Pesta Tahta Santo Petrus, Rasul
Di tengah perayaan Pesta Tahta Santo Petrus Rasul, kita diundang untuk merenungkan dua bacaan yang berbicara tentang panggilan dan otoritas yang diberikan kepada Petrus: 1 Petrus 5:1-4 dan Matius 16:13-19. Dua perikop ini menghadirkan gambaran yang menyeluruh tentang peran gembala yang sejati dalam komunitas iman.
Dalam 1 Petrus 5:1-4, kita menemukan suara seorang pemimpin yang telah mengalami pertumbuhan iman dan transformasi pribadi. Petrus, yang dahulu penuh gairah tetapi sering goyah, kini berbicara dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati. Ia mengajak para penatua untuk menggembalakan kawanan Allah dengan sukarela, bukan karena paksaan atau ambisi pribadi, melainkan sebagai teladan bagi umat. Ajakan ini mencerminkan pengalaman Petrus sendiri yang pernah ditegur dan dibentuk oleh Kristus, sebagaimana diceritakan dalam Injil Yohanes ketika Yesus bertanya kepadanya tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15-17). Di sini, kepemimpinan bukanlah soal kekuasaan, tetapi sebuah pelayanan yang berakar dalam kasih.
Sementara itu, dalam Matius 16:13-19, kita melihat momen penting ketika Yesus meneguhkan peran Petrus di dalam Gereja. Ketika Yesus bertanya kepada para murid, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Jawaban ini, yang bukan berasal dari akal manusia melainkan dari pewahyuan Allah, menjadi dasar bagi peneguhan Yesus kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Ungkapan ini tidak hanya menyatakan peran Petrus sebagai pemimpin Gereja, tetapi juga menegaskan bahwa iman kepada Kristus adalah fondasi yang kokoh bagi komunitas iman.
Raymond E. Brown dalam “The Churches the Apostles Left Behind” (1984) menekankan bahwa peran Petrus bukan hanya sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai figur iman yang menjadi titik rujukan bagi kesatuan Gereja. Sementara itu, Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) dalam “Called to Communion” (1996) menyoroti bahwa primasi Petrus harus dipahami dalam terang pelayanan dan bukan dominasi, mencerminkan spiritualitas Kristus sendiri yang datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”
Pesta Tahta Santo Petrus Rasul bukanlah sekadar perayaan historis, tetapi undangan bagi kita semua untuk merefleksikan makna kepemimpinan dalam Gereja dan dalam kehidupan kita. Seperti Petrus yang dipanggil bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kesediaannya untuk dibentuk oleh kasih Allah, kita pun diajak untuk menjadi batu-batu hidup yang membangun Gereja Kristus di dunia. Dalam dunia yang penuh tantangan dan ketidakpastian, panggilan untuk menjadi gembala yang setia, rendah hati, dan penuh kasih tetap relevan. Seperti yang dikatakan oleh Santo Agustinus dalam “Sermon 46 on the New Testament” (abad ke-5), “Di mana ada kasih, di sana ada kesatuan; di mana ada kesatuan, di sana ada Tuhan.”
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. The Churches the Apostles Left Behind. New York: Paulist Press, 1984.
- Ratzinger, Joseph. Called to Communion: Understanding the Church Today. San Francisco: Ignatius Press, 1996.
- Agustinus. Sermon 46 on the New Testament. Abad ke-5.