pencapaian pribadi. Namun, seiring waktu, kita menyadari bahwa kebahagiaan yang bersumber dari hal-hal duniawi sering kali rapuh dan mudah sirna. Bacaan suci hari ini membawa kita ke dalam permenungan yang lebih dalam: di mana letak sukacita sejati?
Nabi Yeremia, dalam suaranya yang tegas dan penuh hikmat, mengingatkan kita akan perbedaan mencolok antara mereka yang mengandalkan manusia dan mereka yang percaya kepada Tuhan (Yer. 17:5-8). Seperti seorang sahabat lama yang telah melihat begitu banyak penderitaan dan kegagalan, Yeremia berbicara dengan nada yang penuh kasih tetapi juga tajam. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,” serunya. Bayangkan sebuah semak belukar yang tumbuh di tanah kering, terpapar matahari tanpa air, meranggas tanpa harapan. Begitulah hati yang menjauh dari Tuhan—kering, rapuh, tanpa kehidupan.
Sebaliknya, mereka yang mengandalkan Tuhan adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Batangnya kokoh, daunnya hijau, dan akarnya menembus dalam ke bumi. Ia tidak takut akan panas, tidak cemas saat kemarau, sebab sumber kehidupannya tak tergantung pada keadaan sekitar. Christopher J.H. Wright, dalam The Message of Jeremiah (2001), menegaskan bahwa bagi Yeremia, iman bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi komitmen total kepada Tuhan. Orang yang mempercayakan hidupnya kepada Tuhan akan tetap bertumbuh, bahkan di tengah badai kehidupan.
Yesus, dalam Injil Lukas (Luk. 6:17,20-26), menghadirkan kebahagiaan dalam cara yang paradoksal. “Berbahagialah kamu yang miskin,” katanya. Dunia akan bertanya, bagaimana mungkin kemiskinan bisa membawa kebahagiaan? Namun, Yesus tidak berbicara tentang kebahagiaan yang bersifat material, melainkan tentang sukacita yang datang dari pemenuhan batin. Mereka yang miskin di hadapan Allah, yang menyadari bahwa segalanya berasal dari-Nya, akan menerima berkat Kerajaan-Nya.
N.T. Wright, dalam Luke for Everyone (2004), menguraikan bahwa ajaran Yesus ini bukanlah glorifikasi atas penderitaan, tetapi panggilan untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Mereka yang menangis sekarang akan tertawa, mereka yang lapar akan dikenyangkan. Ini bukan janji kosong, melainkan jaminan bahwa Tuhan melihat, memahami, dan pada akhirnya akan membalikkan keadaan bagi mereka yang setia.
Rasul Paulus menegaskan makna terdalam dari harapan kita dalam 1 Korintus 15:12,16-20. Kebangkitan Kristus bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah, tetapi dasar dari iman kita. Tanpa kebangkitan, segalanya sia-sia. Karl Barth, dalam Church Dogmatics (1936), menulis bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya kemenangan atas kematian, tetapi juga janji bahwa hidup kita tidak akan berakhir dalam kehampaan. Kita boleh berdukacita, tetapi kita tidak kehilangan harapan. Kita boleh menghadapi penderitaan, tetapi kita tetap memiliki sukacita yang tidak dapat diambil oleh dunia.
Dalam perjalanan rohani kita, pertanyaan besar yang perlu kita renungkan adalah: di mana kita menaruh kepercayaan kita? Apakah kita mengandalkan manusia dan dunia, yang sering kali berubah dan tak menentu? Ataukah kita menanam akar iman kita di tepi aliran air Tuhan, yang tidak pernah kering?
Santo Agustinus, dalam Confessiones (397), dengan indah menulis, “Hati kami gelisah, sampai ia menemukan perhentian dalam Engkau.” Sukacita sejati bukanlah tentang memiliki hidup yang bebas dari tantangan, tetapi tentang keyakinan bahwa dalam segala situasi, Tuhan beserta kita. Inilah sukacita yang sejati, yang bertahan selamanya.
Daftar Pustaka:
- Wright, Christopher J.H. The Message of Jeremiah. InterVarsity Press, 2001.
- Wright, N.T. Luke for Everyone. Westminster John Knox Press, 2004.
- Barth, Karl. Church Dogmatics. T&T Clark, 1936.
- Agustinus, Santo. Confessiones. 397.