KAMIS, 22 MEI 2025
Di suatu hari yang panas di Yerusalem, para rasul dan tua-tua berkumpul, tidak hanya untuk berdebat, tetapi untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus yang menembus tradisi dan batasan manusia. Dalam Kisah Para Rasul 15, Petrus berdiri, bukan sebagai seorang pemenang debat, tetapi sebagai seorang saksi yang telah melihat dengan matanya sendiri bagaimana kasih karunia Allah melampaui batas-batas agama Yahudi, dan menjamah bangsa-bangsa lain. Bagi Petrus, seperti juga bagi kita hari ini, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang layak”, tetapi “apakah kita berani percaya bahwa kasih Allah memang sebesar itu?”
Mazmur 96 menggemakan semangat yang sama: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN!” seru pemazmur. Ini bukan sekadar ajakan untuk bernyanyi, melainkan seruan profetik agar umat manusia membuka hati terhadap karya Allah yang baru — karya yang menggetarkan bumi dan menembus sekat-sekat kebangsaan. Mazmur ini seperti nafas yang melegakan di tengah perdebatan, mengingatkan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh dunia, bukan hanya atas satu bangsa.
Dalam Injil Yohanes 15, Yesus mengajak para murid — dan kita semua — untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Ia tidak menuntut kita untuk menjadi sempurna terlebih dahulu, tetapi hanya untuk tinggal, bertahan, melekat. Gambaran ini begitu lembut dan kuat. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu.” Di sini tidak ada ketakutan. Kasih ini bukan seperti hukum yang memaksa, melainkan seperti pelukan yang memulihkan.
Teolog Katolik Raymond E. Brown dalam The Gospel According to John (1970) menekankan bahwa kasih Yesus dalam Yohanes bukan hanya perasaan, tetapi tindakan yang berpuncak pada salib. Tinggal dalam kasih-Nya berarti juga tinggal dalam dinamika pengorbanan yang membebaskan. Kasih itu adalah sumber sukacita sejati (Yoh 15:11), bukan sekadar kepuasan duniawi.
James D. G. Dunn, dalam bukunya The Theology of Paul the Apostle (1998), melihat Konsili Yerusalem sebagai titik balik teologis: di sinilah Injil benar-benar menjadi kabar baik bagi semua. Hukum Taurat tidak lagi menjadi jalan keselamatan, karena yang menyelamatkan adalah kasih karunia melalui iman. Di sinilah terletak jantung pewartaan Kristiani: bahwa kasih dan sukacita Kristus tidak diperoleh dengan memenuhi syarat-syarat kultural, tetapi dengan hati yang terbuka pada karya Roh Kudus.
Renungan ini memanggil kita untuk melihat Gereja sebagai ruang kasih yang mempersatukan, bukan memisahkan. Di tengah zaman yang makin mudah memecah-belah atas dasar identitas, Yesus justru mengajak kita tinggal di dalam kasih, bukan hanya agar kita merasa aman, tetapi agar kita dapat mengasihi dengan bebas. Sukacita sejati bukanlah hasil dari kemenangan ideologis, tetapi buah dari kasih yang tidak memandang muka.
Dan akhirnya, seperti nyanyian baru yang dinaikkan oleh Mazmur 96, semoga hidup kita menjadi nyanyian kasih yang membebaskan — bagi yang terpinggirkan, yang ditolak, yang diragukan, dan juga bagi diri kita sendiri yang mungkin sering merasa tak cukup.
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John I-XII. New York: Doubleday, 1970.
- Dunn, James D. G. The Theology of Paul the Apostle. Grand Rapids: Eerdmans, 1998.
- Wright, N. T. Paul and the Faithfulness of God. Minneapolis: Fortress Press, 2013.
- Brueggemann, Walter. The Message of the Psalms. Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1984.
- Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary. Peabody: Hendrickson Publishers, 2003.

