Bayangan seorang gadis muda muncul dari sejarah, membawa pesan keberanian dan iman yang melampaui zaman. Santa Agnes, perawan dan martir yang menyerahkan hidupnya kepada Kristus, menjadi simbol dari keteguhan yang tak tergoyahkan. Hidupnya adalah sebuah puisi tentang kesetiaan, di mana cinta akan Allah menjadi inti dari setiap pilihan, bahkan hingga pengorbanan hidupnya.
Bacaan Kitab Suci hari ini, Ibrani 6:10-20 dan Markus 2:23-28, mengalir dengan pesan harapan yang kuat, selaras dengan kisah Agnes yang telah lama menjadi inspirasi bagi Gereja. Dalam surat kepada jemaat Ibrani, kita mendengar janji tentang Allah yang tidak pernah melupakan kasih dan kerja keras umat-Nya. Penulis Ibrani menegaskan, “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya” (Ibrani 6:10). Ayat ini berbicara langsung kepada kita, mengingatkan bahwa kesetiaan seperti yang ditunjukkan Agnes tidak pernah berlalu sia-sia di hadapan Allah.
Di bawah ancaman penyiksaan, Agnes berdiri kokoh, menolak untuk menyerah kepada tekanan kekaisaran Romawi. Hidupnya mencerminkan janji Ibrani 6:19, bahwa pengharapan adalah “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.” Teolog N.T. Wright dalam The New Testament and the People of God (1992) menggambarkan pengharapan ini sebagai kekuatan yang menjaga umat beriman di tengah badai kehidupan. Agnes, dengan keberaniannya, menjadi jangkar iman bagi banyak orang, menunjukkan bahwa di tengah ancaman terbesar sekalipun, kasih Allah adalah perlindungan yang sejati.
Kemudian, dari Injil Markus 2:23-28, kita belajar tentang kasih Allah yang melampaui hukum dan tradisi manusia. Ketika Yesus berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27), Dia mengingatkan kita bahwa cinta kepada Allah tidak dapat dibatasi oleh aturan-aturan kaku. Kisah Agnes menghidupkan ajaran ini. Ketika hukum Romawi mencoba menundukkannya untuk menyangkal imannya, Agnes memilih untuk tetap setia kepada hukum kasih Allah. Seperti yang dijelaskan William Lane dalam The Gospel According to Mark (1974), Yesus mengajarkan bahwa inti dari hukum adalah pembebasan, bukan belenggu. Agnes, dalam keberaniannya, adalah cermin nyata dari kasih yang membebaskan ini.
Membayangkan Agnes di saat-saat terakhir hidupnya, kita melihat seorang gadis muda yang berdiri di hadapan singa dan api, namun tidak tergoyahkan. Di matanya ada cahaya harapan, cahaya yang bersumber dari keyakinan akan janji Allah. Dunia di sekelilingnya mungkin melihatnya sebagai korban, tetapi iman Kristiani mengenalnya sebagai pemenang sejati. Dia tidak hanya menolak untuk menyerah pada ancaman, tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa kasih kepada Allah adalah kekuatan yang tak dapat dihancurkan.
Refleksi ini memanggil kita untuk bertanya: bagaimana dengan iman kita sendiri? Di tengah badai kehidupan modern, sering kali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Santa Agnes, melalui hidupnya, mengajarkan bahwa di mana ada kasih yang murni kepada Allah, di situ ada keberanian untuk bertahan. Dia mengingatkan bahwa kesetiaan adalah panggilan kita, dan Allah, dengan kasih-Nya yang abadi, tidak pernah melupakan pekerjaan baik yang kita lakukan.
Hari ini, dalam cahaya perayaan Santa Agnes, kita diajak untuk menjadikan hidup kita jangkar yang kuat bagi iman kita, sebagaimana dia telah menjadi jangkar iman bagi banyak generasi. Kisahnya adalah undangan untuk hidup dalam kasih Allah, melampaui batasan hukum dan tradisi, dan menemukan keberanian untuk berdiri teguh, apa pun tantangan yang kita hadapi.
Daftar Pustaka
- Wright, N.T. (1992). The New Testament and the People of God. Fortress Press.
- Lane, William L. (1974). The Gospel According to Mark. Eerdmans Publishing.
- Alkitab Terjemahan Baru (1974). Lembaga Alkitab Indonesia.
Trimakasih mas Abdi, renungan ini sangat menginspirasi kami. Kita tunggu refleksi dan renungan berikutnya.
sami-sami Pak…puji Tuhan