KAMIS, 20 Februari 2025
Setelah air bah berlalu dan bumi kembali dihuni, Tuhan memberkati Nuh dan keturunannya dengan sebuah perintah yang mirip dengan yang pernah diberikan kepada Adam dan Hawa: “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kejadian 9:1). Namun, kali ini perintah itu diiringi dengan suatu perjanjian ilahi. Tuhan tidak hanya memberikan kuasa kepada manusia atas makhluk lain, tetapi juga menetapkan aturan baru—bahwa darah tidak boleh ditumpahkan dengan sembarangan, karena dalam darah ada kehidupan. Dan sebagai tanda perjanjian-Nya, Tuhan membentangkan pelangi di langit, sebuah simbol bahwa bumi tidak akan lagi dihancurkan oleh air bah.
Janji Tuhan dalam Kejadian 9:1-13 menunjukkan kemurahan hati-Nya yang melampaui kejatuhan manusia. Karl Barth dalam “Church Dogmatics” (1956) menafsirkan pelangi ini sebagai lambang hubungan baru antara Tuhan dan dunia. Bukan lagi hubungan yang hanya berbasis ketundukan, tetapi relasi yang berakar dalam anugerah dan belas kasih. Meskipun manusia tetap memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam dosa, Tuhan memilih untuk menyertai mereka dengan janji yang tidak berubah.
Berabad-abad kemudian, dalam Injil Markus 8:27-33, kita menemukan percakapan yang menentukan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Di tengah perjalanan menuju Kaisarea Filipi, Yesus bertanya, “Menurut orang, siapakah Aku ini?” Murid-murid menyebutkan berbagai jawaban: Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah seorang nabi. Namun, Petrus, dengan keyakinan yang penuh, menjawab, “Engkau adalah Mesias!”
Jawaban Petrus tampaknya benar, tetapi pemahamannya masih terbatas. Ketika Yesus mulai mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menderita, ditolak, dan dibunuh sebelum bangkit kembali, Petrus menolak gagasan itu. Ia menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya. Namun, Yesus berbalik dan berkata dengan tegas, “Enyahlah, Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Dalam peristiwa ini, kita melihat bagaimana pemulihan relasi antara Tuhan dan manusia bukan hanya soal menerima janji keselamatan, tetapi juga soal memahami jalan yang harus ditempuh. Seperti yang dijelaskan oleh NT Wright dalam “Jesus and the Victory of God” (1996), Yesus bukanlah Mesias yang diharapkan manusia, seorang pemimpin yang akan membawa kejayaan politik. Sebaliknya, Ia adalah Mesias yang datang untuk menderita demi keselamatan dunia.
Kisah Nuh dan perjanjiannya dengan Tuhan serta kisah Petrus yang mengakui Yesus sebagai Mesias adalah dua sisi dari misteri kasih Tuhan. Di satu sisi, Tuhan memberikan janji kehidupan dan kesetiaan-Nya kepada manusia, sementara di sisi lain, Ia menuntun mereka untuk memahami bahwa jalan keselamatan sering kali melewati penderitaan dan salib. Henri Nouwen dalam “The Wounded Healer” (1972) menulis bahwa pemulihan sejati terjadi ketika kita berani berjalan dalam penderitaan dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang bekerja di dalamnya.
Seperti pelangi yang membentang setelah badai besar, demikian pula iman kita dipanggil untuk melihat cahaya janji Tuhan di tengah tantangan hidup. Dan seperti Petrus, kita diajak untuk tidak hanya mengakui Yesus sebagai Mesias, tetapi juga untuk memahami bahwa mengikut Dia berarti bersedia berjalan di jalan salib. Inilah perjalanan iman yang sejati—dipenuhi dengan janji, tetapi juga dipenuhi dengan undangan untuk bertumbuh dalam pengertian dan kesetiaan.
Daftar Pustaka:
- Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1956.
- Nouwen, Henri. The Wounded Healer. New York: Image Books, 1972.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.