Ketika Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus, ia tidak sedang mengangkat sebuah potret ideal yang steril dari konflik, melainkan menghadirkan sebuah cara memahami kekudusan yang dibumikan dalam sejarah manusia. Bacaan-bacaan liturgi hari ini dengan tegas menolak gagasan bahwa kudus berarti aman, mapan, dan bebas dari ancaman. Sebaliknya, liturgi menyingkapkan bahwa kekudusan sering kali lahir justru di tengah ketidakpastian, keterasingan, dan ketegangan relasi.
Injil Matius membawa kita langsung ke malam yang genting: Yosef dibangunkan oleh firman Allah dan diminta membawa keluarganya melarikan diri ke Mesir. Tidak ada jaminan kenyamanan, tidak ada penjelasan tentang masa depan. Keluarga Kudus memasuki sejarah sebagai keluarga pengungsi. Raymond E. Brown menegaskan bahwa narasi ini menempatkan Yesus sejak awal hidup-Nya di dalam solidaritas dengan mereka yang terancam dan tersingkir oleh kekuasaan (The Birth of the Messiah, 1993).
Di titik inilah Gereja membantu kita memahami makna terdalam kekudusan. Konsili Vatikan II, dalam Lumen Gentium, menegaskan bahwa kekudusan bukanlah hak istimewa segelintir orang, melainkan panggilan universal bagi seluruh umat Allah. “Semua orang beriman Kristiani, dalam kondisi, tugas, dan keadaan hidup masing-masing, dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih” (Lumen Gentium, 1964, art. 40). Pernyataan ini radikal: kudus tidak berarti keluar dari dunia, tetapi hidup sepenuhnya di dalam dunia dengan orientasi kepada Allah.
Keluarga Kudus adalah perwujudan konkret dari ajaran ini. Mereka tidak hidup di biara, tidak menarik diri dari sejarah, tidak berada dalam situasi ideal. Kekudusan mereka justru tampak dalam ketaatan Yosef yang sunyi, keberanian Maria yang setia, dan kehidupan Yesus yang sejak awal ditandai oleh penolakan dan ancaman. Ulrich Luz menafsirkan kisah pelarian ke Mesir sebagai bentuk anti-triumphalism: Injil menolak gagasan Mesias yang lahir dalam kejayaan, dan menggantinya dengan Mesias yang bertumbuh dalam penderitaan umat (Matthew 1–7, 2007).
Bacaan pertama dari Kitab Sirakh meneguhkan dimensi ini dari sudut yang berbeda. Sirakh berbicara tentang penghormatan kepada orang tua, tentang belas kasih antargenerasi, dan tentang kesetiaan dalam relasi keluarga. Kebijaksanaan ini bukan nasihat romantis, melainkan etika iman yang lahir dari pengalaman hidup yang keras. Patrick W. Skehan dan Alexander A. Di Lella menekankan bahwa Ben Sira memahami kesalehan bukan sebagai ritual belaka, tetapi sebagai tanggung jawab konkret dalam relasi sehari-hari (The Wisdom of Ben Sira, 1987).
Di sinilah ajaran Gereja kembali menajamkan pemahaman kita. Paus Fransiskus, dalam seruan apostolik Gaudete et Exsultate, menegaskan bahwa kekudusan sejati tidak selalu tampak heroik atau spektakuler. Ia berbicara tentang “kekudusan kelas menengah”, kekudusan orang-orang biasa yang menjalani hidup dengan kasih setia dalam rutinitas harian (Gaudete et Exsultate, 2018). Kekudusan, menurut Paus Fransiskus, sering hadir dalam kesabaran orang tua, dalam pengorbanan diam-diam, dan dalam kesetiaan yang tidak pernah menjadi berita.
Surat kepada Jemaat di Kolose memperluas horizon ini dengan menempatkan kekudusan dalam dinamika relasi konkret. Paulus tidak berbicara tentang pengalaman mistik yang luar biasa, melainkan tentang belas kasih, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan—semua ini adalah kualitas yang hanya relevan dalam kehidupan bersama yang tidak sempurna. James D.G. Dunn menegaskan bahwa nasihat rumah tangga dalam Kolose harus dibaca sebagai upaya menghadirkan Injil dalam struktur relasi nyata, bukan sebagai idealisasi keluarga tanpa konflik (The Epistles to the Colossians and to Philemon, 1996).
Ajaran Gereja kembali mempertegas hal ini melalui Familiaris Consortio. Paus Yohanes Paulus II menulis bahwa keluarga Kristiani adalah “jalan pertama dan dasar kekudusan” karena di sanalah iman dihidupi dalam relasi yang paling konkret dan menantang (Familiaris Consortio, 1981). Keluarga bukan sekadar objek pastoral Gereja, melainkan subjek yang aktif mewujudkan kekudusan melalui kasih yang setia, bahkan ketika kasih itu diuji oleh penderitaan dan ketidakpastian.
Keluarga Kudus menunjukkan bahwa kekudusan tidak identik dengan stabilitas sosial. Mereka hidup di bawah bayang-bayang Herodes, simbol kekuasaan yang takut kehilangan kendali. Donald Senior menegaskan bahwa Injil Matius dengan sengaja menghadapkan keluarga kecil ini dengan kekerasan struktural, agar jelas bahwa Allah berpihak pada kehidupan yang rapuh, bukan pada kekuasaan yang menindas (The Gospel of Matthew, 1997). Dalam terang ini, kekudusan bukanlah perlindungan dari penderitaan, melainkan cara menghidupi penderitaan tanpa kehilangan iman dan kasih.
Paus Fransiskus, dalam Amoris Laetitia, menegaskan bahwa keluarga-keluarga Kristiani tidak boleh dibebani oleh ideal yang tak terjangkau. Gereja dipanggil untuk menemani keluarga apa adanya, karena “keluarga adalah tempat di mana orang belajar pertama-tama bagaimana mengasihi dan bagaimana hidup bersama dengan orang lain” (Amoris Laetitia, 2016). Pernyataan ini sejalan dengan potret Keluarga Kudus: sebuah keluarga yang belajar mengasihi Allah sambil berjalan di jalan yang tidak mereka pilih sendiri.
Dengan demikian, Pesta Keluarga Kudus menjadi perayaan kekudusan yang realistis dan historis. Sirakh menanamkan kesetiaan antargenerasi, Paulus menuntun pada kasih yang sabar, Injil Matius menyingkapkan iman yang diuji oleh ancaman, dan Gereja—melalui ajaran magisteriumnya—menegaskan bahwa semua ini adalah jalan kekudusan yang sah dan bermakna.
Kekudusan, dalam terang Keluarga Kudus, bukanlah ketiadaan luka, melainkan kesediaan untuk tetap setia di tengah luka. Bukan hidup tanpa ketakutan, melainkan keberanian untuk melindungi kehidupan meski diliputi ketakutan. Bukan kesempurnaan moral, melainkan kesetiaan sehari-hari yang terus diperbarui oleh rahmat Allah. Di jalan pengungsian itulah, kekudusan dibentuk—diam-diam, rapuh, namun sungguh nyata.
