Selasa, 12 November 2024
Refleksi atas bacaan hari ini, Selasa, 12 November 2024, Titus 2:1-8.11-14 dan Luk 17:7-10 pada perayaan Santo Yosafat, uskup dan martir, membuka pemahaman kita tentang panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati, pengabdian tanpa pamrih, serta upaya mencapai kesatuan dan kebenaran dalam iman. Kedua bacaan ini menawarkan ajakan bagi umat beriman untuk terus berusaha menjalani hidup dalam kebenaran, sebagaimana diajarkan Yesus dan diperjuangkan oleh Santo Yosafat.
Kehidupan yang Berfokus pada Kebajikan (Tit 2:1-8,11-14)
Surat kepada Titus mengajarkan agar umat beriman hidup selaras dengan ajaran yang sehat, khususnya dalam karakter dan perilaku sehari-hari. Paulus menegaskan bahwa setiap orang—baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan—dipanggil untuk menjalani dalam kebajikan. Ia mengajak mereka untuk selalu mengendalikan diri, berlaku jujur, serta memupuk kasih dan kesabaran. Di ayat 11-14, Paulus juga mengingatkan bahwa kasih Allah yang menyelamatkan itu nyata mendorong setiap orang untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan hidup dalam pengharapan.
Dalam refleksi ini, kita melihat bahwa panggilan untuk menghindari “keinginan duniawi” bukanlah perintah yang kaku. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk mengalami pembaruan batin yang memungkinkan kita hidup sesuai kehendak Allah, fokus pada pelayanan, pembelaan keadilan dan kebenaran.
Teolog Scott Hahn menyebutkan, Surat Titus ini adalah panduan praktis bagaimana hidup sebagai manusia yang berbudi luhur. Bukan sekadar memenuhi tuntutan moral tetapi menjadi tanda keselamatan. Dan menurut Scott, proses ini tidak sekali jadi tetapi melalui proses pembaruan terus-menerus. Kasih karunia Allahlah yang memungkinan kita semua senantiasa bertumbuh menuju kehidupan yang lebih benar dan adil.
Hamba yang Tak Perlu Dilayani (Luk 17:7-10)
Dalam Injil Lukas, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang hamba yang bekerja di ladang atau menggembalakan ternak. Ketika pulang, hamba itu tetap harus melayani tuannya tanpa menuntut ucapan terima kasih atau pujian. Yesus menyampaikan bahwa ketika kita telah melakukan segala sesuatu yang diperintahkan, kita seharusnya berkata, “Kami hanya hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
Di sini, Yesus mengajarkan kerendahan hati yang radikal. Seorang pengikut Kristus hendaknya melayani tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan. Mengabdi kepada Allah adalah panggilan untuk memberi diri sepenuhnya, seperti hamba yang tidak mencari penghargaan.
Bayangkan seorang relawan yang bekerja di panti asuhan. Setiap hari ia bekerja dengan penuh dedikasi, tetapi tak ada penghargaan materi yang ia terima. Namun, ia terus berbuat baik karena percaya bahwa kasih yang ia berikan adalah pelayanan kepada Tuhan. Ia menghidupi semangat pelayanan tanpa pamrih yang diharapkan Yesus dari murid-murid-Nya. Pertanyaannya, adakah orang seperti ini?
Seorang teolog terkemukaKarl Rahner menjelaskan bahwa pelayanan sejati dalam iman adalah ketika seseorang berani melangkah melampaui egonya, dan membiarkan dirinya hanya menjadi sarana bagi kasih Tuhan. Dalam pengabdian yang demikian, seorang Kristen menyadari bahwa segala jerih payah adalah bagian dari panggilan untuk memuliakan Allah, bukan diri sendiri.
Hari ini kita merayakan pestaSanto Yosafat[1], uskup yang berjuang demi persatuan Gereja. Sosok ini memberi teladan nyata atas kesetiaan dan ketekunan. Ia diakui sebagai martir yang merelakan nyawanya untuk mempertahankan iman dan mengupayakan kesatuan antara Gereja Katolik dan Ortodoks. Hidupnya mencerminkan panggilan dari kedua bacaan di atas: hidup dalam kebajikan dan melayani tanpa pamrih.
Keberaniannya menunjukkan kepada kita bahwa kesatuan umat beriman tidak bisa dicapai tanpa pengorbanan. Santo Yosafat mengingatkan kita akan perlunya hidup dengan integritas, seperti yang dituntut dalam Surat kepada Titus, sekaligus mengabdikan diri dengan rendah hati, sebagaimana Yesus ajarkan dalam Injil Lukas.
Penutup
Merenungkan ajaran dalam kedua bacaan ini bersama dengan teladan hidup Santo Yosafat, kita diajak untuk hidup dalam kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian. Tit 2:1-8.11-14 mengarahkan kita pada kebajikan yang membangun tubuh Kristus, sedangkan Luk 17:7-10 mengajarkan sikap pelayanan yang rendah hati. Melalui Santo Yosafat, kita melihat perjuangan demi kesatuan dan kebenaran bukanlah hal yang mudah, tetapi itulah jalan yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan.
Panggilan kita saat ini adalah menjadi bagian dari misi Allah untuk menebarkan kasih dan persatuan. Seperti Santo Yosafat, marilah kita hidup dalam iman, berjuang demi kesatuan, dan melayani dengan rendah hati.
DAFTAR PUSTAKA:
- Hahn, Scott. The Catholic Bible Dictionary. New York: Doubleday, 2009.
- Rahner, Karl. Theological Investigations, Vol. 1: God, Christ, Mary, and Grace. Baltimore: Helicon Press, 1961.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
- Fitzmyer, Joseph A. The Gospel According to Luke X-XXIV. New York: Doubleday, 1985.
- Gnilka, Joachim. Theologie des Neuen Testaments: Jesu Wirken und Botschaft. Freiburg: Herder, 1994.
- John Paul II. Ut Unum Sint: Encyclical on Commitment to Ecumenism. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 1995.
- Kelly, Joseph F. The World of the Early Christians. Collegeville: Liturgical Press, 1997.
- Martini, Carlo Maria. On the Meaning of the Christian Life: The Role of the Laity in the Church and the World. New York: Crossroad Publishing Company, 1995.
- Hardon, John A. The Catholic Catechism: A Contemporary Catechism of the Teachings of the Catholic Church. Garden City: Doubleday, 1975.
- O’Collins, Gerald and Farrugia, Edward G. A Concise Dictionary of Theology. New York: Paulist Press, 2000.
[1] Santo Yosafat lahir pada tahun 1580 di Ukraina. Ia masuk Ordo Santo Basilius Agung. Ia dikenal melalui kotbah-kotbahnya dan berbagai upaya yang ia lakukan demi memperjuangkan persatuan Gereja yang saat itu terpecah. Ia merindukan persatuan Gereja-Gereja ke dalam Gereja Katolik Roma. Setelah menjadi pemimpin ordo dan kemudian menjadi uskup agung, ia melanjutkan kembali upaya untuk membangun kesatuan Gereja, yang kemudian ditentang oleh kelompok-kelompok yang tidak menyetujuinya. Ia ditentang bukan hanya secara verbal namun juga Tindakan, sampai akhirnya ia dibunuh dan jenazahnya di buang di Sungai Divina. Maka untuk menghormatinya, Yosafat kemudian dikanonisasi pada tahun 1867 sebagai martir bagi kesatuan Gereja.

Tq renungannya mas👍🙏💪🔥🇮🇩❤️
sami-sami