SENIN, 10 FEBRUARI 2025
Di sebuah desa kecil yang sunyi, seorang ibu tua setiap pagi menyisihkan sebagian roti untuk anak-anak miskin di sekitar rumahnya. Ia tidak memiliki banyak harta, tetapi hatinya penuh dengan kasih. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan Tuhan: kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”
Perkataan ini menggemakan panggilan dari Imamat 19:1-2,11-18, di mana Tuhan bersabda kepada Musa: “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.” Kekudusan dalam Perjanjian Lama bukan sekadar status spiritual, melainkan gaya hidup yang mencerminkan karakter Allah—hidup dalam kejujuran, keadilan, dan kasih terhadap sesama.
Imamat 19 sering disebut sebagai “Kode Kekudusan,” yang berisi pedoman bagi umat Israel agar hidup selaras dengan kehendak Allah. Rolf Rendtorff (2005) dalam The Canonical Hebrew Bible: A Theology of the Old Testament menekankan bahwa kekudusan di sini tidak hanya bersifat vertikal (hubungan dengan Tuhan), tetapi juga horizontal (hubungan dengan sesama). Kekudusan bukan hanya soal ritual, melainkan tentang bagaimana manusia memperlakukan orang lain—tidak mencuri, tidak berdusta, dan tidak menindas sesama (Im. 19:11-13).
Perintah ini mencapai puncaknya dalam ayat 18: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Rabbi Jonathan Sacks (2015) dalam Not in God’s Name: Confronting Religious Violence menafsirkan ayat ini sebagai inti dari etika sosial Yahudi—mengakui bahwa kasih kepada sesama adalah cerminan langsung dari kasih kepada Allah.
Namun, kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan konkret. Yesus, dalam Matius 25:31-46, menegaskan bahwa standar penghakiman terakhir bukanlah seberapa banyak seseorang berdoa atau berpuasa, tetapi bagaimana ia memperlakukan yang kecil, lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan dipenjara.
Yesus menggambarkan akhir zaman dengan metafora Gembala yang memisahkan domba dari kambing. Domba adalah mereka yang memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, dan mengunjungi mereka yang sakit atau di penjara. Kambing, sebaliknya, adalah mereka yang mengabaikan kebutuhan sesama.
N. T. Wright (2011) dalam Simply Jesus menyatakan bahwa perumpamaan ini bukan hanya tentang belas kasih, tetapi tentang manifestasi Kerajaan Allah di dunia. Yesus tidak sekadar berbicara tentang amal, tetapi tentang realitas iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia tidak hanya meminta kita untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk mencerminkan kasih-Nya melalui hidup kita.
Dietrich Bonhoeffer (1937) dalam The Cost of Discipleship menulis bahwa “kasih yang sejati bukan hanya berbicara, tetapi bertindak.” Dalam konteks Matius 25, kasih bukanlah sekadar niat baik, melainkan sebuah keterlibatan aktif dalam penderitaan orang lain.
Jika Imamat menekankan bahwa kekudusan melibatkan kejujuran, keadilan, dan kasih kepada sesama, maka Yesus dalam Matius 25 membawa konsep itu lebih jauh: kasih sejati tidak bisa terpisah dari tindakan nyata. Menjadi kudus berarti menghidupi kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apakah kita hanya berbicara tentang kasih, atau benar-benar melakukannya? Apakah kita melihat wajah Kristus dalam orang-orang kecil dan terpinggirkan di sekitar kita?
Dalam dunia yang semakin individualistis, di mana banyak orang lebih peduli pada kenyamanan pribadi, Yesus memanggil kita untuk keluar dari zona nyaman dan hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Imamat 19 dan Matius 25 adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kekudusan sejati bukanlah sesuatu yang pasif, tetapi aktif dalam kepedulian kepada sesama. Sebagaimana Thomas Merton (1968) dalam Conjectures of a Guilty Bystander menulis, “Kekudusan bukanlah tentang melarikan diri dari dunia, tetapi mengubah dunia dengan kasih.”
Pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Tuhan, pertanyaan yang akan Dia ajukan bukanlah seberapa banyak kita tahu tentang agama, tetapi apakah kita telah mencintai sesama sebagaimana Dia telah mencintai kita.
Daftar Pustaka
- Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship. New York: Macmillan, 1937.
- Merton, Thomas. Conjectures of a Guilty Bystander. New York: Doubleday, 1968.
- Rendtorff, Rolf. The Canonical Hebrew Bible: A Theology of the Old Testament. Leiden: Deo Publishing, 2005.
- Sacks, Jonathan. Not in God’s Name: Confronting Religious Violence. London: Hodder & Stoughton, 2015.
- Wright, N. T. Simply Jesus. New York: HarperOne, 2011.