SABTU, 8 MARET 2025
Hari ini kita kembali diingatkan agar meninggalkan ego dan berpaling ke jalan belas kasih. Bacaan dari Yesaya 58:9b-14 memperlihatkan bagaimana Tuhan menjanjikan berkat dan cahaya bagi mereka yang bersedia membebaskan diri dari perbuatan jahat dan tidak lagi menuding dengan jari atau berkata jahat. Dan dengan murah hati membagikan rezeki kepada mereka yang membutuhkan. Bacaan hari ini juga mengajak kita berbalik dari ibadah yang sifatnya hanya lahiriah menuju tindakan nyata yang mencerminkan kasih Tuhan.
Dalam Injil Lukas 5:27-32, kita melihat bagaimana Yesus memanggil Lewi, seorang pemungut cukai, agar mengikutinya. Panggilan ini mengejutkan banyak orang, terutama kaum Farisi, yang melihat pemungut cukai sebagai orang berdosa. Namun, di sinilah kita menemukan inti belas kasih Tuhan: Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa agar mereka bertobat. Ia melihat hati manusia, bukan sekadar status sosial atau reputasi mereka di mata masyarakat.
Walter Brueggemann dalam The Prophetic Imagination (1978) mengungkapkan bahwa panggilan Yesaya adalah sebuah revolusi spiritual yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial. Menurutnya, perubahan yang sejati tidak hanya terjadi dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam bagaimana kita memperlakukan sesama, terutama mereka yang terpinggirkan. Hal ini sejalan dengan pemikiran N.T. Wright dalam Jesus and the Victory of God (1996), yang menyoroti bagaimana Yesus menghadirkan realitas Kerajaan Allah melalui tindakan konkret, bukan sekadar ajaran verbal. Pemanggilan Lewi menjadi simbol bagaimana Yesus melampaui batas-batas agama dan sosial untuk membawa orang kepada pertobatan yang sejati.
Refleksi ini mengajak kita untuk bertanya: sejauh mana kita sudah hidup dalam terang kasih Tuhan? Apakah ibadah kita sekadar ritual, ataukah sudah mewujud dalam belas kasih yang nyata? Prapaskah bukan hanya tentang meninggalkan sesuatu, tetapi juga tentang mengambil langkah konkret untuk melayani dan membawa keadilan.
Thomas Merton dalam New Seeds of Contemplation (1961) menegaskan bahwa pertobatan sejati bukan hanya perubahan perilaku, tetapi perubahan hati yang membawa kita lebih dekat kepada Allah dan sesama. Maka, sebagaimana Yesaya berkata, jika kita belajar untuk memberikan diri bagi sesama, maka “terangmu akan terbit dalam gelap, dan kegelapanmu akan menjadi seperti tengah hari.” Inilah janji Tuhan bagi mereka yang benar-benar memilih jalan kasih dan belas kasih.
Prapaskah adalah undangan untuk mengikuti Yesus, seperti Lewi yang meninggalkan segalanya dan mengadakan perjamuan bersama Tuhan. Lewi tidak hanya mengalami perubahan dalam cara hidupnya, tetapi juga berbagi sukacita keselamatan dengan orang lain. Demikian pula kita, saat menerima belas kasih Tuhan, kita dipanggil untuk menjadi pembawa terang bagi dunia, sehingga hidup kita menjadi kesaksian akan kasih dan keadilan-Nya.
Daftar Pustaka:
- Brueggemann, Walter. The Prophetic Imagination. Minneapolis: Fortress Press, 1978.
- Merton, Thomas. New Seeds of Contemplation. New York: New Directions, 1961.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.