Ekaristi telah dipersiapkan dan dilambangkan sebelum Yesus hidup dalam berbagai cara di dalam Perjanjian Lama.
Dalam Kitab Kejadian, imam Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur sebagai korban kepada Allah. Kemudian, dalam peristiwa Keluaran, seekor anak domba dikurbankan, yaitu anak domba Paskah. Lebih luas lagi, banyak korban dipersembahkan sebagai bagian dari perjanjian Allah dengan bangsa Israel. Selain itu, ada juga gambaran lain yang penting, yaitu (roti) manna yang diberikan Allah secara ajaib setiap hari kepada Bangsa Israel selama empat puluh tahun perjalanan mereka di padang gurun sebelum mencapai Tanah Terjanji. Semua latar belakang ini membantu kita memahami apa yang dilakukan Yesus ketika Ia menetapkan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir, malam sebelum Ia mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib.
Ekaristi adalah korban Anak Domba Paskah yang baru, yaitu Yesus Kristus sendiri. Korban ini dilambangkan melalui roti dan anggur, dan menjadi makanan harian bagi perjalanan kita menuju surga.
Dalam ritus liturgi Ekaristi, yang disebut sebagai sacramentum tantum, perayaan dimulai dengan roti dan anggur sebagai materi sakramen. Roti melambangkan makanan pokok yang memberi kekuatan jasmani. Seperti makan roti memberikan kekuatan fisik, demikian pula Ekaristi memberi kekuatan rohani. Selain itu, kita juga dapat merenungkan bagaimana roti dibuat. Banyak butir gandum digabungkan menjadi satu roti. Hal ini melambangkan bagaimana Ekaristi mempersatukan Gereja.
Anggur juga memiliki makna yang mendalam. Kitab Suci berbicara tentang anggur sebagai karunia Allah yang menggembirakan hati manusia, bila digunakan secara tepat. Sukacita dan manisnya anggur melambangkan sukacita dan kelembutan Roh Tuhan dalam diri kita. Sama seperti roti, anggur juga menggambarkan kesatuan dari banyak menjadi satu. Banyak buah anggur dihancurkan untuk menghasilkan satu anggur. Banyak orang dipersatukan dalam satu tubuh Kristus, yaitu Gereja.
Pada materi sakramen ini, yakni roti dan anggur, ditambahkan rumusan sakramental. Inilah kata-kata konsekrasi yang diucapkan oleh imam dalam Misa. Secara singkat, kata-kata tersebut adalah: “Inilah Tubuh-Ku” yang diucapkan di hadapan roti, dan “Inilah piala Darah-Ku” yang diucapkan di hadapan anggur. Setiap kata memiliki arti yang sangat penting. Kata-kata ini menandakan perubahan roti menjadi kehadiran nyata Tubuh Kristus secara sakramental, dan perubahan anggur menjadi kehadiran nyata Darah Kristus secara sakramental.
Perubahan ajaib ini disebut transubstansiasi, yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam kelas Aquinas 101 berikutnya. Untuk saat ini, cukup kita pahami bahwa melalui konsekrasi imam atas roti dan anggur, kita menerima kehadiran substansial Tubuh dan Darah Kristus, dan dengan demikian juga seluruh pribadi Kristus, yakni jiwa dan keilahian-Nya. Ekaristi adalah Kristus sepenuhnya yang hadir melalui tanda roti dan anggur.
Hanya uskup atau imam yang dapat mengkonsekrasi Ekaristi, karena hanya mereka yang telah ditahbiskan dan dipersatukan secara khusus dengan Kristus, sehingga dapat bertindak dalam pribadi Kristus sendiri. Melalui kuasa Tahbisan Suci, imam dan uskup mengucapkan kata-kata Kristus: “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah piala Darah-Ku.”
Konsekrasi Ekaristi, yaitu sacramentum tantum, menghadirkan kehadiran nyata Kristus. Kehadiran nyata ini merupakan tahap kedua dalam struktur sakramen, yang disebut res et sacramentum, yang kemudian membawa kita kepada tahap ketiga, yaitu rahmat akhir, res tantum. Rahmat Ekaristi ini adalah kekuatan rohani melalui persatuan dengan Kristus dan Gereja-Nya. Inilah penguatan kasih.
Kita kembali mengingat makna roti dan anggur dalam alam dan dalam sejarah keselamatan. Tanda roti dan anggur diubah untuk memberikan kepada kita Kristus sendiri sebagai makanan dan minuman bagi perjalanan hidup kita. Seperti yang diajarkan Kristus dalam Yohanes 6: “Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan Darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
Melalui santapan rohani ini, kita memperoleh kekuatan untuk terus berjalan dalam perjalanan hidup menuju surga. Jika kita jatuh dalam dosa ringan, Ekaristi mengampuni dosa-dosa tersebut dan mengembalikan kita ke jalan yang benar. Ekaristi mempersatukan kita dengan kasih dan ketaatan Kristus, serta memampukan kita mempersembahkan hidup kita sebagai korban rohani—memikul salib setiap hari dan melayani sesama setiap hari.
Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus secara sakramental sekarang, dan menjadi janji pasti bahwa kita akan bersama-Nya secara penuh di surga. Santo Thomas Aquinas menggambarkan Ekaristi dengan indah sebagai persahabatan. Ia mengatakan bahwa ciri khas persahabatan adalah hidup bersama dengan sahabat. Walaupun Kristus telah naik ke surga dua ribu tahun yang lalu, Ia tetap tinggal bersama kita dalam Ekaristi.
Orang dapat menerima rahmat Ekaristi dengan hadir secara fisik dan bekerja sama secara rohani dalam Misa. Mereka juga dapat memperoleh manfaat jika Kurban Misa dipersembahkan bagi mereka. Namun, bentuk partisipasi tertinggi dalam Ekaristi adalah menerima Komuni Kudus secara langsung, yaitu menerima hosti dan anggur yang telah dikonsekrasi, yang tampak seperti roti dan anggur, tetapi sesungguhnya adalah Tubuh dan Darah Kristus.
Namun, kita juga harus berhati-hati. Seperti diajarkan Santo Paulus dalam Surat Pertama kepada Jemaat Korintus, menerima Ekaristi secara fisik hanya bagi mereka yang telah dibaptis dan berada dalam persatuan rohani dengan Kristus dalam iman dan kasih. Sebaliknya, melakukan dosa berat berarti tidak setia kepada Kristus, sahabat kita. Maka, menerima Ekaristi dalam keadaan dosa berat justru menjadi dosa berat tambahan—seolah-olah mempermainkan sakramen kasih dan merusak persahabatan dengan Kristus.
Karena itu, jika kita melakukan dosa berat, kita harus terlebih dahulu menerima pengampunan dalam Sakramen Tobat. Namun ketika hubungan kita dengan Yesus sudah dipulihkan, sungguh luar biasa manfaat Ekaristi bagi kita. Yesus memperluas kehadiran-Nya yang berinkarnasi kepada kita, bukan hanya pada masa Ia berjalan di Tanah Suci dua ribu tahun yang lalu. Yesus, sahabat kita, hadir bagi kita sekarang dalam Ekaristi.
