Ada rindu yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Rindu yang sederhana, namun dalam—rindu seorang adik kepada kakak. Rindu itulah yang paling kuat terasa saat langkah ini diarahkan ke pertemuan MELOK 5 Sesawi.
Sabtu, 24 Januari 2026 pagi itu Depok diselimuti hujan tanpa jeda. Dingin, basah, dan seharusnya menjadi alasan untuk menunda. Namun hati berkata lain. Aku memilih tol Serpong—jalur yang lebih mahal, tetapi lebih cepat. Biasanya aku tak begitu. Entah mengapa, pagi itu aku hanya ingin segera sampai. Seolah ada panggilan halus untuk berjumpa, untuk pulang ke sebuah rumah yang bukan sekadar bangunan, melainkan ruang kebersamaan.
Di rumah Mas Ruy dan Mbak Niken, aku kembali merasakan kehangatan keluarga kedua. Seperti biasa, cerita-cerita mengalir—terutama dari para ibu. Cerita tentang hidup, tentang kesetiaan, tentang luka dan tawa yang saling menyusul. Salah satu yang paling menyentuh hatiku adalah kisah Mbak Erni tentang kehilangan Mas Asmi 30 November 2025 lalu.
Kehilangan orang terkasih memang tak pernah sederhana. Ada protes, ada amarah, ada tanya yang mungkin tak pernah benar-benar menemukan jawaban. “Mengapa Tuhan memanggilnya sekarang?” Padahal doa telah dinaikkan, pengobatan telah diupayakan, harapan telah digenggam erat. Sebagai manusia, kepedihan itu nyata. Dan kami yang ada disitu merasakan pula kehilangan Mas Asmi.
Namun hidup selalu bergerak. Perlahan, kepedihan berganti tawa. Cerita-cerita lain hadir, gelak pun pecah. Ruang yang semula penuh duka berubah menjadi hangat dan ceria. Barangkali begitulah rahmat bekerja—tidak selalu menghapus luka, tetapi memberi kekuatan untuk melanjutkan langkah.
Aku kembali menyadari bahwa para mantan Jesuit kerap dikenal keras kepala dan teguh hati, namun di balik mereka Tuhan menghadirkan tangan-tangan lembut yang setia mendampingi. Para ibu yang kuat, tangguh, yang setia bertahan hingga hari ini. Ada semangat rela berkorban yang tak kerap dibicarakan, namun nyata dalam keseharian. Dan semangat itu, aku percaya, bersumber dari Tuhan sendiri.
Maka, “menurut keyakinan saya” (seperti kata Panji di Mens Rea..hehehe.) — aku mengamini sepenuhnya—para bapak sungguh patut bersyukur memiliki pasangan yang kuat, yang dengan setia berkorban demi suami dan anak-anak. Cerita-cerita sederhana dari para ibu yang mendampingi suami dengan semangat Ignasian mengingatkanku: menghayati nilai-nilai itu memang tidak mudah. Prinsip yang keras, keteguhan yang kadang terasa dingin, kurang romantis — aku pun pernah dan masih merasakannya. Namun di sanalah kesetiaan diuji dan dimurnikan.
Hal lain yang tak kalah menyentuh adalah kesadaran baru yang muncul: saat ini banyak dari para ibu sesawi kembali hidup berdua bersama suaminya, setelah anak-anak mereka menikah dan pergi mengikuti pasangannya atau kuliah di luar kota atau luar negeri. Dari situ lahir kebijaksanaan yang dalam yang aku dengar dari para ibu —bahwa anak hanyalah titipan. Tugas orang tua bukan memiliki, melainkan merawat, mendidik, dan menyiapkan masa depan mereka. Orang tua tidak boleh menjadi penghalang bagi langkah anak. Justru orang tualah yang perlu menyiapkan diri—agar kelak, ketika tak lagi produktif, tidak menjadi beban bagi anak dan cucu, melainkan tetap menjadi berkat.
Pertemuan MELOK 5 kemarin sederhana, santai, tanpa agenda besar. Namun pulang dari situ hatiku penuh: penuh syukur, penuh pengharapan, dan penuh kesadaran bahwa dalam kebersamaan, Tuhan kerap menyapa dengan cara yang paling manusiawi.
Depok,25 Januari 2026
