KAMIS, 6 MARET 2025
Ketika Musa berdiri di hadapan umat Israel, ia menyampaikan sebuah pilihan yang menentukan: “Lihatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ulangan 30:15). Kata-kata ini bukan sekadar seruan biasa, melainkan undangan ilahi untuk memilih kehidupan dalam ketaatan kepada Tuhan. Musa tidak berbicara tentang kehidupan dalam pengertian fisik semata, tetapi kehidupan yang penuh dalam kasih dan berkat Tuhan. Pilihan ini bukanlah sekadar soal kepatuhan terhadap hukum, melainkan keputusan eksistensial yang menuntut keterlibatan hati dan kehendak manusia.
Yesus, berabad-abad setelah Musa, menggemakan panggilan yang sama dalam Injil Lukas. Ia berbicara kepada murid-murid-Nya tentang penderitaan yang harus Ia alami, serta konsekuensi bagi siapa saja yang ingin mengikuti-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Ini bukanlah jalan yang mudah, tetapi jalan menuju kehidupan sejati. Mengikuti Yesus berarti memilih untuk meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi hubungan dengan-Nya, bahkan jika itu berarti menanggalkan ambisi pribadi dan kenyamanan duniawi.
Teolog Scott Hahn dalam bukunya A Father Who Keeps His Promises (1998) menyoroti bahwa janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama menemukan kepenuhannya dalam Yesus Kristus. Musa menawarkan berkat bagi mereka yang setia, dan Yesus menggenapi berkat itu melalui salib-Nya. Senada dengan itu, N.T. Wright dalam Simply Jesus (2011) menekankan bahwa mengikuti Yesus adalah perjalanan menuju transformasi sejati, di mana kita dipanggil untuk meninggalkan identitas lama kita dan hidup dalam terang kebangkitan.
Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship (1937) mengingatkan bahwa kasih karunia tidaklah murah. Mengikuti Kristus berarti menanggalkan diri dari kepentingan duniawi dan menerima penderitaan sebagai bagian dari panggilan hidup. Ini sejalan dengan pesan Musa dalam Ulangan, bahwa memilih Tuhan berarti menolak segala bentuk ketidaksetiaan dan kompromi dengan dosa.
Masa Prapaskah, yang baru dimulai setelah Rabu Abu, menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan pilihan yang kita buat setiap hari. Apakah kita memilih kehidupan, yang berarti berjalan dalam kehendak Tuhan? Ataukah kita masih terikat pada kenyamanan dan kepentingan pribadi yang menjauhkan kita dari-Nya? Salib yang kita pikul bukanlah beban yang menghancurkan, tetapi jalan menuju pemurnian. Seperti Yesus yang menyerahkan diri-Nya untuk keselamatan dunia, kita pun dipanggil untuk memberikan diri dengan tulus, dalam cinta dan ketaatan.
Pada akhirnya, pilihan antara kehidupan dan kematian ini bukan sekadar keputusan satu kali, melainkan pilihan yang harus kita perbarui setiap hari. Setiap tindakan, setiap kata, setiap niat hati kita mencerminkan keputusan ini. Prapaskah mengundang kita untuk kembali memilih dengan sadar: mengikuti Kristus, memikul salib dengan sukacita, dan berjalan menuju kebangkitan yang dijanjikan-Nya.
Daftar Pustaka
- Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship. SCM Press, 1937.
- Hahn, Scott. A Father Who Keeps His Promises: God’s Covenant Love in Scripture. Servant Publications, 1998.
- Wright, N.T. Simply Jesus: A New Vision of Who He Was, What He Did, and Why He Matters. HarperOne, 2011.