SELASA, 18 MARET 2025
Seruan kenabian dalam Yesaya 1:10, 16-20 dan pengajaran Yesus dalam Matius 23:1-12 adalah dua suara yang menggema dengan makna yang sama: panggilan untuk hidup dalam kebenaran, keadilan, dan kerendahan hati. Keduanya menegaskan bahwa ibadah yang sejati bukanlah ritual kosong, melainkan kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah.
Nabi Yesaya berbicara kepada umat Israel yang telah menyimpang dari jalan Tuhan. Kota Sodom dan Gomora dijadikan gambaran untuk menunjukkan betapa bobroknya moral mereka. Seruan ini bukan sekadar teguran keras, tetapi panggilan untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang murni. “Basuhlah dirimu, bersihkanlah dirimu,” kata Yesaya (Yes. 1:16), menegaskan bahwa pertobatan bukan hanya soal kata-kata, melainkan tindakan nyata yang memperbaiki hidup dan memperhatikan mereka yang tertindas. John Goldingay dalam The Theology of the Book of Isaiah (2014) menjelaskan bahwa esensi panggilan Yesaya adalah transformasi moral dan sosial yang sejati, bukan sekadar memperbaiki praktik keagamaan.
Pesan Yesaya ini menemukan resonansinya dalam ajaran Yesus dalam Matius 23:1-12, di mana Yesus mengkritik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka menyampaikan hukum dengan penuh otoritas, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan ajaran itu. Mereka mencari kehormatan, duduk di tempat terhormat, dan menikmati gelar kehormatan, tetapi lupa akan esensi sejati dari hukum Allah: belas kasih dan keadilan. Craig Keener dalam The IVP Bible Background Commentary: New Testament (1993) mencatat bahwa budaya Yahudi pada zaman Yesus sangat menghargai gelar dan kedudukan sosial, dan Yesus justru menentang sistem ini dengan menekankan bahwa kebesaran sejati terletak dalam kerendahan hati dan pelayanan kepada sesama.
Yesus menutup pengajarannya dengan pernyataan yang sangat kuat: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat. 23:12). Pernyataan ini menggarisbawahi logika ilahi yang bertolak belakang dengan logika dunia: kebesaran bukan terletak dalam dominasi, tetapi dalam pelayanan.
Kedua bacaan ini mengajarkan bahwa iman bukanlah sesuatu yang hanya tampak dari luar, tetapi sesuatu yang harus meresap ke dalam setiap aspek kehidupan. Reformasi rohani yang diminta oleh Yesaya dan Yesus bukan sekadar mengubah kebiasaan ibadah, tetapi mengubah hati dan perilaku. Abraham Heschel dalam The Prophets (1962) menegaskan bahwa para nabi tidak sekadar menyampaikan teguran, tetapi juga menawarkan jalan pemulihan. Tuhan selalu membuka pintu bagi mereka yang mau kembali dan memperbaiki diri. “Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu” (Yes. 1:19). Inilah janji kasih setia Allah yang tidak pernah berubah.
Dalam kehidupan kita saat ini, pesan ini tetap relevan. Dunia yang kita tinggali sering kali terjebak dalam kesombongan, pencitraan, dan kepalsuan. Kita bisa dengan mudah tergoda untuk lebih peduli pada bagaimana kita dipandang orang lain daripada bagaimana kita sungguh-sungguh hidup di hadapan Tuhan. Namun, panggilan Tuhan tetap sama: basuhlah dirimu, bersihkanlah dirimu, dan hiduplah dalam keadilan dan kasih. Inilah ibadah yang sejati, yang tidak hanya menyentuh langit, tetapi juga mengubah bumi.
Daftar Pustaka:
- Goldingay, John. The Theology of the Book of Isaiah. IVP Academic, 2014.
- Heschel, Abraham. The Prophets. Harper & Row, 1962.
- Keener, Craig. The IVP Bible Background Commentary: New Testament. IVP Academic, 1993.