Pada awal segala sesuatu, sebelum ada waktu dan ruang, hanya ada kehampaan yang melayang-layang dalam kegelapan yang pekat. Lalu, sebuah suara bergema, sabda yang melahirkan segala yang ada: “Jadilah terang!” Dan seketika, cahaya meledak dari kekosongan, membelah gelap menjadi siang dan malam, menghidupkan semesta yang belum tersentuh. Langit membentang, air memisahkan diri, daratan muncul, dan bumi mulai bernapas. Seperti seorang seniman yang dengan jemarinya membentuk keindahan dari tanah liat, Allah mengatur segala sesuatu dalam ritme yang sempurna, menciptakan harmoni dari kehampaan.
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah danau yang luas, cahaya yang sama bersinar dalam sosok manusia. Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Genesaret setelah perjalanan panjang. Begitu kaki-Nya menyentuh tanah, gelombang harapan bergetar di antara penduduk. Mereka mengenal-Nya. Dalam sekejap, berita menyebar ke seluruh pelosok desa, membuat orang-orang bergegas, membawa orang sakit, menyeret tandu, menempuh perjalanan jauh hanya untuk satu harapan: menyentuh-Nya. Bayangkan sejenak, seorang ibu yang menggendong anaknya yang lemah, seorang pria tua yang tertatih, seorang wanita yang matanya dipenuhi kerinduan. Mereka datang, mengulurkan tangan, dan hanya dengan menjamah jumbai jubah-Nya, tubuh-tubuh yang lelah itu menjadi baru. Cahaya kembali hadir, menyapu kegelapan yang melingkupi mereka.
Dalam kisah lain, jauh dari Genesaret, seorang perempuan juga membawa cahaya dengan cara yang berbeda. Santa Skolastika, saudari kembar Santo Benediktus, memilih hidup dalam doa dan keheningan. Setiap tahun, mereka bertemu dalam diskusi rohani yang mendalam. Pada suatu malam, ketika percakapan mereka semakin hangat dan jiwa mereka terangkat dalam kebersamaan, Skolastika memohon agar saudaranya tetap tinggal. Benediktus, yang teguh pada aturan biara, menolak. Maka, dengan keheningan yang sama yang selama ini menemaninya dalam doa, Skolastika menatap langit dan berbisik dalam hatinya. Seketika, badai besar melanda, hujan turun deras, memaksa Benediktus untuk tetap tinggal. Bukan kuasa yang menaklukkan aturan, melainkan kasih yang lebih dalam daripada hukum. Dalam badai malam itu, mereka menemukan kebersamaan yang tidak akan kembali lagi, karena tiga hari kemudian, Skolastika dipanggil pulang oleh Sang Cahaya sejati.
Walter Brueggemann dalam Genesis: Interpretation (1982) menyoroti bahwa penciptaan bukanlah sekadar tindakan di masa lampau, tetapi suatu pola yang terus berulang dalam sejarah manusia. Demikian pula, N.T. Wright dalam Jesus and the Victory of God (1996) melihat bahwa mukjizat-mukjizat Yesus adalah bagian dari kelanjutan karya penciptaan itu—membebaskan manusia dari penderitaan, memisahkan mereka dari kegelapan menuju terang.
Kisah Santa Skolastika mengajarkan bahwa terkadang terang tidak datang dalam gemuruh besar, tetapi dalam doa yang lirih, dalam hujan yang turun diam-diam, dalam cinta yang tak mengenal batas aturan. Pesta Santa Skolastika bukan sekadar mengenang seorang biarawati suci, tetapi panggilan untuk membiarkan terang itu masuk ke dalam hidup kita. Di tengah dunia yang dipenuhi dengan kebisingan dan ketergesaan, kita dipanggil untuk menemukan kembali cahaya yang membebaskan—cahaya yang tidak hanya memisahkan, tetapi juga menyatukan.
Daftar Pustaka
- Brueggemann, Walter. Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Atlanta: John Knox Press, 1982.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.
- Gregorius Agung. Dialogues. Terjemahan oleh Odo John Zimmerman. New York: Fathers of the Church, Inc., 1959.