KAMIS, 27 FEBRUARI 2025
Suatu senja di sebuah bukit yang menghadap ke kota, seorang bijak duduk di bawah pohon zaitun, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di pasar. Ada yang sibuk berdagang, ada yang tertawa dalam kemewahan, sementara di sudut lain, seorang pengemis menadahkan tangan tanpa ada yang peduli. Si bijak menghela napas dan berbisik, “Janganlah bersandar pada kekayaanmu dan berkata, ‘Aku cukup aman.’ Sebab dalam sekejap, segalanya bisa lenyap.”
Sirakh 5:1-8 menggemakan suara kebijaksanaan yang memperingatkan manusia agar tidak tertipu oleh rasa aman palsu. Kekayaan, status, dan waktu sering kali membuat manusia lengah, berpikir bahwa mereka memiliki kendali penuh atas kehidupan. “Janganlah berkata: ‘Aku telah berdosa, tetapi apa yang terjadi padaku?’” (Sir. 5:4), seakan menjadi cerminan sikap manusia yang menunda pertobatan, berpikir bahwa masih ada hari esok untuk berubah.
Menurut Ben Sira, dosa bukan hanya tindakan salah, tetapi juga kesombongan hati yang menyepelekan kasih karunia Tuhan. Robert J. V. Hiebert (2017) dalam The Wisdom of Ben Sira: Studies in Tradition and Redaction menegaskan bahwa dalam kitab ini, kebijaksanaan dipahami sebagai panggilan mendesak untuk hidup dalam takut akan Tuhan dan tidak menunda-nunda perubahan hati. Tuhan itu panjang sabar, tetapi manusia tidak boleh menggunakan kesabaran-Nya sebagai alasan untuk terus hidup dalam dosa.
Radikalitas Iman: Potonglah Apa yang Menyesatkanmu
Sementara Sirakh berbicara tentang bahaya kesombongan dan penundaan pertobatan, Yesus dalam Markus 9:41-50 menyampaikan tuntutan yang jauh lebih radikal: jika tangan, kaki, atau matamu menyebabkan kamu berdosa, potonglah dan buanglah! Pernyataan ini bukanlah panggilan untuk melukai diri sendiri, tetapi sebuah metafora kuat tentang betapa seriusnya dosa dan betapa mutlaknya komitmen yang diperlukan dalam mengikuti Kristus.
N. T. Wright (2004) dalam Mark for Everyone menjelaskan bahwa ajaran Yesus ini bukan sekadar ajakan untuk menghindari dosa, melainkan seruan untuk menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi manusia dari kehidupan kekal. Bagi Yesus, lebih baik masuk ke dalam Kerajaan Allah dalam keadaan kehilangan sesuatu yang duniawi daripada tetap utuh tetapi terpisah dari kehidupan sejati. Ini adalah pesan radikal tentang bagaimana iman menuntut pengorbanan nyata.
Kesombongan dan Penundaan: Jerat yang Halus
Baik dalam Sirakh maupun dalam Markus, kita melihat bahwa dosa tidak selalu hadir dalam bentuk yang gamblang. Kadang-kadang, dosa menjelma dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan—menganggap diri cukup baik sehingga tidak perlu bertobat. Kadang-kadang, dosa hadir dalam bentuk penundaan, berpikir bahwa selalu ada hari esok untuk memperbaiki diri. Namun, seperti yang dikatakan St. Agustinus (426) dalam Confessions, “Tuhan telah memberikan kepadaku hari ini, tetapi siapa yang bisa menjanjikan aku esok?”
Dalam dunia modern, dosa sering kali hadir dalam bentuk distraksi dan rasa aman palsu. Kemajuan teknologi, hiburan, dan materialisme membuat banyak orang terlena, berpikir bahwa hidup ini hanyalah tentang kesenangan dan pencapaian duniawi. Tanpa sadar, mereka menunda pertobatan, berpikir bahwa masih ada waktu. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kehidupan dalam Kerajaan Allah membutuhkan keputusan tegas—bukan sekadar niat baik, melainkan tindakan nyata.
Garam yang Tidak Kehilangan Rasanya
Yesus menutup pengajaran-Nya dengan metafora garam: “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi tawar, dengan apakah kamu mengasinkannya?” (Mrk. 9:50). Garam melambangkan komitmen dan keteguhan dalam iman. Seorang pengikut Kristus harus memiliki keberanian untuk tetap setia, bahkan ketika dunia menawarkan kenyamanan yang menggoda.
Dietrich Bonhoeffer (1937) dalam The Cost of Discipleship menulis bahwa iman sejati selalu membutuhkan harga yang harus dibayar. Tidak ada kekristenan yang murah; setiap murid Yesus dipanggil untuk hidup dalam integritas, membuang segala sesuatu yang dapat menyeret mereka ke dalam dosa, dan menolak kompromi dengan dunia.
Hidup dengan Kesadaran Ilahi
Sirakh mengajarkan agar manusia tidak bersandar pada harta dan menunda pertobatan, sementara Yesus menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap segala hal yang menjauhkan kita dari Allah. Dua bacaan ini menjadi pengingat bahwa iman bukan sekadar konsep atau keyakinan, tetapi sebuah perjalanan yang membutuhkan keberanian dan komitmen. Kita diajak untuk hidup dalam kesadaran ilahi—tidak menunda, tidak merasa terlalu aman, tetapi selalu siap untuk bertindak demi kehidupan kekal.
Sebagaimana dikatakan oleh Thomas à Kempis dalam The Imitation of Christ (1418), “Saat ini adalah waktu yang paling berharga. Jangan sia-siakan hari ini dengan berpikir bahwa besok pasti akan datang.”
Daftar Pustaka
- Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship. New York: Macmillan, 1937.
- Hiebert, Robert J. V. The Wisdom of Ben Sira: Studies in Tradition and Redaction. Atlanta: SBL Press, 2017.
- St. Augustine. Confessions. 426.
- Thomas à Kempis. The Imitation of Christ. 1418.
- Wright, N. T. Mark for Everyone. Louisville: Westminster John Knox Press, 2004.