By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    6 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    2 months ago
    Latest News
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    1 week ago
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    2 months ago
    Mengapa Kaki Yesus Tidak Dipatahkan?
    2 months ago
    Lakukanlah ini sebagai Kenangan akan Aku
    2 months ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Allah Tritunggal: Ketika Kasih Menjadi Pusat Kehidupan
    6 hours ago
    Panduan Studi: Ensiklik Magnifica Humanitas – Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan
    5 days ago
    Keuskupan Agung Pontianak Sambut PKSN XIII 2026: dari Teknologi ke Perjumpaan, Menjaga Suara dan Wajah Manusia
    5 days ago
    Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
    5 days ago
    Pentakosta: Ketika Allah Masuk dalam Luka-Luka Manusia
    6 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Panduan Studi: Ensiklik Magnifica Humanitas – Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan
    5 days ago
    Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
    5 days ago
    Paus Leo XIV Siapkan Ensiklik Pertama tentang AI dan Martabat Manusia
    2 weeks ago
    Paus Leo XIV: Membaca Adalah Jalan Merawat Kebijaksanaan di Era Digital
    3 weeks ago
    Misa di Casa Santa Marta Tandai Setahun Wafat Paus Fransiskus
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    6 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    6 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    11 months ago
    Latest News
    Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
    5 days ago
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    1 week ago
    Menjadi Duta Bahasa: Badan Bahasa Ingin Gandeng Para Misionaris Indonesia
    3 weeks ago
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    3 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    2 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    2 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    2 weeks ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    2 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    2 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    2 months ago
Reading: Herodes Sejatinya Tidak Membenci Yohanes Pembaptis
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
IDEARenungan

Herodes Sejatinya Tidak Membenci Yohanes Pembaptis

Kasih yang sejati tidak hanya untuk mereka yang kita kenal, tetapi juga bagi orang asing, mereka yang terpinggirkan, para tahanan yang terikat, dan jiwa-jiwa yang terluka.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: February 6, 2025 10:36 am
By Gabriel Abdi Susanto 1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

Jumat, 7 Februari 2025 – Cahaya Kasih dan Bayang-bayang Kekuasaan

Di sebuah kota yang penuh hiruk-pikuk, seorang lelaki tua duduk di sudut jalan. Tatapannya tajam, meskipun wajahnya dihiasi garis-garis waktu. Ia adalah seorang pengembara rohani, membawa pesan yang telah bertahan ribuan tahun: kasih harus tetap hidup di antara manusia. “Peliharalah kasih persaudaraan,” bisiknya, mengulang kata-kata dari kitab yang ia junjung tinggi (Ibr. 13:1). Di dunia yang semakin membeku oleh egoisme dan kepentingan diri, pesan itu bergetar seperti angin lembut yang ingin merasuk ke hati setiap orang yang mendengar.

Kasih yang sejati tidak hanya untuk mereka yang kita kenal, tetapi juga bagi orang asing, mereka yang terpinggirkan, para tahanan yang terikat, dan jiwa-jiwa yang terluka. Dunia modern sering kali berjalan dengan kecepatan yang membuat kita lupa, tetapi suara dari masa lampau ini meneguhkan bahwa kasih harus menjadi rumah di mana semua orang dapat menemukan kehangatan. Karl Barth dalam Church Dogmatics (1956) mengatakan bahwa kasih Kristus tidak berubah, tidak tergerus zaman, tidak berkurang oleh ketakutan. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Ia adalah cahaya yang tak pernah redup.

Namun, di sisi lain perjalanan ini, bayang-bayang gelap juga bergerak. Di istana Herodes, kemegahan dan ketakutan bercampur. Sang raja duduk di tahtanya, dikelilingi oleh kegemerlapan pesta, tetapi hatinya dipenuhi kegalauan. Di dalam penjara yang lembap dan sunyi, Yohanes Pembaptis menunggu nasibnya. Ia adalah suara yang tidak bisa dibungkam, seorang yang berani menegur Herodes atas pernikahannya dengan Herodias. Dan karena suara itu, ia harus membayar dengan nyawanya (Mrk. 6:14-29).

Herodes sejatinya tidak membenci Yohanes. Bahkan, ia menikmati mendengar ajaran-ajaran sang nabi. Tetapi kekuasaan sering kali menuntut harga yang mahal—dan ketakutan lebih kuat dari keberanian. Pada malam pesta itu, ketika seorang gadis menari dengan keanggunan yang memikat, sebuah janji terucap. “Apa saja yang kau minta, akan kuberikan kepadamu,” kata Herodes. Dan ketika permintaan kepala Yohanes Pembaptis muncul, wajahnya berubah pucat. Ia terjebak dalam kata-katanya sendiri, terbelenggu oleh gengsi dan tekanan politik.

Raymond E. Brown dalam The Death of the Messiah (1994) menafsirkan momen ini sebagai tragedi klasik kekuasaan yang korup: kebenaran ditekan, bukan karena dibenci, tetapi karena menantang status quo. Yohanes tidak melawan dengan pedang, tetapi dengan kebenaran yang tajam. Namun, kekuasaan dunia tidak selalu siap menghadapi cermin kejujuran.

Seperti dua sisi mata uang, kasih dan ketakutan berdiri berseberangan. Di satu sisi, ada panggilan untuk hidup dalam kasih yang penuh keberanian. Di sisi lain, ada bayang-bayang kekuasaan yang goyah karena ketidakpastian. Dalam dunia kita saat ini, pertanyaan itu masih relevan: apakah kita akan memilih untuk hidup dalam kasih yang setia, meski harus menghadapi konsekuensi berat? Ataukah kita akan tunduk pada tekanan dan ketakutan seperti Herodes, yang kehilangan kendali atas nuraninya sendiri?

Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship (1937) menegaskan bahwa menjadi murid Kristus adalah panggilan untuk berani, bahkan jika itu berarti menghadapi kematian. Yohanes Pembaptis telah membuktikannya. Dan kini, giliran kita untuk memutuskan di mana kita akan berdiri.

Daftar Pustaka:

  • Barth, Karl. Church Dogmatics. T&T Clark, 1956.
  • Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship. SCM Press, 1937.
  • Brown, Raymond E. The Death of the Messiah. Yale University Press, 1994.

You Might Also Like

Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit

Penderitaan Bukanlah Tanda Kekalahan

Di Dalam Ruang Tertutup, Kasih Menembus Segala Ketakutan

Percaya Penuh pada Kuasa Allah

Kita Sering Mengalami Kelumpuhan Rohani

TAGGED:headlineherodesyohanes pembaptis
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Di Sinai, Kita Adalah Pengembara yang Gemetar
Next Article Memperkenalkan Neuropistis dalam Percakapan Sains dan Iman
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Allah Tritunggal: Ketika Kasih Menjadi Pusat Kehidupan
  • Panduan Studi: Ensiklik Magnifica Humanitas – Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan
  • Keuskupan Agung Pontianak Sambut PKSN XIII 2026: dari Teknologi ke Perjumpaan, Menjaga Suara dan Wajah Manusia
  • Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
  • Pentakosta: Ketika Allah Masuk dalam Luka-Luka Manusia

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?