By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    2 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    2 months ago
    Latest News
    Gembira Karena Ditemukan Tuhan
    5 hours ago
    Allah Menegur Orang yang Berpuasa Namun Menindas Orang Lain
    13 hours ago
    Aku Mengetahui Rancangan-Rancangan bagi Kamu
    13 hours ago
    Hanya Debulah Aku
    13 hours ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Gembira Karena Ditemukan Tuhan
    5 hours ago
    Allah Menegur Orang yang Berpuasa Namun Menindas Orang Lain
    19 hours ago
    Aku Mengetahui Rancangan-Rancangan bagi Kamu
    2 days ago
    Hanya Debulah Aku
    3 days ago
    It’s Not Just Money
    1 month ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Paus Leo XIV: Prapaskah, Momen Menjaga Lisan Kita
    14 hours ago
    Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2026: Belas Kasih Orang Samaria
    4 weeks ago
    Vatikan Tetapkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”
    1 month ago
    Bagaimana Gereja Katolik Dapat Menganulir Sebuah Perkawinan?
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    3 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    3 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    8 months ago
    Latest News
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    4 weeks ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
    It’s Not Just Money
    1 month ago
    Repetisi, Rutinitas dan Etos Shokunin
    1 month ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    8 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    8 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
Reading: Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > IDEA > Renungan > Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian
IDEARenungan

Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: December 28, 2025 5:36 am
By Gabriel Abdi Susanto 2 months ago
Share
6 Min Read
SHARE

Ketika Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus, ia tidak sedang mengangkat sebuah potret ideal yang steril dari konflik, melainkan menghadirkan sebuah cara memahami kekudusan yang dibumikan dalam sejarah manusia. Bacaan-bacaan liturgi hari ini dengan tegas menolak gagasan bahwa kudus berarti aman, mapan, dan bebas dari ancaman. Sebaliknya, liturgi menyingkapkan bahwa kekudusan sering kali lahir justru di tengah ketidakpastian, keterasingan, dan ketegangan relasi.

Injil Matius membawa kita langsung ke malam yang genting: Yosef dibangunkan oleh firman Allah dan diminta membawa keluarganya melarikan diri ke Mesir. Tidak ada jaminan kenyamanan, tidak ada penjelasan tentang masa depan. Keluarga Kudus memasuki sejarah sebagai keluarga pengungsi. Raymond E. Brown menegaskan bahwa narasi ini menempatkan Yesus sejak awal hidup-Nya di dalam solidaritas dengan mereka yang terancam dan tersingkir oleh kekuasaan (The Birth of the Messiah, 1993).

Di titik inilah Gereja membantu kita memahami makna terdalam kekudusan. Konsili Vatikan II, dalam Lumen Gentium, menegaskan bahwa kekudusan bukanlah hak istimewa segelintir orang, melainkan panggilan universal bagi seluruh umat Allah. “Semua orang beriman Kristiani, dalam kondisi, tugas, dan keadaan hidup masing-masing, dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih” (Lumen Gentium, 1964, art. 40). Pernyataan ini radikal: kudus tidak berarti keluar dari dunia, tetapi hidup sepenuhnya di dalam dunia dengan orientasi kepada Allah.

Keluarga Kudus adalah perwujudan konkret dari ajaran ini. Mereka tidak hidup di biara, tidak menarik diri dari sejarah, tidak berada dalam situasi ideal. Kekudusan mereka justru tampak dalam ketaatan Yosef yang sunyi, keberanian Maria yang setia, dan kehidupan Yesus yang sejak awal ditandai oleh penolakan dan ancaman. Ulrich Luz menafsirkan kisah pelarian ke Mesir sebagai bentuk anti-triumphalism: Injil menolak gagasan Mesias yang lahir dalam kejayaan, dan menggantinya dengan Mesias yang bertumbuh dalam penderitaan umat (Matthew 1–7, 2007).

Bacaan pertama dari Kitab Sirakh meneguhkan dimensi ini dari sudut yang berbeda. Sirakh berbicara tentang penghormatan kepada orang tua, tentang belas kasih antargenerasi, dan tentang kesetiaan dalam relasi keluarga. Kebijaksanaan ini bukan nasihat romantis, melainkan etika iman yang lahir dari pengalaman hidup yang keras. Patrick W. Skehan dan Alexander A. Di Lella menekankan bahwa Ben Sira memahami kesalehan bukan sebagai ritual belaka, tetapi sebagai tanggung jawab konkret dalam relasi sehari-hari (The Wisdom of Ben Sira, 1987).

Di sinilah ajaran Gereja kembali menajamkan pemahaman kita. Paus Fransiskus, dalam seruan apostolik Gaudete et Exsultate, menegaskan bahwa kekudusan sejati tidak selalu tampak heroik atau spektakuler. Ia berbicara tentang “kekudusan kelas menengah”, kekudusan orang-orang biasa yang menjalani hidup dengan kasih setia dalam rutinitas harian (Gaudete et Exsultate, 2018). Kekudusan, menurut Paus Fransiskus, sering hadir dalam kesabaran orang tua, dalam pengorbanan diam-diam, dan dalam kesetiaan yang tidak pernah menjadi berita.

Surat kepada Jemaat di Kolose memperluas horizon ini dengan menempatkan kekudusan dalam dinamika relasi konkret. Paulus tidak berbicara tentang pengalaman mistik yang luar biasa, melainkan tentang belas kasih, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan—semua ini adalah kualitas yang hanya relevan dalam kehidupan bersama yang tidak sempurna. James D.G. Dunn menegaskan bahwa nasihat rumah tangga dalam Kolose harus dibaca sebagai upaya menghadirkan Injil dalam struktur relasi nyata, bukan sebagai idealisasi keluarga tanpa konflik (The Epistles to the Colossians and to Philemon, 1996).

Ajaran Gereja kembali mempertegas hal ini melalui Familiaris Consortio. Paus Yohanes Paulus II menulis bahwa keluarga Kristiani adalah “jalan pertama dan dasar kekudusan” karena di sanalah iman dihidupi dalam relasi yang paling konkret dan menantang (Familiaris Consortio, 1981). Keluarga bukan sekadar objek pastoral Gereja, melainkan subjek yang aktif mewujudkan kekudusan melalui kasih yang setia, bahkan ketika kasih itu diuji oleh penderitaan dan ketidakpastian.

Keluarga Kudus menunjukkan bahwa kekudusan tidak identik dengan stabilitas sosial. Mereka hidup di bawah bayang-bayang Herodes, simbol kekuasaan yang takut kehilangan kendali. Donald Senior menegaskan bahwa Injil Matius dengan sengaja menghadapkan keluarga kecil ini dengan kekerasan struktural, agar jelas bahwa Allah berpihak pada kehidupan yang rapuh, bukan pada kekuasaan yang menindas (The Gospel of Matthew, 1997). Dalam terang ini, kekudusan bukanlah perlindungan dari penderitaan, melainkan cara menghidupi penderitaan tanpa kehilangan iman dan kasih.

Paus Fransiskus, dalam Amoris Laetitia, menegaskan bahwa keluarga-keluarga Kristiani tidak boleh dibebani oleh ideal yang tak terjangkau. Gereja dipanggil untuk menemani keluarga apa adanya, karena “keluarga adalah tempat di mana orang belajar pertama-tama bagaimana mengasihi dan bagaimana hidup bersama dengan orang lain” (Amoris Laetitia, 2016). Pernyataan ini sejalan dengan potret Keluarga Kudus: sebuah keluarga yang belajar mengasihi Allah sambil berjalan di jalan yang tidak mereka pilih sendiri.

Dengan demikian, Pesta Keluarga Kudus menjadi perayaan kekudusan yang realistis dan historis. Sirakh menanamkan kesetiaan antargenerasi, Paulus menuntun pada kasih yang sabar, Injil Matius menyingkapkan iman yang diuji oleh ancaman, dan Gereja—melalui ajaran magisteriumnya—menegaskan bahwa semua ini adalah jalan kekudusan yang sah dan bermakna.

Kekudusan, dalam terang Keluarga Kudus, bukanlah ketiadaan luka, melainkan kesediaan untuk tetap setia di tengah luka. Bukan hidup tanpa ketakutan, melainkan keberanian untuk melindungi kehidupan meski diliputi ketakutan. Bukan kesempurnaan moral, melainkan kesetiaan sehari-hari yang terus diperbarui oleh rahmat Allah. Di jalan pengungsian itulah, kekudusan dibentuk—diam-diam, rapuh, namun sungguh nyata.

You Might Also Like

Sungguhkah Aku Rindu pada Allah?

Teks Pidato Pertama Paus Leo XIV

Yesus Sering Menantang Pemikiran Dunia

KerajaanKu Bukan dari Dunia Ini

Batasan yang Diberikan Tuhan pada Manusia Bukanlah Hukuman

TAGGED:Amoris LaetitiaBelas Kasih dan Kerendahan HatiEksodus BaruEtika Keluarga KristianiFamiliaris ConsortioGaudete et ExsultateheadlineKasih yang SabarKekerasan Struktural dan ImanKekudusan dalam KerapuhanKekudusan KeluargaKekudusan Orang BiasaKekudusan Sehari-harikeluarga kudusKeluarga sebagai Gereja Rumah TanggaKeluarga sebagai Ruang DisermenKesetiaan MariaKetaatan YosefLiturgi Pesta Keluarga KudusLumen Gentiummaria yosefPanggilan Universal kepada KekudusanPenghormatan kepada Orang TuaPengungsian dan ImanSolidaritas Allah dengan yang TersingkirSpiritualitas KeluargaTeologi KekudusanTeologi KeluargaYesus dalam Ancaman Sejarah
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Natal Perdana di Gereja Ibu Teresa Cikarang, Cahaya dan Sejarah Baru
Next Article OSOJI
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Gembira Karena Ditemukan Tuhan
  • Paus Leo XIV: Prapaskah, Momen Menjaga Lisan Kita
  • Allah Menegur Orang yang Berpuasa Namun Menindas Orang Lain
  • Aku Mengetahui Rancangan-Rancangan bagi Kamu
  • Hanya Debulah Aku

Recent Comments

  1. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  2. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  3. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  4. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  5. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?