SENIN, 3 MARET 2025
Dalam perjalanan hidup, manusia senantiasa dihadapkan pada pertanyaan tentang keselamatan, pertobatan, dan pengorbanan. Kitab Sirakh 17:24-29 berbicara tentang belas kasih Allah yang tiada batas bagi mereka yang mau kembali kepada-Nya. Dengan penuh kelembutan, pengarang mengajak manusia untuk tidak menunda pertobatan karena Allah siap menerima dengan tangan terbuka. Namun, ada kesadaran mendalam bahwa hidup ini singkat, dan kesempatan untuk kembali kepada Tuhan tidak boleh disia-siakan. Waktu terus berjalan, dan kemurahan hati Tuhan bukanlah alasan untuk menunda pertobatan. Setiap tarikan napas adalah anugerah, setiap detik adalah panggilan untuk kembali kepada Dia yang telah menciptakan kita.
Dalam Injil Markus 10:17-27, kisah perjumpaan Yesus dengan seorang pemuda kaya menggambarkan perjuangan manusia dalam menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Kristus. Pemuda itu datang dengan penuh semangat, ingin mengetahui apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Dalam bayangan hatinya, mungkin ia mengira bahwa Yesus akan memberinya jawaban yang mudah, sekadar menguatkan apa yang telah ia lakukan selama ini. Namun, Yesus menatapnya dengan kasih dan menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: “Juallah segala yang kaumiliki, berikanlah kepada orang miskin, dan ikutlah Aku.” Kata-kata ini mengguncang batinnya. Sejenak ia terdiam, matanya melemah, dan langkahnya terasa berat. Kekayaan yang dulu menjadi sumber kebanggaannya, kini menjadi beban yang menahannya untuk melangkah lebih dekat kepada Sang Guru.
Dua bacaan ini mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah sekadar persoalan menaati perintah atau berbuat baik, tetapi juga tentang keberanian untuk melepaskan apa yang mengikat hati kita. Sirakh mengingatkan bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh belas kasih, tetapi kemurahan-Nya tidak boleh disalahgunakan sebagai alasan untuk menunda pertobatan. Markus, di sisi lain, menunjukkan bahwa pertobatan sejati menuntut pengorbanan yang tidak mudah, terutama jika hati masih terikat pada harta duniawi. Seperti pemuda kaya yang berhadapan dengan pilihan sulit, kita pun sering kali dihadapkan pada dilema antara kesetiaan kepada Tuhan dan kenyamanan dunia.
N.T. Wright dalam Simply Christian (2006) menegaskan bahwa kerajaan Allah bukanlah sekadar sebuah konsep moral, tetapi suatu realitas yang menuntut transformasi total dari mereka yang ingin masuk ke dalamnya. Ia mengingatkan bahwa iman yang sejati selalu beriringan dengan keberanian untuk melepaskan diri dari apa yang dunia anggap bernilai. Sementara itu, William Barclay dalam The Gospel of Mark (1975) menjelaskan bahwa kisah pemuda kaya mencerminkan pergulatan batin setiap orang dalam memilih antara keamanan duniawi dan panggilan ilahi. Dalam dunia yang serba materialistis, banyak orang merasa aman dengan kekayaan, namun Yesus mengajarkan bahwa hanya dengan melepaskan diri dari keterikatan duniawi seseorang dapat benar-benar mengalami kebebasan rohani.
Raymond E. Brown dalam An Introduction to the New Testament (1997) menyoroti bagaimana Yesus selalu menempatkan manusia dalam situasi di mana mereka harus memilih. Ia tidak memaksa, tetapi mengundang dengan kasih dan kebijaksanaan. Pemuda kaya dalam Injil Markus adalah gambaran dari banyak orang yang ingin mengikuti Tuhan, tetapi masih terbelenggu oleh ketakutan akan kehilangan kenyamanan duniawi. Inilah tantangan iman yang terus relevan hingga saat ini. Mungkin kita tidak memiliki harta melimpah seperti pemuda itu, tetapi bisa saja keterikatan kita ada pada ambisi, relasi, atau hal-hal lain yang membuat kita sulit berani melangkah dalam iman.
Ketika kita merenungkan dua bacaan ini, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sungguh-sungguh merindukan Allah dalam hidup kita? Apakah ada hal-hal yang masih mengikat kita sehingga kita sulit memberikan diri secara total kepada-Nya? Tuhan membuka pintu pertobatan bagi semua orang, tetapi jalan menuju kehidupan kekal menuntut keberanian untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang menghalangi kita. Semoga setiap langkah yang kita ambil dalam hidup ini semakin membawa kita mendekat kepada Tuhan, dengan hati yang terbuka dan tangan yang rela memberi.
Daftar Pustaka:
- Barclay, William. The Gospel of Mark. Philadelphia: Westminster Press, 1975.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
- Wright, N.T. Simply Christian. New York: HarperOne, 2006.