Dalam terang sabda Allah hari ini, kita diundang untuk membuka hati pada kehadiran mukjizat Allah, yang hadir dalam keheningan tetapi penuh daya. Kisah-kisah dalam Kitab Suci sering kali menjadi cermin bagi perjalanan hidup kita, di mana rahmat Allah terus-menerus menjamah, memulihkan, dan mengangkat kita dalam segala situasi.
Ketika Nabi Yesaya menulis kepada umat Israel dalam bacaan pertama, ia menyampaikan janji Allah yang penuh kelembutan: “Engkau akan disebut Yang Berkenan kepada-Ku dan negerimu disebut Yang Beroleh Suami.” Ini adalah janji pemulihan yang tidak hanya bersifat simbolis tetapi juga menyentuh inti dari hubungan manusia dengan Allah. Menurut Henri Nouwen, janji ini menunjukkan Allah yang mencintai manusia dengan kasih tak bersyarat, seperti seorang mempelai yang memandang kekasihnya dengan penuh kasih. Dalam terang kasih ini, bahkan kegagalan dan kehancuran tidak mampu memadamkan harapan. Umat yang dahulu dipandang “ditinggalkan” kini disebut “berkenan.”
Refleksi ini membawa kita kepada kenyataan bahwa Allah memulihkan martabat manusia yang sering kali terabaikan atau terinjak. Dalam dunia modern, hal ini mengingatkan kita untuk tidak kehilangan identitas sebagai umat yang dikasihi. Gedung-gedung yang megah dan kemajuan teknologi sering kali menjadi simbol keberhasilan, tetapi tanpa hati yang berpusat pada kasih Allah, semua itu hanya akan menjadi simbol kosong.
Beralih ke bacaan kedua, Rasul Paulus mengingatkan bahwa karunia yang kita miliki adalah anugerah Roh Kudus. Namun, yang sering terlupakan adalah sifat kolegial dari karunia ini. St. Thérèse dari Lisieux, seorang dokter Gereja, pernah menyatakan, “Tanpa kasih, semua karunia itu seperti bunga yang layu.” Setiap bakat dan keahlian yang kita miliki baru akan menemukan maknanya ketika diarahkan untuk melayani sesama. Gereja Katolik dalam dokumen Christifideles Laici menegaskan bahwa seluruh umat Allah dipanggil untuk mengambil bagian dalam perutusan Kristus melalui pemanfaatan karunia unik masing-masing. Dengan demikian, hidup kita bukanlah tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang memberi yang terbaik untuk membangun tubuh Kristus.
Puncak refleksi kita terletak pada kisah mukjizat di Kana, seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes. Mukjizat ini adalah yang pertama dari tujuh tanda yang Yesus lakukan, dan semuanya diarahkan untuk mengungkapkan kemuliaan Allah. Namun, mukjizat di Kana memiliki nuansa keintiman yang mendalam. Dalam suasana pesta, ketika anggur habis—sebuah simbol kebahagiaan yang menghilang—Yesus hadir dan mengubah air menjadi anggur terbaik.
Pandangan para ahli tafsir menyoroti bahwa mukjizat ini bukan hanya tentang kuasa Yesus atas materi, tetapi tentang bagaimana Dia menjawab kebutuhan manusia dengan kasih yang melimpah. Karl Rahner, teolog Katolik terkemuka, melihat mukjizat di Kana sebagai gambaran awal dari Ekaristi, di mana Allah memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Air yang biasa berubah menjadi anggur terbaik, seperti halnya roti dan anggur dalam Ekaristi menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Rahner menekankan bahwa ini adalah tanda kehadiran Allah yang memperbarui segala sesuatu, termasuk aspek yang paling biasa dalam kehidupan kita.
Satu hal yang menarik dalam kisah ini adalah peran Maria, ibu Yesus. Ketika Maria berkata kepada para pelayan, “Apa pun yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah,” ia menunjukkan iman yang mendalam kepada Putranya. Maria tidak memaksakan solusi; ia hanya mempercayakan segalanya kepada Yesus. Maria adalah teladan sempurna dari umat beriman yang hidup dalam kepercayaan penuh kepada Allah. Bagi umat Katolik, Maria adalah sosok yang selalu membawa kita kepada Putranya, seperti tertuang dalam ajaran Gereja tentang devosi kepada Maria.
Mukjizat Kana juga mengajarkan kita untuk memiliki hati yang peka terhadap kehadiran Allah. Dalam dunia yang sibuk, sering kali kita kehilangan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kecil dari kasih Allah. Tetapi seperti air yang berubah menjadi anggur, Allah bekerja dalam hal-hal yang sederhana, memperbarui dan mengubah hidup kita menjadi lebih bermakna.
Refleksi ini mengundang kita untuk memandang hidup sebagai pesta yang melibatkan Allah sebagai tuan rumah. Ketika sukacita kita memudar, Allah hadir untuk memulihkannya. Ketika karunia kita terasa kecil, Allah memberikan rahmat-Nya untuk memperbesar dampaknya. Dan ketika kita merasa jauh dari-Nya, Allah menunjukkan bahwa Dia selalu dekat, siap melakukan mukjizat besar dalam hidup kita, jika saja kita membuka hati kita kepada-Nya.
Saudara-saudari, bacaan hari ini mengajarkan bahwa Allah memulihkan, mempersatukan, dan menghadirkan sukacita melalui kasih-Nya. Mukjizat di Kana adalah undangan bagi kita untuk mempercayai Allah dalam setiap aspek kehidupan, sekecil apa pun. Semoga kita dapat terus membuka hati dan hidup kita bagi karya besar-Nya, menjadi saksi kasih Allah yang nyata di dunia. Amin.