Jakarta — Provinsial Serikat Yesus Indonesia, Romo Benediktus Hari Juliawan, SJ, mengajak keluarga-keluarga untuk tidak menjalani hidup dan perkawinan sekadar sebagai rangkaian peristiwa yang berlalu tanpa makna. Ajakan itu ia sampaikan dalam sambutan pada acara Grand Launching buku Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian yang digelar di Hotel Best Western Mangga Dua, Jakarta, Sabtu (13/12/2025).
Mengawali refleksinya, Romo Beni membagikan pengalaman pribadinya saat melakukan riset di Hongkong pada 2017. Ia mengisahkan kunjungannya ke Kuil Wong Tai Sin, sebuah kuil Tao yang terkenal sebagai tempat ramalan. Di sana, ia melihat bagaimana orang—dari berbagai latar belakang—datang dengan pertanyaan yang nyaris seragam tentang masa depan.
“Dua pertanyaan yang paling sering diajukan orang ternyata selalu seputar rezeki dan jodoh,” ujarnya. Pengalaman itu, menurut Romo Beni, menunjukkan bahwa di mana pun manusia berada, kegelisahan dasarnya tetap sama: soal ekonomi dan relasi.
Namun, ia menilai bahwa bila hidup hanya dijalani mengikuti arus nasib, manusia akan terjebak dalam lingkaran pertanyaan yang itu-itu saja. “Kalau hidup dibiarkan menggelinding, seluruh hidup kita hanya akan berkisar pada rezeki dan relasi. Tidak lebih,” katanya.
Romo Beni mengaitkan refleksi tersebut dengan makna spiritualitas, khususnya spiritualitas Ignasian. Menurutnya, spiritualitas berperan sebagai kerangka untuk memaknai pengalaman hidup yang biasanya berlalu begitu saja. Ia mengingat istilah mendiang Romo Heri yang menyebut proses ini sebagai “meringkus masa kini”—menangkap pengalaman hidup dan mengolahnya secara sadar.
Ia kemudian mengutip sebuah kalimat dari drama The History Boys karya sastrawan Inggris Alan Bennett: “History is one thing after another.” Kalimat itu, kata Romo Beni, menggambarkan bagaimana sejarah—dan juga hidup—hanya akan menjadi rentetan peristiwa tanpa makna jika tidak direfleksikan.
“Perkawinan dan hidup keluarga pun bisa menjadi seperti itu. Tahu-tahu sudah 60 tahun, tahu-tahu 80 tahun, lalu selesai. Tapi sudah terlambat kalau baru sadar di akhir,” ujarnya.
Dalam konteks itulah Romo Beni melihat pentingnya buku Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian. Ia menilai buku ini lahir dari refleksi pengalaman nyata keluarga-keluarga, terutama mereka yang sungguh hidup dalam dinamika perkawinan. Menurutnya, para penulis dalam buku ini adalah “pakar perkawinan” bukan karena teori, melainkan karena pengalaman hidup itu sendiri.
Bagi Romo Beni, ada satu tanda utama bahwa sebuah perkawinan sungguh bermakna, yakni adanya relasi personal yang terus bertumbuh. Ia mengaitkannya dengan latihan rohani Ignasian yang menekankan relasi personal dengan Kristus. “Perkawinan sejati adalah perkawinan di mana relasi personal itu hidup dan berkembang,” tegasnya.
Ia pun mengajak para peserta untuk menjadikan keluarga sebagai ruang belajar berelasi—belajar mendengarkan, memahami, dan bertumbuh bersama. “Kita belajar satu sama lain, satu keluarga dari keluarga yang lain,” katanya.
Menutup sambutannya, Romo Beni menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat mengikuti acara hingga selesai, lantaran harus menghadiri agenda lain Serikat Yesus di kawasan Mangga Dua. Meski demikian, ia berharap acara peluncuran buku ini menjadi momentum bersama untuk semakin memaknai hidup dan keluarga secara lebih sadar dan beriman.

👍👍👍 Terimakasih Romo Benny SJ