(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Perayaan Ekaristi Hari Sabtu/Minggu, 1/2 Maret 2025
Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Rama, Kaum muda, Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Kristus
- Pada hari Rabu Abu, 5 Maret nanti, kita akan memasuki masa Prapaskah, masa yang disediakan secara khusus untuk memperbarui diri, dalam dinamika semakin mengasihi, semakin peduli, semakin bersaksi. Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaruan diri itu. Dalam suratnya yang pertama kepada orang-orang Korintus, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus telah menang melawan kuasa dosa. Atas dasar keyakinan iman itu, kita dinasihati supaya tetap berdiri teguh, tidak goyah dan giat selalu dalam perkerjaan Tuhan, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (bdk. 1 Kor 15:58). Selanjutnya melalui Injil Lukas (Luk 6:39-45), Tuhan Yesus mengingatkan kita akan pentingnya mawas diri dan tidak mudah melihat kekurangan orang lain. Kita juga dinasehati agar selalu sadar akan kelemahan diri sendiri (ay. 39). Kita diajak untuk pandai-pandai memeriksa diri apakah kita mampu menghasilkan buah yang baik yang bisa dirasakan orang lain (ay. 44). Perbuatan baik dengan sendirinya akan mengalir dari hati yang baik. (ay. 45).
- Nasihat Rasul Paulus ini meneguhkan niat kita untuk menjadi Peziarah Pengharapan, menanggapi Perayaan Tahun Yubileum 2025. Mengenai pengharapan, Paus Fransiskus menulis : “Pengharapan lahir dari kasih dan didasarkan pada kasih yang memancar dari hati Yesus yang tertikam di kayu salib” (Spes Non Confundit, no. 3). Sebelumnya Paus menyatakan “Semua orang tahu apa artinya berharap. Dalam hati setiap orang, harapan bersemayam sebagai keinginan dan kerinduan akan hal-hal baik yang akan datang, meskipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Meski demikian, ketidakpastian mengenai masa depan kadang-kadang dapat menimbulkan perasaan yang saling bertentangan… Seringkali kita menjumpai orang-orang yang putus asa, pesimis dan sinis terhadap masa depan, seolah-olah tidak ada yang bisa membawa kebahagiaan bagi mereka …” (Spes non Confundit no 1). Situasi batin seperti ini seringkali dialami oleh saudari-saudara kita yang lemah dan miskin. Ini terjadi karena saudarisaudara kita ini terpinggirkan, kekurangan atau bahkan sama sekali tidak mempunyai akses terhadap sumber daya apa pun yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar sebagai manusia yang bermartabat.
- Bersama-sama dengan saudari-saudara kita yang lemah dan miskin ini kita ingin berjalan bersama-sama sebagai peziarah pengharapan. Seperti dinyatakan oleh Paus Fransiskus, harapan bersumber pada iman bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik akan menyempurnakannya (bdk Flp 1:6; Kej 1:4.10.12.18.21.25.31; Why 21:1.10.11). Harapan sejati akan membuahkan kepedulian yang pada gilirannya akan mewujud dalam berbagai gerakan kreatif sebagai tanda bahwa pengharapan tidak sia-sia (bdk Spes Non Confundit no 7-15).
Saudari-saudara yang terkasih,
- Perayaan Tahun Yubileum 2025 ini juga meneguhkan komitmen kita untuk mewujudkan Arah Dasar (ARDAS) Keuskupan Agung Jakarta Tahun 2025, yakni “Kepedulian Lebih Kepada Saudari-Saudara Kita Yang Lemah dan Miskin”. Siapakah saudari-saudara kita yang lemah dan miskin? Mengapa kita perlu mempunyai kepedulian lebih? Orang yang paling miskin dan lemah pada masa Perjanjian Baru adalah orang yang kehilangan segalanya, baik akses kebutuhan ekonomi maupun kehilangan keluarga dan dukungan sosial. Ia biasanya menjadi gelandangan; dianggap sebagai orang asing yang tidak mempunyai akses bantuan dari anggota keluarga maupun komunitas sekitarnya. Ia terpaksa mengemis karena tidak mempunyai sumber daya apapun, terutama ladang dan anggota keluarga yang dapat membantunya. Pada jaman sekarang, orang miskin dipahami sebagai individu atau kelompok yang kekurangan sumber daya keuangan, dukungan sosial dan kebutuhan penting lainnya untuk memenuhi standar kebutuhan hidup dasar mereka. Masih banyaknya orang miskin di sekitar kita – sebagaimana dilaporkan oleh Badan Statistik Nasional (=BPS) menjadi kepedulian kita bersama. Kita bersyukur bahwa menurut BPS yang sama, angka kemiskinan cenderung menurun. Namun sayang penurunan kemiskinan ini dibarengi dengan kenaikan kesenjangan sosial. Indikator ketimpangan distribusi pendapatan, justru naik baik di wilayah Daerah Khusus Jakarta dan Jawa Barat, yang sebagian wilayahnya – Tangerang dan Bekasi – masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Jakarta.
Saudari-saudara yang terkasih,
- Kitab Suci banyak menceritakan kisah-kisah Yesus yang melihat, mendengarkan, menyentuh, merasakan dan kemudian tergerak hati-Nya
oleh belas kasihan ketika bertemu dengan orang-orang sakit, tersingkir, menderita dan berdosa. Dalam kisah “Yesus Memberi Makan kepada Lebih dari Lima Ribu Orang” (Mrk 6:31-44), Tuhan Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan ketika melihat orang banyak yang mengikuti-Nya mengalami kelaparan. Yesus meminta para murid bertanggung jawab untuk memberi makan, “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:37). Walaupun ada keterbatasan, Yesus minta para murid-Nya untuk berani mengambil keputusan dan terlibat dalam memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan itu. Ketika ada kehendak dan keberanian untuk mengambil keputusan, keterbatasan para murid dilengkapi oleh Tuhan Yesus (Mrk 6:37-38).
- Dalam perumpamaan tentang “Pengadilan Terakhir” (Mat 25:31-40), Raja akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan mereka akan menerima Kerajaan karena semasa hidupnya mereka memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi tumpangan kepada orang asing, melawat orang sakit, dan mengunjungi orang yang dipenjara (Mat 25:34-36). Tuhan menyamakan Diri-Nya dengan orang-orang kecil ini (Mat 25:40), dengan orang yang lapar, telanjang, asing, sakit dan dipenjara. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).
Saudari-saudara yang terkasih,
- Dalam kegiatan Aki Puasa Pembangunan (=APP) 2025 nanti, hendaknya kita sampai pada penyusunan rencana dan gerakan dalam bentuk aksi nyata yang lebih transformatif dan berkelanjutan, sebagai perwujudan belarasa untuk membantu pemberdayaan saudari-saudara kita yang lemah dan miskin. Kita berharap mampu menemukan jalan untuk mengatasi akar masalah yang dihadapi: mengapa mereka menjadi lemah dan miskin. Harapannya, aksi kita bersama dapat mengubah hidup saudari-saudara kita ini menjadi lebih baik.
- Saya berharap jiwa Tahun Yubileum dan ARDAS KAJ tahun 2025 ini sungguh mendorong upaya-upaya aksi nyata APP kita tahun ini. Aksi belarasa yang berorientasi pada pemberdayaan biasanya lebih dapat membawa dampak perubahan. Upaya-upaya sebagaimana direncanakan oleh Dewan Karya Pastoral seperti Gerakan Ketahanan Pangan, perhatian pada asupan gizi anak melawan tengkes (stunting), mendorong berkembangnya
Usaha Kecil, dapat menjadi salah satu cara konkret untuk menguatkan dan memberdayakan saudari-saudara kita itu. Sementara bantuan-bantuan karitatif juga perlu terus diusahakan khususnya bagi saudari-saudara kita yang termasuk kelompok ultra mikro – artinya yang paling miskin di antara yang miskin.
Saudari-saudara yang terkasih,
- Pada kesempatan ini, dengan tulus saya ingin menyampikan penghargaan atas prakarsa-prakarsa baik yang telah dan sedang dilakukan umat Keuskupan Agung Jakarta dalam upaya ikut serta menciptakan kesejahteraan bersama. Individu, komunitas, kelompok, dan lembaga-lembaga telah bekerjasama untuk merawat dan mengambangkan upaya-upaya ini. Semoga dengan semangat berjalan bersama sebagai peziarah pengharapan kita tidak pernah lelah berusaha menemukan jalan-jalan baru yang dapat dilihat sebagai tandatanda pengharapan.
- Akhirnya bersama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu / Bapak / Suster / Bruder / Frater/ Kaum Muda, Remaja dan Anak-Anak semua yang dengan beraneka cara terlibat dalam karya perutusan Keuskupan Agung Jakarta. Kita berharap melalui berbagai aksi belarasa yang kita jalankan, kita terus dapat berkontribusi untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, wujud nyata keselamatan bagi saudari-saudara kita yang miskin, lemah dan difabel. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga dan komunitas Anda.

+ Kardinal Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
