By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    3 weeks ago
    Latest News
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Psikolog: Keluarga Masa Kini Rentan Kehilangan Arah karena Mengejar Harga Diri di Luar Rumah
    3 weeks ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    3 weeks ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    3 weeks ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    OSOJI
    22 minutes ago
    Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian
    5 days ago
    Natal di Tengah Bencana: Merawat Harapan, Menjaga Ingatan
    1 week ago
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Iman yang Menyembuhkan, Syukur yang Menyelamatkan: Belajar dari Naaman dan Si Samaria yang Kembali
    3 months ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
    3 weeks ago
    Vatikan Tegaskan Monogami sebagai Janji Cinta Tak Terbatas
    4 weeks ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    1 month ago
    Ziarah ke Makam Paus Fransiskus; Kesederhanaan Itu Menyentuhku
    1 month ago
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 3
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    1 month ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    1 month ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    6 months ago
    Latest News
    OSOJI
    18 minutes ago
    Natal Perdana di Gereja Ibu Teresa Cikarang, Cahaya dan Sejarah Baru
    1 week ago
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Psikolog: Keluarga Masa Kini Rentan Kehilangan Arah karena Mengejar Harga Diri di Luar Rumah
    3 weeks ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    8 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    7 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    7 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    8 months ago
Reading: Kejahatan Kain Bukan Hanya Tentang Pembunuhan
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > IDEA > Renungan > Kejahatan Kain Bukan Hanya Tentang Pembunuhan
IDEARenungan

Kejahatan Kain Bukan Hanya Tentang Pembunuhan

Kain dan Habel melambangkan dua realitas kehidupan.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: February 16, 2025 11:54 am
By Gabriel Abdi Susanto 11 months ago
Share
4 Min Read
SHARE

Pada pagi yang dingin di padang, Kain berdiri dengan mata penuh amarah. Asap kurban saudaranya, Habel, naik ke langit dengan tenang, sementara korban yang ia persembahkan tetap di tanah, seolah tidak mendapat perhatian dari Tuhan. Rasa kecewa dan iri hati menggelegak di dalam dadanya, mengaburkan akal sehatnya. Dalam sekejap, kebencian yang ia pelihara berubah menjadi tindakan kejam yang mengguncang awal sejarah umat manusia—pembunuhan pertama.

Kejadian 4:1-15,25 bukan sekadar kisah tentang dua saudara, melainkan refleksi mendalam tentang sifat manusia yang mudah terjerat dalam iri hati dan ketidakpercayaan. Menurut Walter Brueggemann (1997) dalam Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching, Kain dan Habel melambangkan dua realitas kehidupan: yang satu hidup dalam penerimaan ilahi, sementara yang lain dikuasai oleh kecemburuan dan nafsu untuk memiliki apa yang bukan haknya. Kejahatan Kain bukan hanya tentang pembunuhan, tetapi juga tentang ketidakmampuannya untuk menerima kehendak Tuhan dan mencari pemulihan di dalamnya.

Di sisi lain, dalam Markus 8:11-13, Yesus menghadapi orang-orang Farisi yang menuntut tanda dari surga sebagai bukti akan kuasa-Nya. Ia menghela napas panjang, bukan karena lelah fisik, tetapi karena kekecewaan mendalam terhadap ketegaran hati manusia. Mereka telah melihat mukjizat, mendengar ajaran-Nya, dan menyaksikan belas kasih-Nya, namun tetap saja mereka meminta tanda lain—sebuah bentuk ketidakpercayaan yang mengakar dalam sikap hati yang keras.

N. T. Wright (1996) dalam Jesus and the Victory of God menyatakan bahwa tuntutan orang Farisi akan tanda bukan berasal dari kerinduan untuk percaya, melainkan dari hati yang penuh kecurigaan dan penolakan terhadap otoritas Yesus. Sama seperti Kain yang tidak mampu menerima keputusan Tuhan, orang-orang Farisi juga menutup mata terhadap realitas kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.

Iri hati Kain membawanya kepada tindakan pembunuhan, sementara ketidakpercayaan orang Farisi menjauhkan mereka dari anugerah keselamatan yang telah hadir dalam diri Kristus. Dalam keduanya, kita melihat betapa manusia sering kali lebih memilih jalan pemberontakan daripada penyerahan diri kepada Tuhan.

Karl Barth (1956) dalam Church Dogmatics menulis bahwa dosa bukan hanya tentang tindakan salah, tetapi lebih dalam dari itu—sebuah keterputusan relasi antara manusia dan Allah. Kain tidak hanya membunuh Habel; ia juga membiarkan hatinya dikuasai oleh pemberontakan terhadap Tuhan. Begitu pula dengan orang Farisi, yang menolak percaya meskipun tanda-tanda kehadiran ilahi telah nyata di hadapan mereka.

Namun, bahkan dalam gelapnya dosa, kasih karunia Tuhan tetap hadir. Tuhan tidak serta-merta membinasakan Kain, tetapi memberinya tanda perlindungan agar ia tidak dibunuh oleh orang lain. Ini adalah gambaran tentang bagaimana Tuhan tetap menunjukkan belas kasih meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa.

Henri Nouwen (1992) dalam The Return of the Prodigal Son menekankan bahwa kasih Tuhan tidak berdasarkan pada kelayakan manusia, melainkan pada sifat Allah yang penuh belas kasih. Tanda yang diberikan kepada Kain adalah bukti bahwa meskipun manusia sering gagal, Tuhan tetap menyediakan jalan pemulihan.

Kain dan orang Farisi menghadapi tantangan yang sama—menerima kehendak Tuhan dengan hati yang terbuka. Namun, keduanya gagal karena membiarkan iri hati dan ketidakpercayaan menguasai mereka. Kisah mereka menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak terjebak dalam kegelapan hati yang menghambat hubungan kita dengan Tuhan.

Seperti kata St. Agustinus (426) dalam Confessions, “Hatiku gelisah sampai ia beristirahat di dalam-Mu, ya Tuhan.” Maka, panggilan kita adalah untuk mengikis iri hati, membuka hati pada kebenaran, dan percaya bahwa kasih karunia Tuhan lebih besar dari segala kekurangan kita.

Daftar Pustaka

  • Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1956.
  • Brueggemann, Walter. Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Atlanta: John Knox Press, 1997.
  • Nouwen, Henri. The Return of the Prodigal Son. New York: Doubleday, 1992.
  • St. Augustine. Confessions. 426.
  • Wright, N. T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.

You Might Also Like

Para Murid Tidak Ditinggal untuk Meratapi, Namun Dipenuhi dengan Janji

22 September 2024, Minggu Biasa XXV

Reformasi Rohani yang Diminta Yesus

Kelemahan Kita, Ruang Bagi Kuasa Allah untuk Nyatakan Diri

Semuanya Memiliki Alasan

TAGGED:kain dan habilkasih Tuhankehendak Tuhan
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Di Mana Letak Sukacita Sejati?
Next Article Saat Hati Manusia Gagal Memahami Kehendak Tuhan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • OSOJI
  • Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian
  • Natal Perdana di Gereja Ibu Teresa Cikarang, Cahaya dan Sejarah Baru
  • Natal di Tengah Bencana: Merawat Harapan, Menjaga Ingatan
  • Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya

Recent Comments

  1. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  2. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  3. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  4. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
  5. inigoway on Vatikan Tegaskan Monogami sebagai Janji Cinta Tak Terbatas
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?