Ketika kita membaca perikop Kejadian 3:1-8, kita menyaksikan kisah yang menggambarkan awal kejatuhan manusia. Ular yang licik, simbol godaan dan tipu daya, membisikkan keraguan ke dalam hati Hawa, membuatnya dan Adam melanggar perintah Tuhan. Akibat dari pelanggaran ini, kesadaran baru yang mereka peroleh bukanlah kebijaksanaan ilahi, melainkan rasa malu dan ketakutan. Mereka bersembunyi dari Tuhan, merasa terasing dari kasih yang dahulu mereka alami dalam keselarasan sempurna dengan Sang Pencipta. Inilah awal dari keterasingan manusia dari Tuhan dan sesamanya, suatu kondisi yang terus berulang dalam sejarah umat manusia.
Sebaliknya, dalam Injil Markus 7:31-37, kita melihat bagaimana Yesus, Sang Firman yang menjelma, datang untuk memulihkan manusia dari keterasingan itu. Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap, menghadirkan pemulihan yang bukan sekadar fisik, tetapi juga eksistensial dan spiritual. Kata-kata “Effata!”—terbukalah!—menjadi seruan pembebasan, panggilan untuk keluar dari keterkungkungan dan kebisuan akibat dosa. Jika di dalam Kejadian, manusia menutup dirinya dari Allah, dalam Markus, Yesus justru membuka kembali jalan komunikasi dan persekutuan dengan-Nya.
Dalam terang dua bacaan ini, kita dapat merefleksikan kehidupan Santo Syrilius dan Metodius, dua bersaudara yang dikenal sebagai Rasul bagi bangsa Slavia. Seperti Yesus yang membuka telinga dan lidah orang yang bisu, kedua santo ini juga membuka hati dan pikiran bangsa-bangsa terhadap Injil melalui pewartaan dan penciptaan alfabet Glagolitik, yang kemudian berkembang menjadi alfabet Kiril. Tindakan mereka mencerminkan pemulihan komunikasi antara Allah dan manusia, yang sebelumnya rusak akibat dosa.
Para ahli tafsir dan teolog melihat kisah dalam Kejadian sebagai cerminan dari dilema fundamental manusia—keinginan akan kebijaksanaan yang justru membawa keterpisahan dari Allah. Karl Barth dalam “Church Dogmatics” (1936) menegaskan bahwa dosa adalah bentuk pemberontakan manusia terhadap ketergantungannya pada Tuhan. Sementara itu, N.T. Wright dalam “Simply Christian” (2006) menunjukkan bagaimana Injil bukan hanya menawarkan pengampunan tetapi juga pemulihan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.
Santo Syrilius dan Metodius menjalankan misi yang sejatinya adalah misi pemulihan ini. Mereka menghadapi tantangan besar dalam membawa Injil ke dalam budaya yang belum mengenal Kristus, tetapi mereka memahami bahwa Injil harus dapat diterima dalam bahasa yang dapat dipahami. Tindakan mereka menggemakan peristiwa Markus 7, di mana Yesus tidak hanya menyembuhkan tetapi juga memberikan kembali suara dan kehadiran dalam komunitas.
Dalam dunia modern yang dipenuhi kebisuan rohani—di mana banyak orang merasa kehilangan arah dan terasing dari kebenaran Injil—teladan Syrilius dan Metodius mengajak kita untuk menjadi saksi yang aktif. Mereka tidak hanya menerjemahkan teks, tetapi juga membangun jembatan budaya yang memungkinkan pewartaan Kristus diterima dengan lebih mendalam. Hari ini, kita pun dipanggil untuk menjadi penerjemah Injil dalam konteks kita masing-masing, membuka hati yang tertutup oleh ketakutan, dan memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan.
Maka, dari kejatuhan di Eden menuju penyembuhan di Galilea, hingga pewartaan di tanah Slavia, kita melihat bagaimana kasih Tuhan terus bekerja. Jika Kejadian menggambarkan manusia yang bersembunyi dalam ketakutan, Markus memperlihatkan bagaimana Kristus membuka kembali jalur komunikasi, dan akhirnya, dalam kisah Syrilius dan Metodius, Injil menjangkau lebih banyak jiwa. Perjalanan ini mengajak kita untuk tidak lagi bersembunyi dalam kebisuan dosa, tetapi melangkah maju dalam terang Injil, menggemakan seruan Kristus: “Effata!”—terbukalah!
Daftar Pustaka
- Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1936.
- Wright, N.T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense. New York: HarperOne, 2006.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
- Pelikan, Jaroslav. The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine. Chicago: University of Chicago Press, 1971.
- Schmemann, Alexander. For the Life of the World: Sacraments and Orthodoxy. Crestwood: St. Vladimir’s Seminary Press, 1973.