By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    6 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    3 months ago
    Latest News
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    2 weeks ago
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    2 months ago
    Mengapa Kaki Yesus Tidak Dipatahkan?
    2 months ago
    Lakukanlah ini sebagai Kenangan akan Aku
    2 months ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Allah Tritunggal: Ketika Kasih Menjadi Pusat Kehidupan
    7 days ago
    Panduan Studi: Ensiklik Magnifica Humanitas – Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan
    2 weeks ago
    Keuskupan Agung Pontianak Sambut PKSN XIII 2026: dari Teknologi ke Perjumpaan, Menjaga Suara dan Wajah Manusia
    2 weeks ago
    Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
    2 weeks ago
    Pentakosta: Ketika Allah Masuk dalam Luka-Luka Manusia
    2 weeks ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Menemukan Kompas Kebenaran di Belantara Digital: Refleksi Kepemimpinan Spiritual ala Santo Yustinus Martir
    2 hours ago
    Menyemai Persatuan dari Takhta Kepausan hingga Altar Stasi: Refleksi Kepemimpinan Kristiani ala Santo Leo Agung
    2 hours ago
    Menjadi “Buku Cinta” yang Berjalan: Membumikan Gaya Kepemimpinan Santo Dominikus di Paroki St. Yosep Delitua
    2 hours ago
    Menghidupkan Semangat Santo Yosafat: Dari Martir Abad ke-17 hingga Pelayanan Akar Rumput
    2 hours ago
    Ketika Kerendahan Hati Menjadi Kekuatan: Belajar Kepemimpinan dari Santo Benediktus
    3 hours ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    6 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    6 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    11 months ago
    Latest News
    Elisabeth dari Hungaria, Sang Putri yang Ubah Kemewahan Jadi Kasih
    3 days ago
    Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
    2 weeks ago
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    2 weeks ago
    Menjadi Duta Bahasa: Badan Bahasa Ingin Gandeng Para Misionaris Indonesia
    4 weeks ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    2 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    2 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    3 weeks ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    2 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    2 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    2 months ago
Reading: Kegelapan Masih Berusaha Membungkam Terang, Bahkan Setelah Terang Itu Menang
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
IDEARenungan

Kegelapan Masih Berusaha Membungkam Terang, Bahkan Setelah Terang Itu Menang

Petrus menyebut nubuat Daud yang terpenuhi dalam Yesus.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: April 23, 2025 7:09 am
By Gabriel Abdi Susanto 1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

SENIN, 21 APRIL 2025 – OKTAF PASKAH

Saat fajar Paskah perlahan merekah, para perempuan yang penuh ketakutan dan harapan meninggalkan kubur kosong dengan hati yang bergetar. Dalam Injil Matius 28:8-15, kita menyaksikan perjumpaan yang mengguncangkan batas dunia fana—Yesus yang telah bangkit menyapa mereka yang mencintai-Nya dengan ketulusan terdalam. “Salam bagimu,” kata-Nya, dan dalam satu kalimat itu, seluruh sejarah umat manusia berubah arah. Yang mati telah bangkit, dan yang binasa telah ditebus.

Dalam konteks ini, bacaan pertama dari Kisah Para Rasul 2:14,22-32 menjadi kesaksian penuh kuasa dari Petrus. Ia berdiri di tengah khalayak, tak lagi sebagai murid yang menyangkal, tetapi sebagai pewarta yang bersinar dengan api Roh Kudus. Petrus menyebut nubuat Daud yang terpenuhi dalam Yesus: “Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” (Kis. 2:27). Ini bukan sekadar pidato kenabian, tetapi deklarasi teologis tentang harapan kekal yang tak dapat diguncangkan oleh maut.

Mazmur 16, yang dikutip Petrus, berbicara dengan lembut namun kuat tentang keintiman dengan Allah: “Engkau menunjukkan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah.” (Mzm. 16:11). Pemazmur bukan hanya berharap akan keselamatan jasmani, melainkan keselamatan utuh yang mencakup hidup dan mati, sekarang dan selamanya. Ini adalah nyanyian dari jiwa yang telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah—dan dalam Yesus, nyanyian ini menjadi kenyataan paling agung.

Namun Injil tidak berhenti pada kabar sukacita. Dalam Matius 28, kita juga membaca kisah konspirasi: para penjaga kubur disuap, para imam kepala menyusun kebohongan untuk menutupi kebangkitan. Realitas kegelapan masih berusaha membungkam terang, bahkan setelah terang itu menang. Dalam hal ini, teolog N.T. Wright dalam karyanya “The Resurrection of the Son of God” (2003), menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus bukanlah mitos rohani, melainkan peristiwa historis yang merombak logika kekuasaan dan keberadaan. Dunia lama bergetar, dan dunia baru mulai bernafas.

Tafsiran dari Raymond E. Brown dalam “The Death of the Messiah” (1994) mempertegas bahwa Injil Matius secara khusus ingin menegaskan betapa kebangkitan itu tidak hanya menjadi tanda kekuasaan ilahi, melainkan juga ancaman bagi sistem dunia yang korup. Ketika kebenaran bangkit, kebohongan akan berusaha keras bertahan hidup. Tetapi kebohongan tidak punya fondasi—ia hanya bisa bertahan selama orang percaya padanya. Dan pada pagi Paskah itu, perempuan-perempuan sederhana menjadi saksi bahwa kebenaran telah bangkit.

Refleksi ini mengundang kita untuk memandang hidup dengan mata kebangkitan. Di tengah dunia yang sering menutupi kebenaran dengan uang dan kekuasaan, kita dipanggil untuk bersaksi seperti para perempuan itu: dengan takut, tapi juga dengan sukacita besar. Kita diajak untuk hidup seperti pemazmur, dengan hati yang berpegang pada Tuhan siang dan malam, meyakini bahwa kita tidak akan dibiarkan melihat kebinasaan, karena dalam Kristus, hidup telah menang atas maut.


Daftar Pustaka:

  • Wright, N.T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press, 2003.
  • Brown, Raymond E. The Death of the Messiah: From Gethsemane to the Grave. Yale University Press, 1994.
  • Brueggemann, Walter. The Message of the Psalms. Augsburg Fortress, 1984.
  • Keener, Craig S. The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary. Eerdmans, 2009.
  • Fitzmyer, Joseph A. The Acts of the Apostles (Anchor Yale Bible). Yale University Press, 1998.

You Might Also Like

Bila Iman Kehilangan Makna

Sabtu, 14 September, Pesta Pemuliaan Salib Suci

Kasih Sejati Bukanlah tentang Mencari yang Mudah

Janji di Bawah Bintang-bintang

Homili Bapa Suci Leo XIV pada Misa Pengukuhan

TAGGED:headlinekegelapankesaksian penuh kuasarenungan harianterang
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Fajar Kebangkitan dan Kehidupan
Next Article Kesetiaan Allah Tak Pernah Gagal Menopang Mereka yang Berharap Pada-Nya
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Menemukan Kompas Kebenaran di Belantara Digital: Refleksi Kepemimpinan Spiritual ala Santo Yustinus Martir
  • Menyemai Persatuan dari Takhta Kepausan hingga Altar Stasi: Refleksi Kepemimpinan Kristiani ala Santo Leo Agung
  • Menjadi “Buku Cinta” yang Berjalan: Membumikan Gaya Kepemimpinan Santo Dominikus di Paroki St. Yosep Delitua
  • Menghidupkan Semangat Santo Yosafat: Dari Martir Abad ke-17 hingga Pelayanan Akar Rumput
  • Ketika Kerendahan Hati Menjadi Kekuatan: Belajar Kepemimpinan dari Santo Benediktus

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?