By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    3 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    3 months ago
    Latest News
    Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
    17 hours ago
    Saat Allah Memulihkan, Manusia Justru Ketakutan
    1 day ago
    Ikut Kristus Berarti Siap Disalahpahami
    15 hours ago
    Allah Mengikat Perjanjian dengan Abraham
    3 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
    17 hours ago
    Saat Allah Memulihkan, Manusia Justru Ketakutan
    1 day ago
    Ikut Kristus Berarti Siap Disalahpahami
    2 days ago
    Allah Mengikat Perjanjian dengan Abraham
    3 days ago
    Dan Maria Berkata, Ya
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    1 day ago
    Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
    2 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    3 days ago
    Pribadi-pribadi Ilahi Tritunggal Mahakudus (Aquinas 101)
    4 days ago
    Memahami Misteri Tritunggal Mahakudus (Aquinas 101)
    4 days ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    4 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    4 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    9 months ago
    Latest News
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    3 weeks ago
    Bapa yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
    3 weeks ago
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    2 months ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    2 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    1 day ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    3 days ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    10 months ago
    Latest News
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    1 day ago
    Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
    2 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    3 days ago
    Pribadi-pribadi Ilahi Tritunggal Mahakudus (Aquinas 101)
    4 days ago
Reading: Berapa Kali Kita Terjebak dalam Ketidakberdayaan Menunggu Seseorang untuk Mengangkat?
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > IDEA > Renungan > Berapa Kali Kita Terjebak dalam Ketidakberdayaan Menunggu Seseorang untuk Mengangkat?
IDEARenungan

Berapa Kali Kita Terjebak dalam Ketidakberdayaan Menunggu Seseorang untuk Mengangkat?

Kasih Allah tidak terikat oleh aturan ritual, tetapi oleh belas kasih yang melampaui batas manusia.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: April 1, 2025 5:39 am
By Gabriel Abdi Susanto 12 months ago
Share
4 Min Read
SHARE

SELASA, 1 APRIL 2025

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia selalu merindukan sumber kehidupan yang memberi kesegaran, pemulihan, dan harapan. Bacaan hari ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang air sebagai simbol kehidupan dan kasih karunia Allah yang menyembuhkan, menghidupkan, dan memperbarui segala sesuatu.

Nabi Yehezkiel dalam penglihatannya menyaksikan air yang mengalir keluar dari Bait Suci (Yeh. 47:1-9,12). Air itu semakin lama semakin dalam, membawa kehidupan bagi segala sesuatu yang disentuhnya. Di mana pun air itu mengalir, ada kesuburan, pemulihan, dan kelimpahan. Gambaran ini melukiskan bagaimana kehadiran Tuhan memberikan kehidupan baru bagi dunia. Para ahli tafsir seperti Walter Brueggemann dalam Theology of the Old Testament (1997) menekankan bahwa penglihatan ini bukan hanya janji pemulihan fisik bagi Israel, tetapi juga simbol pembaruan rohani yang akan datang dalam Kerajaan Allah. Air dari Bait Suci mencerminkan kasih Allah yang mengalir tanpa batas, menghidupkan mereka yang haus akan keadilan dan kebenaran.

Mazmur 46 memperkuat penggambaran ini dengan keyakinan bahwa Allah adalah perlindungan yang kokoh. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm. 46:2). Kata-kata ini memberikan penghiburan di tengah ketidakpastian hidup. Sebagaimana air Yehezkiel melambangkan kehidupan, demikian juga Allah adalah sumber segala pengharapan dan pemulihan bagi umat-Nya.

Injil Yohanes membawa kita pada kisah tentang seorang lumpuh yang telah terbaring selama 38 tahun di tepi kolam Betesda (Yoh. 5:1-3a,5-16). Ia berharap ada seseorang yang akan membawanya ke dalam kolam ketika airnya berguncang, sebab dipercaya bahwa air itu dapat menyembuhkan. Namun, harapannya selalu pupus karena tak ada yang menolongnya. Di sinilah Yesus datang, menembus harapan yang telah lama pudar, dan bertanya: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh. 5:6).

Pertanyaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan panggilan untuk bangkit dari ketidakberdayaan. Raymond E. Brown dalam The Gospel According to John (1966) menjelaskan bahwa tindakan Yesus menyembuhkan orang ini pada hari Sabat menegaskan bahwa kasih Allah tidak terikat oleh aturan ritual, tetapi oleh belas kasih yang melampaui batas manusia. Yesus tidak hanya menyembuhkan secara fisik, tetapi juga mengundang orang tersebut ke dalam kehidupan yang baru.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah segalanya. Ia berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah!” (Yoh. 5:8). Dalam sekejap, orang yang lumpuh itu memperoleh kekuatan dan berjalan. Namun, kesembuhan itu juga membawa konsekuensi: ia menghadapi tantangan dari para pemuka agama yang lebih mementingkan aturan daripada mukjizat kasih Tuhan. Ini mengingatkan kita bahwa sering kali kita lebih terikat pada tradisi dan kebiasaan daripada merasakan kehadiran Tuhan yang membebaskan.

Dalam kehidupan kita, berapa kali kita terjebak dalam ketidakberdayaan, menunggu seseorang untuk “mengangkat kita” ke dalam kolam harapan? Kisah ini mengajak kita untuk melihat bahwa Yesus sendiri datang, menawarkan pemulihan tanpa syarat. Pembaruan sejati tidak datang dari sistem atau kebiasaan lama, tetapi dari perjumpaan dengan Kristus yang memberi hidup.

Seperti air yang mengalir dari Bait Suci dalam penglihatan Yehezkiel, seperti janji Mazmur bahwa Tuhan adalah perlindungan, dan seperti tangan Yesus yang terulur kepada si lumpuh, hari ini kita diundang untuk menerima kehidupan baru. Bukan hanya kesembuhan fisik, tetapi pembaruan rohani yang mengangkat kita keluar dari keputusasaan menuju kehidupan yang penuh kasih dan rahmat.

Daftar Pustaka:

  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John. Yale University Press, 1966.
  • Brueggemann, Walter. Theology of the Old Testament. Fortress Press, 1997.
  • Wright, N.T. Surprised by Hope. HarperOne, 2008.
  • Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary. Baker Academic, 2003.

You Might Also Like

Membangun Peradaban Kasih di Dunia yang Terpecah

Iman yang Melampaui Kondisi Kita Saat Ini

Seperti kata Gamaliel, Jangan Melawan Allah yang Sedang Bekerja Secara Diam-diam

Dalam Keheningan, Allah Menyulam Kebangkitan

Kasih Allah adalah Kasih yang Mencari

Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Janji Allah tentang Langit dan Bumi yang Baru
Next Article Kasih Allah Tak Tergantung Keadaan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
  • Saat Allah Memulihkan, Manusia Justru Ketakutan
  • Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  • Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
  • Ikut Kristus Berarti Siap Disalahpahami

Recent Comments

  1. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  2. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  3. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
  4. Adrianus Turnip on Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
  5. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?