Kemarin saya mendengar kisah seorang OB kantor di Jakarta Utara. Setiap pagi ia berangkat pukul 05:00—kadang sesudah sholat subuh—dari Pamulang, naik motor sekitar dua jam agar pukul 07:00 sudah tiba: membuka pintu, bersih-bersih, menyalakan AC, menyiapkan minum sebelum karyawan berdatangan. Tetapi kemarin hujan dan banjir membuat perjalanan itu berubah menjadi perjuangan: menembus genangan dengan motor bebek, berjalan masuk ke air yang lebih dari sepinggang. Ia sampa.i di kantor setelah empat jam perjalanan.
Kisah ini “menancap” bukan dramanya, melainkan jawabannya ketika ditanya: mengapa mau berangkat sepagi itu, bertaruh badan, sementara tabungannya “hanya” bertambah sekitar 6 juta saat gajian? Ia berkata, “Saya lakukan agar orang di rumah bisa makan. Saya terlalu tua untuk pindah kerja, terlalu miskin untuk pensiun dini.” Usianya 45 tahun. Kalimat itu terdengar seperti ringkasan hidup banyak orang: bukan soal mimpi besar, tapi soal bertahan dengan harga diri.
Di situ saya teringat buku The Why of Work (Dave Ulrich). Ada kalimat yang sederhana tapi keras bunyinya: “It’s not just money. It’s meaning.” Ulrich juga menulis bahwa lewat kerja kita mencari “purpose, contribution, connection, value, and hope.” Dan pada OB itu, “meaning” tampak bukan sebagai jargon—melainkan sebagai tekad sunyi: berangkat pagi dan menembus banjir bagi orang lain, agar ia bisa pulang membawa kepastian untuk keluarganya.
Lalu pertanyaan Ikigai muncul: the reason to wake up in the morning. Apakah gedung kantor itu ikigainya—atau istri dan anak-anaknya? Jika ikigai adalah sesuatu yang memberi nilai dan sukacita pada hidup— mungkin orang-orang yang kita cintai, bisa juga pekerjaan yang kita lakukan. Mungkin kantor hanyalah jalannya, sementara “orang di rumah” adalah tujuannya. Dan barangkali refleksi paling jujur untuk kita: ketika ada orang menembus banjir demi membuat kantor kita berjalan normal, apakah kita masih menganggap pekerjaan tertentu “kecil” dan tidak berarti?
Wahyu P. Wibowo
Ikigai Coach
