Jumat, 13 Maret 2026
Bacaan I: Hos. 14:2–10
Injil: Mrk. 12:28b–34
Dalam perjalanan iman, manusia sering jatuh dalam ilusi bahwa relasi dengan Allah dapat digantikan oleh berbagai hal lain: kekuasaan, kemampuan diri, keberhasilan, atau bahkan praktik religius yang kosong. Nabi Hosea menyingkapkan realitas ini dengan sangat jujur. Ia mengajak umat Israel untuk kembali kepada Tuhan dengan pertobatan yang tulus: “Bawalah kata-kata penyesalan dan kembalilah kepada Tuhan.” Pertobatan yang dimaksud bukan sekadar perasaan bersalah, tetapi perubahan hati yang radikal—kembali menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah.
Hosea mengingatkan bahwa manusia sering bersandar pada hal-hal yang sebenarnya rapuh: kekuatan politik, keamanan manusiawi, atau berhala-berhala yang dibuat sendiri. Namun Allah berkata dengan penuh kelembutan: Ia akan menyembuhkan ketidaksetiaan umat-Nya dan mengasihi mereka dengan sukarela. Gambaran yang dipakai sangat indah: Israel akan bertunas seperti bunga bakung, berakar seperti pohon aras Libanon, dan harum seperti pohon zaitun. Artinya, ketika manusia kembali kepada Allah, kehidupan akan dipulihkan dari dalam.
Injil Markus membawa kita pada inti dari seluruh hukum Taurat. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: perintah manakah yang paling utama? Jawaban Yesus sangat jelas dan sekaligus radikal: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Yesus merangkum seluruh kehidupan religius dalam satu kata: kasih. Semua hukum, semua praktik keagamaan, semua ritual pada akhirnya diarahkan pada relasi kasih yang total dengan Allah dan yang nyata dalam kasih kepada sesama. Tanpa kasih, agama menjadi sekadar struktur kosong.
Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus sebenarnya memahami hal ini dengan sangat baik. Ia menyadari bahwa mengasihi Allah dan sesama jauh lebih penting daripada semua kurban bakaran dan persembahan. Karena itu Yesus berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”
Kalimat ini sangat menarik. Yesus tidak mengatakan bahwa ia sudah sepenuhnya berada dalam Kerajaan Allah, tetapi tidak jauh. Artinya, pemahaman intelektual saja belum cukup. Orang bisa mengetahui hukum kasih, bahkan mengaguminya, tetapi belum tentu sungguh menghidupinya.
Di sinilah refleksi ini menjadi sangat personal. Kita semua tahu bahwa inti iman adalah kasih. Kita sering mendengarnya dalam khotbah, doa, dan pembacaan Kitab Suci. Tetapi mengetahui belum berarti menghidupi. Kasih yang dimaksud oleh Yesus bukan perasaan sentimental, melainkan komitmen eksistensial: memberikan diri secara total kepada Allah dan kepada sesama.
Dalam perspektif Spiritualitas Ignasian, panggilan ini sangat selaras dengan prinsip dasar hidup manusia: manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Allah. Kasih kepada Allah tidak berhenti pada doa atau perasaan religius, tetapi terwujud dalam pilihan hidup yang konkret. Ignatius Loyola selalu menegaskan bahwa kasih harus lebih tampak dalam tindakan daripada dalam kata-kata.
Maka pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah relasi kita dengan Allah sungguh menjadi pusat hidup kita? Ataukah iman kita masih berada pada tingkat kebiasaan religius? Apakah kasih kepada sesama sungguh nyata dalam sikap kita—dalam cara kita memperlakukan orang lain, dalam cara kita bekerja, dalam cara kita menghadapi konflik?
Sering kali kita menemukan bahwa hati kita masih terbagi. Kita ingin mengasihi Allah, tetapi juga ingin mempertahankan ego kita. Kita ingin hidup benar, tetapi masih terikat pada berbagai kepentingan diri. Karena itu pesan Hosea menjadi sangat relevan: kembalilah kepada Tuhan. Pertobatan bukan sekadar langkah moral, tetapi sebuah gerakan kembali kepada sumber kehidupan.
Dalam keheningan doa, kita dapat bertanya seperti dalam latihan rohani Ignasian: Di mana dalam hidupku aku sungguh mengasihi Allah dengan sepenuh hati? Di mana aku masih menaruh “berhala-berhala” kecil yang menggantikan Tuhan? Dan bagaimana kasih kepada Allah itu nyata dalam relasiku dengan sesama?
Kasih adalah jalan menuju Kerajaan Allah. Tetapi kasih yang dimaksud oleh Yesus menuntut keterlibatan seluruh hidup: hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan.
Ketika kasih itu menjadi pusat hidup, iman tidak lagi terasa sebagai kewajiban. Ia berubah menjadi jalan kebebasan—jalan yang menuntun manusia semakin dekat kepada Allah yang penuh belas kasih.
Pertanyaan refleksi:
Apakah dalam hidupku kasih kepada Allah sungguh menjadi pusat dari semua pilihan dan tindakanku?
