30 Maret 2026
Yesaya 42:1–7 | Yohanes 12:1–11
Ada keheningan yang berbeda di Betania. Tidak ada sorak-sorai seperti di Yerusalem. Tidak ada keramaian yang penuh tuntutan. Yang ada hanyalah keakraban, kasih, dan keintiman. Yesus duduk makan bersama sahabat-sahabat-Nya—di rumah yang sederhana, tetapi penuh cinta.
Di situlah, Maria melakukan sesuatu yang tak biasa.
Ia mengambil minyak narwastu yang mahal, mengurapi kaki Yesus, lalu menyekanya dengan rambutnya. Tindakan ini begitu personal, begitu dalam, bahkan terasa “berlebihan” di mata orang lain. Yudas segera bereaksi—menghitung, menilai, mengkritik.
Namun Yesus melihat lebih jauh. Ia melihat hati.
Dalam bacaan dari kitab Yesaya, kita mendengar tentang sosok hamba Tuhan:
Ia tidak berteriak, tidak memadamkan sumbu yang pudar, tidak mematahkan buluh yang terkulai. Ia datang bukan dengan kekuatan yang mencolok, tetapi dengan kelembutan yang memulihkan.
Yesus adalah wajah dari hamba itu.
Dan Maria, dalam Injil hari ini, menangkap sesuatu yang tidak ditangkap oleh banyak orang: bahwa kasih tidak selalu rasional, tidak selalu efisien, tidak selalu bisa dihitung.
Kasih sejati selalu “berani berlebihan.”
Sering kali kita seperti Yudas.
Kita mengukur segala sesuatu: waktu, tenaga, bahkan kasih. Kita bertanya: “Apa gunanya?” “Apa hasilnya?” “Apakah ini layak?”
Kita hidup dalam logika untung-rugi, bahkan dalam relasi dengan Tuhan.
Namun Maria menunjukkan jalan lain. Ia tidak menghitung. Ia tidak menahan. Ia tidak takut terlihat bodoh. Ia hanya tahu satu hal: ia mengasihi.
Dan ia memberikan yang terbaik.
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dalam tindakan Maria: ia merendahkan diri sampai ke kaki Yesus. Tempat yang paling rendah. Tempat yang jarang dilihat orang.
Di situlah kasih menjadi nyata.
Yesus pun akan segera melakukan hal yang sama—membasuh kaki para murid-Nya. Ia tidak hanya menerima kasih, tetapi juga memberikan diri-Nya sepenuhnya.
Kasih selalu bergerak ke bawah.
Kasih selalu menjadi pelayanan.
Namun Injil hari ini juga menyimpan bayangan gelap.
Di tengah kehangatan Betania, rencana pembunuhan mulai disusun. Bukan hanya terhadap Yesus, tetapi juga terhadap Lazarus—karena kehadirannya menjadi tanda hidup yang mengganggu banyak orang.
Ternyata, terang selalu mengusik kegelapan.
Kasih selalu mengganggu kepentingan.
Mengikuti Yesus bukan tanpa risiko. Bahkan kasih yang tulus pun bisa disalahpahami, ditolak, atau diserang.
Maka hari ini, kita diajak masuk ke dalam dua pilihan hati:
Apakah kita akan menjadi seperti Yudas—yang melihat dengan kepala, tetapi kehilangan hati?
Ataukah kita berani menjadi seperti Maria—yang mungkin tidak sepenuhnya mengerti, tetapi mengasihi dengan total?
Bayangkan diri Anda berada di rumah Betania.
Anda melihat Maria berlutut di kaki Yesus.
Anda mencium aroma minyak narwastu yang memenuhi ruangan.
Anda merasakan keheningan yang dalam.
Lalu tanyakan dalam hati:
- Apa yang selama ini saya “tahan” dari Tuhan?
- Apakah saya memberi yang terbaik, atau hanya yang tersisa?
- Di mana saya dipanggil untuk mengasihi tanpa perhitungan?
Dan mungkin, dalam keheningan itu, Anda mendengar Yesus berkata:
“Berikanlah hati-Mu sepenuhnya.”
