By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    2 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    2 months ago
    Latest News
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    32 seconds ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    1 day ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    2 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    3 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    22 hours ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    1 day ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    2 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    3 days ago
    Cinta Mesti Terwujud dalam Perbuatan
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Paus Leo XIV: Prapaskah, Momen Menjaga Lisan Kita
    6 days ago
    Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2026: Belas Kasih Orang Samaria
    1 month ago
    Vatikan Tetapkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”
    1 month ago
    Bagaimana Gereja Katolik Dapat Menganulir Sebuah Perkawinan?
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    3 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    3 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    8 months ago
    Latest News
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
    It’s Not Just Money
    1 month ago
    Repetisi, Rutinitas dan Etos Shokunin
    1 month ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
Reading: Makna Di Balik Penciptaan Hawa
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > IDEA > Renungan > Makna Di Balik Penciptaan Hawa
IDEARenungan

Makna Di Balik Penciptaan Hawa

Hubungan antara Adam dan Hawa mencerminkan relasi yang mendalam, bukan sekadar hierarki.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: February 12, 2025 11:47 am
By Gabriel Abdi Susanto 1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

Kamis, 13 Februari 2025

Dalam kisah penciptaan di Kejadian 2:18-25, Tuhan melihat bahwa tidak baik bagi manusia untuk hidup seorang diri. Maka, dari tulang rusuk Adam, Ia menciptakan Hawa, penolong yang sepadan. Perikop ini menggambarkan bagaimana manusia dipanggil untuk hidup dalam relasi yang saling melengkapi. Ada keintiman, kepercayaan, dan keterikatan yang lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendiri. Dalam terang tradisi Yahudi dan Kristen, perikop ini juga menegaskan bahwa manusia bukan sekadar individu yang terpisah, melainkan makhluk sosial yang mendambakan kebersamaan.

Walter Brueggemann dalam bukunya Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching (1982) menyoroti bahwa kisah ini bukan sekadar tentang penciptaan perempuan, tetapi juga tentang panggilan manusia untuk hidup dalam persekutuan yang harmonis. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Adam dan Hawa mencerminkan relasi yang mendalam, bukan sekadar hierarki. Begitu pula Claus Westermann dalam Genesis 1-11: A Commentary (1984) menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan dalam perikop ini penuh dengan nuansa kasih dan kebersamaan, yang menjadi dasar bagi pemahaman teologis tentang pernikahan dan hubungan antar manusia.

Jika Kejadian 2:18-25 menggambarkan harmoni dalam relasi, Markus 7:24-30 menunjukkan ketegangan dan pergumulan dalam perjumpaan. Yesus, yang berada di wilayah asing, bertemu dengan seorang perempuan Siro-Fenesia yang memohon kesembuhan bagi anaknya. Jawaban awal Yesus tampak tajam, seolah menolak permintaannya dengan perumpamaan tentang anak-anak dan anjing. Namun, perempuan ini tidak menyerah. Ia menunjukkan iman yang teguh, dan akhirnya Yesus mengabulkan permintaannya.

Refleksi dari perikop ini mengungkapkan dinamika iman yang penuh tantangan. Perempuan Siro-Fenesia adalah simbol dari mereka yang berani memperjuangkan harapan meskipun dihadapkan pada rintangan. Donald Senior dalam The Gospel of Mark (1998) menjelaskan bahwa kisah ini adalah titik balik dalam pelayanan Yesus, yang semakin terbuka bagi bangsa-bangsa lain. William Lane dalam The Gospel of Mark (1974) menegaskan bahwa keberanian perempuan ini bukan sekadar ekspresi keputusasaan, tetapi tindakan iman yang percaya pada belas kasih Tuhan.

Kedua perikop ini, jika direnungkan secara bersama, menawarkan sebuah perjalanan dari keterasingan menuju perjumpaan. Jika dalam Kejadian 2 manusia dipanggil untuk hidup dalam relasi yang saling menghidupkan, maka dalam Markus 7, kita melihat bahwa relasi itu menuntut perjuangan dan keberanian. Kehidupan beriman bukan sekadar menerima, tetapi juga memperjuangkan harapan di tengah keterbatasan.

Dalam realitas kita hari ini, kita sering menemukan diri kita dalam dua situasi yang digambarkan oleh bacaan ini. Ada saat di mana kita menemukan kehangatan dalam kebersamaan, seperti Adam yang menerima Hawa sebagai bagian dari dirinya. Namun, ada pula saat di mana kita merasa harus berjuang untuk didengar dan diakui, seperti perempuan Siro-Fenesia yang tidak menyerah dalam menghadapi tantangan. Iman yang sejati bukan hanya tentang menikmati berkat, tetapi juga tentang keberanian untuk terus berharap, bahkan di tengah keheningan atau penolakan.

Dengan demikian, dua kisah ini mengundang kita untuk merenungkan: Bagaimana kita membangun relasi yang sejati? Bagaimana kita menghadapi penolakan dengan iman yang teguh? Seperti Adam yang mengenali Hawa sebagai bagian dari dirinya, dan seperti perempuan Siro-Fenesia yang tak gentar menghadapi tantangan, kita pun diajak untuk terus hidup dalam relasi yang penuh kasih dan iman yang tak tergoyahkan.


Daftar Pustaka

Brueggemann, Walter. Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Atlanta: John Knox Press, 1982.

Lane, William. The Gospel of Mark. Grand Rapids: Eerdmans, 1974.

Senior, Donald. The Gospel of Mark. Nashville: Abingdon Press, 1998.

Westermann, Claus. Genesis 1-11: A Commentary. Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1984.

You Might Also Like

Perkawinan di Kana, Maria Tidak Memaksakan Solusi Hanya Mempercayakan Segalanya

Dalam Bisikan Roh dan Hati yang Terbuka

Apakah Anda Sedang Membangun Menara Babel Anda Sendiri?

Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1

Konsili Yerusalem, Sebuah Titik Balik Teologis

TAGGED:headlinekeberanianmakhluk sosialperjuanganrelasi
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Inigo Podcast : Berdoa dengan Jujur
Next Article Kita Berada dalam Dunia yang Ditandai dengan Kebisuan Rohani
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
  • Anak yang Membutuhkan Bapa
  • Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
  • Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
  • Cinta Mesti Terwujud dalam Perbuatan

Recent Comments

  1. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  2. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  3. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  4. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  5. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?