Kamis, 6 Februari 2025 – Sebuah Perjalanan Jiwa dalam Ibrani 12:18-19, 21-24 dan Markus 6:7-13, Menggema Bersama Santo Paulus Miki
Bayangkan sejenak: langkah-langkahmu menapaki tanah yang gersang, suara detak jantungmu berirama dengan bisikan angin yang membawa aroma gurun. Di depanmu, dua gunung berdiri—yang satu, Sinai, dibalut awan pekat dan kilatan petir, penuh gemuruh suara yang menggetarkan jiwa. Yang lainnya, Sion, bersinar lembut dalam cahaya keemasan, mengundang dengan keheningan yang penuh damai. Inilah panggilan dari Surat kepada Jemaat Ibrani, bukan sekadar bacaan, tetapi sebuah undangan untuk menapaki perjalanan rohani melintasi ketakutan menuju kasih yang sempurna.
Ibrani berbicara bukan hanya tentang perbedaan tempat, melainkan tentang transisi batin manusia. Di Sinai, kita adalah pengembara yang gemetar, terperangkap dalam rasa takut akan penghukuman. Namun di Sion, kita menjadi tamu undangan dalam perjamuan surgawi, dikelilingi oleh roh orang benar yang telah disempurnakan. Seperti kata Raymond E. Brown dalam The New Jerome Biblical Commentary (1990), “Ini bukan sekadar perubahan lanskap, tetapi transformasi eksistensial—dari ketakutan menuju persekutuan.”
Lalu, mari melangkah ke jalanan berdebu di Galilea. Di sana, Yesus mengutus para murid-Nya, tidak dengan persenjataan atau jaminan materi, tetapi hanya tongkat sebagai simbol keberanian dan kepercayaan. Mereka pergi seperti daun yang diterbangkan angin, ringan namun penuh dengan kuasa ilahi. Hans Urs von Balthasar dalam The Glory of the Lord (1982) menulis, “Kemiskinan mereka bukan kelemahan, melainkan kanvas kosong di mana Allah melukis karya-Nya yang agung.”
Dan di tengah semua ini, gema peringatan Santo Paulus Miki dan rekan-rekannya, martir Jepang, berdentang seperti lonceng yang menggetarkan jiwa. Mereka adalah saksi hidup dari Ibrani dan Markus: berjalan tanpa takut, menghadapi salib dengan kepala terangkat tinggi, bibir mereka melantunkan doa, mata mereka tertuju pada Sion surgawi. Kematian mereka bukan akhir, melainkan puncak sebuah simfoni iman yang agung.
Refleksi ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang kita hari ini. Di mana kita berdiri? Di kaki Sinai yang penuh ketakutan, atau di lereng Sion yang penuh harapan? Apakah kita mengandalkan jaminan duniawi, ataukah kita berani melangkah dalam kepercayaan murni seperti para murid dan para martir?
Kisah Santo Paulus Miki, dkk; Martir
Pada tahun 1588, penguasa Jepang memerintahkan agar para misionaris yang berkarya di Jepang segera meninggalkan negeri itu. Mereka yang tidak mematuhi perintah itu akan dibunuh. Perintah ini baru terlaksana 9 tahun kemudian yakni pada tahun 1597. Pada tahun inilah martir-martir pribumi ditangkap dan disiksa.
Bersama dengan mereka itu terdapat juga 6 misionaris Spanyol dari Ordo Santo Fransiskus. Dari antara 20 orang martir pribumi Jepang, terdapat seorang yang bernama Paulus Miki. Ia seorang imam Yesuit yang pandai berkhotbah. Ketika terjadi penganiayaan, Paulus berumur 33 tahun. Selain dia, dikenal juga dua orang guru agama, yaitu Yohanes Goto (19 tahun) dan Yakobus Kisai. Keduanya sudah diterima dalam novisiat bruder-bruder serikat Yesus di Miako. Penyiksaan atas mereka sungguh kejam. Telinga mereka disayat, tubuh mereka di sesah hingga memar dan berdarah. Setelah itu mereka diantar berkeliling kota untuk dipertontonkan kepada seluruh rakyat.
Kepada penguasa yang menyiksa mereka, Paulus Miki atas nama kawan-kawannya menulis sebuah surat bunyinya: Apakah dengan penyiksaan ini kalian sanggup merampas harta dan kemuliaan yang telah di berikan Tuhan kepada kami? Seyogiayanya kamu harus bergembira dan mengucap syukur atas kemuliaan yang diberikan oleh Tuhan kepada kami. Selanjutnya Paulus Miki dan teman-temannya digiring ke sebuah bukit di pinggir kota Nagasaki. Disana sudah tersedia 26 salib. Rakyat banyak sudah menanti disana untuk menyaksikan penyiksaan atas Paulus Miki dan teman-temannya. Ayah Yohanes Goto pun ada diantara mereka untuk menghibur dan meneguhkan anaknya. Para martir itu disesah dan disalibkan di hadapan rakyat banyak. Namun mereka tidak takut akan semua siksaan ngeri itu. Dari atas salibnya, Paulus Miki terus berkhotbah guna meneguhkan iman kawan-kawannya. Akhirnya lambung mereka ditusuk dengan tombak hingga mati.
Daftar Pustaka
- Brown, Raymond E., et al. The New Jerome Biblical Commentary. Prentice Hall, 1990.
- von Balthasar, Hans Urs. The Glory of the Lord: A Theological Aesthetics. Ignatius Press, 1982.
- LaRue, Gerald A. Old Testament Life and Literature. Allyn and Bacon, 1968.
- Iman Katolik. (n.d.). Kisah Santo Paulus Miki.