Jumat, 13 Desember 2024 – Perayaan Wajib Santa Lusia, Perawan dan Martir
Yesaya 48:17-19 berbicara tentang Tuhan sebagai Penebus yang memimpin umat-Nya di jalan yang benar, memberikan damai sejahtera seperti sungai yang mengalir, dan keadilan seperti ombak lautan. Di sisi lain, Matius 11:16-19 menggambarkan generasi yang keras kepala, yang menolak hikmat meskipun telah diperlihatkan melalui Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri. Kedua bacaan ini saling melengkapi dalam menunjukkan paradoks kehidupan manusia: sebuah undangan untuk mengikuti terang Tuhan sering kali dihadapkan pada ketegaran hati manusia.
Santa Lusia, yang dirayakan hari ini, adalah lambang keberanian untuk menjadi terang di tengah gelapnya penganiayaan. Dalam hidupnya, Lusia menunjukkan kesetiaan total kepada Tuhan. Ia menolak untuk tunduk pada tekanan duniawi yang ingin memadamkan imannya. Seperti namanya, Lucia, yang berarti terang, ia adalah gambaran nyata dari keadilan dan damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan dalam kitab Yesaya.
Refleksi ini mengundang kita untuk melihat bagaimana hidup kita sering kali menyerupai generasi dalam Injil Matius—mengeluh dan menolak hikmat ketika ia tidak sesuai dengan keinginan kita. Yohanes yang asketis dianggap terlalu keras; Yesus yang mendekati para pendosa dianggap terlalu longgar. Kebenaran Tuhan sering kali tidak sesuai dengan ekspektasi kita, tetapi hikmat-Nya dibenarkan oleh perbuatan-Nya, seperti yang disampaikan Yesus.
Ahli tafsir William Barclay dalam The Gospel of Matthew (1956) menyoroti bahwa kritik Yesus terhadap generasi ini bukan hanya tentang ketidakpuasan mereka, tetapi tentang ketidaksediaan mereka untuk melihat kebenaran dalam berbagai cara Tuhan menyatakan diri-Nya. Barclay menyebut ini sebagai “kebutaan yang disengaja,” sebuah kondisi di mana manusia menutup diri dari kemungkinan besar hikmat Tuhan hadir di luar prasangka mereka.
Sementara itu, teolog Walter Brueggemann dalam Isaiah 40-66 (1998) menekankan bahwa pesan damai sejahtera dalam Yesaya 48:17-19 adalah panggilan untuk hidup yang berakar dalam hubungan yang benar dengan Tuhan. Hubungan ini membutuhkan ketaatan, bukan sekadar sebagai kewajiban, tetapi sebagai respons kasih kepada Dia yang memimpin dengan kelembutan dan keadilan.
Kisah Santa Lusia menggemakan tema ini. Ia memilih untuk menyalakan terang imannya meskipun harus membayar harga dengan nyawanya. Dalam terang hidupnya, kita diingatkan bahwa mengikuti Tuhan berarti membuka diri terhadap jalan-Nya, yang sering kali berbeda dari logika dunia. Seperti aliran sungai yang terus mengalir, terang Lusia tidak pernah padam, bahkan ketika kekerasan mencoba menghentikannya.
Perayaan Santa Lusia hari ini adalah momen untuk merenungkan bagaimana kita dapat menjadi terang dalam kegelapan, sebagaimana Yesaya memanggil kita untuk hidup dalam damai dan keadilan, dan Yesus mengundang kita untuk membuka diri terhadap hikmat-Nya. Sebagaimana Santa Lusia menjadi saksi keberanian iman, kita pun dipanggil untuk menjadi saksi dalam cara kita hidup di dunia yang sering kali tidak ramah terhadap kebenaran.
Daftar Pustaka
- Barclay, William. The Gospel of Matthew: Volume 2. Edinburgh: Saint Andrew Press, 1956.
- Brueggemann, Walter. Isaiah 40-66. Louisville: Westminster John Knox Press, 1998.
- Kelly, J.N.D. Early Christian Doctrines. San Francisco: HarperCollins, 1978.
