RABU, 21 MEI 2025
Dalam perjalanan iman, sering kali kita menjumpai percabangan jalan—antara kebenaran dan kepentingan, antara kesetiaan dan keraguan, antara tinggal dalam Kristus dan melangkah menjauh dari-Nya. Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan kembali siapa sumber hidup kita dan kepada siapa kita harus berakar.
Dalam Kisah Para Rasul 15:1–6, kita melihat pergumulan gereja awal dalam menafsirkan hukum dan keselamatan. Ada kelompok yang bersikeras bahwa sunat menurut adat Musa adalah syarat keselamatan. Namun, pertanyaan besar yang menggema bukanlah soal hukum semata, melainkan bagaimana kasih karunia Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus sungguh menjadi pusat iman. Petrus dan para rasul berkumpul bukan hanya untuk membahas doktrin, tetapi untuk mencari terang Roh Kudus yang membimbing Gereja. Dalam komentarnya, F. F. Bruce (1988) menekankan bahwa Konsili Yerusalem adalah momen penting yang menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia, dan bahwa Gereja harus dibentuk dalam kebebasan Injil, bukan beban hukum lama.
Mazmur 122 mengalir sebagai pujian yang melambangkan kerinduan akan damai sejahtera Yerusalem—sebuah gambaran rohani tentang Gereja sebagai tempat perjumpaan dan penyatuan umat Allah. Di tengah diskusi dan potensi perpecahan, seruan damai ini menjadi penting: “Biarlah damai sejahtera ada di antaramu.” Damai yang tidak sekadar ketenangan, tetapi shalom: kelengkapan, keutuhan, keseimbangan yang hanya hadir jika Tuhan adalah pusat kehidupan bersama.
Lalu Injil Yohanes 15:1–8 menutup dengan metafora yang begitu dalam: Yesus sebagai pokok anggur yang benar dan kita sebagai ranting-ranting-Nya. Di sinilah kita diajak untuk kembali kepada akar spiritual kita: tinggal di dalam Kristus. Ranting yang tidak tinggal pada pokok akan kering dan dibuang, tetapi yang tetap tinggal akan berbuah banyak. Dalam tafsirannya, Raymond E. Brown (1970) menjelaskan bahwa “tinggal” (menein) adalah kata kunci yang menandai relasi dinamis antara Yesus dan murid-murid-Nya. Tinggal berarti mempersembahkan hidup, pikiran, kehendak, dan karya kita dalam Dia. Ini bukan hanya soal relasi sentimental, tetapi persekutuan yang aktif, menghasilkan buah dalam bentuk kasih, kesabaran, pengampunan, dan penginjilan.
Yesus tidak menjanjikan kenyamanan, melainkan jaminan kehadiran-Nya. Yohanes 14:27–31a menegaskan bahwa damai yang Yesus beri bukanlah seperti yang dunia berikan. Ini adalah damai yang muncul bahkan di tengah badai. Ketika para rasul akan menghadapi kesulitan besar, Yesus berbicara tentang damai sebagai warisan. Dalam karyanya Jesus and the Victory of God (1996), N. T. Wright menyatakan bahwa damai Yesus adalah tanda dari Kerajaan Allah yang sedang hadir—sebuah damai yang bukan penghindaran konflik, tetapi kekuatan untuk melewatinya dengan keberanian.
Maka, refleksi hari ini mengajak kita untuk bertanya dengan jujur: Apakah kita sungguh tinggal dalam Kristus? Apakah buah yang kita hasilkan mencerminkan kasih dan damai-Nya? Apakah kita membangun Gereja dengan kesetiaan pada Injil atau pada tradisi yang mengikat dan membelenggu?
Tinggal dalam Dia bukanlah pilihan pasif. Itu adalah keputusan harian, untuk mencintai saat dibenci, untuk melayani saat diabaikan, dan untuk tetap berharap saat gelap merayap. Dan dari sanalah damai yang sejati mengalir—bukan dari dunia, tetapi dari Sang Pokok Anggur yang memberi hidup kepada semua ranting-Nya.
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John (XIII–XXI). Yale University Press, 1970.
- Bruce, F. F. The Book of the Acts. Eerdmans, 1988.
- Wright, N. T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press, 1996.
- Fitzmyer, Joseph A. The Acts of the Apostles. Anchor Yale Bible, 1998.
- Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary, Vol. 2. Baker Academic, 2003.

