RABU ABU – RABU, 05 MARET 2025
Saat abu ditorehkan di dahi dan kata-kata “Ingatlah bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu” diucapkan, kita diingatkan akan kefanaan dan ketergantungan kita pada belas kasih Allah. Rabu Abu membuka masa Prapaskah, sebuah perjalanan pertobatan yang mengundang kita untuk kembali kepada Tuhan dengan segenap hati, seperti yang diserukan dalam nubuat Yoel: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh” (Yoel 2:12). Pertobatan yang sejati bukan sekadar tindakan lahiriah, tetapi perubahan hati yang mendalam. Tuhan tidak menghendaki persembahan formalitas belaka, melainkan hati yang hancur dan rendah hati.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus juga menegaskan urgensi pertobatan: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Korintus 5:20). Kata-kata ini bukan sekadar ajakan, tetapi seruan yang mendesak. Waktu untuk bertobat bukan besok atau lusa, tetapi sekarang: “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2 Korintus 6:2). Masa Prapaskah bukan hanya momen refleksi, tetapi kesempatan untuk memperbarui komitmen kita kepada Allah dan sesama.
Yesus, dalam Injil Matius, mengajarkan tentang cara beribadah yang benar. Ia menegur sikap yang mencari pengakuan manusia dalam hal bersedekah, berdoa, dan berpuasa. “Janganlah kamu seperti orang munafik” (Matius 6:2), kata Yesus dengan tegas. Ia mengajak kita untuk melakukan segala sesuatu dengan ketulusan hati, bukan demi pujian duniawi. Prapaskah menjadi panggilan untuk kembali kepada spiritualitas yang murni, tanpa pencitraan atau kemunafikan.
Menurut N.T. Wright dalam Lent for Everyone: Matthew (2011), masa Prapaskah adalah kesempatan untuk mengalami transformasi batin yang nyata. Ia menegaskan bahwa pertobatan sejati terjadi ketika kita mengizinkan kasih Allah mengubah cara kita berpikir, bertindak, dan mengasihi. Sementara itu, C.S. Lewis dalam Mere Christianity (1952) menyoroti bahwa kerendahan hati sejati bukan berpikir rendah tentang diri sendiri, tetapi berhenti memikirkan diri sendiri dan berfokus kepada Allah. Thomas Merton dalam New Seeds of Contemplation (1961) menambahkan bahwa doa yang sejati bukanlah tentang kata-kata, tetapi tentang hati yang terbuka kepada Allah dalam keheningan dan ketulusan.
Rabu Abu bukan sekadar ritual tahunan, tetapi pintu gerbang menuju perjalanan rohani yang lebih dalam. Abu yang ditandai di dahi kita adalah tanda kefanaan, tetapi juga harapan. Harapan bahwa dalam pertobatan, ada belas kasih. Dalam air mata, ada pemulihan. Dan dalam penyerahan diri yang tulus, ada anugerah keselamatan yang melimpah. Marilah kita memasuki masa Prapaskah ini dengan hati yang terbuka, dengan doa yang tulus, dan dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai setiap langkah perjalanan kita menuju kebangkitan.
Daftar Pustaka
- Lewis, C.S. Mere Christianity. HarperOne, 1952.
- Merton, Thomas. New Seeds of Contemplation. New Directions, 1961.
- Wright, N.T. Lent for Everyone: Matthew. Westminster John Knox Press, 2011.