Pada pagi yang dingin di padang, Kain berdiri dengan mata penuh amarah. Asap kurban saudaranya, Habel, naik ke langit dengan tenang, sementara korban yang ia persembahkan tetap di tanah, seolah tidak mendapat perhatian dari Tuhan. Rasa kecewa dan iri hati menggelegak di dalam dadanya, mengaburkan akal sehatnya. Dalam sekejap, kebencian yang ia pelihara berubah menjadi tindakan kejam yang mengguncang awal sejarah umat manusia—pembunuhan pertama.
Kejadian 4:1-15,25 bukan sekadar kisah tentang dua saudara, melainkan refleksi mendalam tentang sifat manusia yang mudah terjerat dalam iri hati dan ketidakpercayaan. Menurut Walter Brueggemann (1997) dalam Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching, Kain dan Habel melambangkan dua realitas kehidupan: yang satu hidup dalam penerimaan ilahi, sementara yang lain dikuasai oleh kecemburuan dan nafsu untuk memiliki apa yang bukan haknya. Kejahatan Kain bukan hanya tentang pembunuhan, tetapi juga tentang ketidakmampuannya untuk menerima kehendak Tuhan dan mencari pemulihan di dalamnya.
Di sisi lain, dalam Markus 8:11-13, Yesus menghadapi orang-orang Farisi yang menuntut tanda dari surga sebagai bukti akan kuasa-Nya. Ia menghela napas panjang, bukan karena lelah fisik, tetapi karena kekecewaan mendalam terhadap ketegaran hati manusia. Mereka telah melihat mukjizat, mendengar ajaran-Nya, dan menyaksikan belas kasih-Nya, namun tetap saja mereka meminta tanda lain—sebuah bentuk ketidakpercayaan yang mengakar dalam sikap hati yang keras.
N. T. Wright (1996) dalam Jesus and the Victory of God menyatakan bahwa tuntutan orang Farisi akan tanda bukan berasal dari kerinduan untuk percaya, melainkan dari hati yang penuh kecurigaan dan penolakan terhadap otoritas Yesus. Sama seperti Kain yang tidak mampu menerima keputusan Tuhan, orang-orang Farisi juga menutup mata terhadap realitas kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.
Iri hati Kain membawanya kepada tindakan pembunuhan, sementara ketidakpercayaan orang Farisi menjauhkan mereka dari anugerah keselamatan yang telah hadir dalam diri Kristus. Dalam keduanya, kita melihat betapa manusia sering kali lebih memilih jalan pemberontakan daripada penyerahan diri kepada Tuhan.
Karl Barth (1956) dalam Church Dogmatics menulis bahwa dosa bukan hanya tentang tindakan salah, tetapi lebih dalam dari itu—sebuah keterputusan relasi antara manusia dan Allah. Kain tidak hanya membunuh Habel; ia juga membiarkan hatinya dikuasai oleh pemberontakan terhadap Tuhan. Begitu pula dengan orang Farisi, yang menolak percaya meskipun tanda-tanda kehadiran ilahi telah nyata di hadapan mereka.
Namun, bahkan dalam gelapnya dosa, kasih karunia Tuhan tetap hadir. Tuhan tidak serta-merta membinasakan Kain, tetapi memberinya tanda perlindungan agar ia tidak dibunuh oleh orang lain. Ini adalah gambaran tentang bagaimana Tuhan tetap menunjukkan belas kasih meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa.
Henri Nouwen (1992) dalam The Return of the Prodigal Son menekankan bahwa kasih Tuhan tidak berdasarkan pada kelayakan manusia, melainkan pada sifat Allah yang penuh belas kasih. Tanda yang diberikan kepada Kain adalah bukti bahwa meskipun manusia sering gagal, Tuhan tetap menyediakan jalan pemulihan.
Kain dan orang Farisi menghadapi tantangan yang sama—menerima kehendak Tuhan dengan hati yang terbuka. Namun, keduanya gagal karena membiarkan iri hati dan ketidakpercayaan menguasai mereka. Kisah mereka menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak terjebak dalam kegelapan hati yang menghambat hubungan kita dengan Tuhan.
Seperti kata St. Agustinus (426) dalam Confessions, “Hatiku gelisah sampai ia beristirahat di dalam-Mu, ya Tuhan.” Maka, panggilan kita adalah untuk mengikis iri hati, membuka hati pada kebenaran, dan percaya bahwa kasih karunia Tuhan lebih besar dari segala kekurangan kita.
Daftar Pustaka
- Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1956.
- Brueggemann, Walter. Genesis: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Atlanta: John Knox Press, 1997.
- Nouwen, Henri. The Return of the Prodigal Son. New York: Doubleday, 1992.
- St. Augustine. Confessions. 426.
- Wright, N. T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.